HousingEstate, Jakarta - Housing-Estate.com – Aset tidak harus selalu sama artinya dengan uang walaupun nilai aset bisa dikonversi dengan uang. Disebut aset bila seiring perjalanan waktu nilainya juga meningkat. Untuk itu, uang di bank tidak bisa disebut sebagai aset karena imbal hasil menyimpan uang di bank tidak bisa melebihi nilai inflasi yang saat ini berkisar 7-8 persen. “Jadi dengan menyimpan uang di bank kita tidak bertambah kaya,” ujar Eko Endarto, Financial Planner dari Finansia Consulting (Jakarta).

Maka itu sebaiknya uang Anda dijadikan aset, dibelikan properti. Karena kenaikan nilainya di Indonesia rata-rata 12 persen/tahun. Bahkan di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) bisa 20-30 persen per tahun. Tuidak heran jika investasi properti paling diminati (56 persen) dibandingkan  investasi lain seperti paper asset (saham, giro, obligasi, dan lainnya). “Kita belum terbiasa berinvestasi paper asset karena hanya berupa kertas dengan nama kita tercantum di atasnya. Beda dengan properti kelihatan ujudnya, begitu pula emas.  Di Indonesia urutannya, investasi properti nomer satu, dan kedua investasi emas,” tambahnya.

Nah, jika Anda ingin investasi properti, menurut dia saat ini merupakan saat yang tepat. Pasalnya, developer dalam posisi wait and see, tidak berani menaikkan harga, menunggu pemerintahan baru terbentuk. Tapi setelah pemilu, dan presidennya diyakini bisa membawa perubahan untuk Indonesia yang lebih baik, ia memastikan harga properti akan naik signifikan. “Sekarang tinggal pilihan kita, apakah mau beli properti saat kondisi cooling down, atau nanti setelah ada kepastian politik,” katanya. YI