HousingEstate, Jakarta - Housing-Estate.com – Direktur Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan bahwa kenaikan harga properti di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia. Ia memberikan gambaran, bila beli properti di Taiwan untuk balik modal butuh 64 tahun, sementara di Indonesia hanya 11 tahun. Kenapa bisa begitu? “Di Taiwan pemerintahnya punya bank tanah untuk dibangun hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Kalau ada rakyat yang mau jual tanah, jualnya ke pemerintah dengan harga yang telah ditentukan. Harga tanah dikendalikan pemerintah. “Kalau di sini bebas, ,mau naik berapa terserah,” jelasnya.

Ali menjamin investasi properti di Indonesia aman, tidak akan terjadi bubble. Pasalnya, kondisi bubble itu bisa terjadi jika harga properti sudah jauh melebihi harga pasarannya. Properti sebagai aset diperjual-belikan terus (derivatif) yang membuat nilainya tidak riel lagi. “Di Indonesia tidak seperti itu, jual beli properti masih dilakukan secara konvensional, tidak ditransaksikan secara derivatif,” katanya.

Menurutnya, cara mengecek harga properti sudah terlalu tinggi atau tidak tinggal melihat harga di secondary market melalui kantor-kantor broker  di sekitar kawasan yang propertinya akan dibeli. Kalau harga di secondary market untuk tipe yang sama lebih murah 20 persen dibandingkan yang ditawarkan developer, itu berarti harga dari developer terlalu tinggi. “Developernya “goreng” harga,” tegasnya. Kalaupun digoreng konsumen akan tetap dapat untung dari selisih kenaikan harga (gain) tapi menjualnya kembali butuh waktu lebih lama. Paling tidak tiga tahun. YI