HousingEstate, Jakarta - Kamar mandi yang didesain terbuka lebih menyegarkan karena memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya.

Seorang arsitek muda Wendy Djuhara menawarkan membuat ruang shower di luar (outdoor shower) pada rumah tinggal seorang kliennya. Ia cukup memanfaatkan ruang sisa selebar 90 cm dan panjang 120 cm persis di sebelah kamar mandi. Ruang tanpa naungan atap itu hanya dibatasi dinding solid di salah satu sisi, dan kaca buram di bagian depan. “Ternyata mereka sangat menyukainya karena merasa lebih segar kalau mandi di luar,” kata arsitek jebolan Universitas Parahyangan Bandung (1994) itu.

Sirkulasi udara yang mengalir lancar dan masuknya sinar matahari yang cukup ke dalam ruang, adalah dua faktor penting untuk mencapai kamar mandi yang sehat. Kamar mandi akan selalu kering sehingga mencegah berbiaknya bateri. Konsep kamar mandi terbuka bisa menjadi salah satu kiat menciptakan kondisi itu.

Semiterbuka

Sebetulnya tidak sulit mengaplikasikan konsep ini pada rumah tinggal di lahan sempit atau di permukiman padat sekalipun. Terlebih dulu atur posisi kamar mandi supaya menempati sisi terluar bangunan, sehingga mudah mendapat sinar matahari dan langsung berhubungan dengan udara luar.

Konsep terbuka tidak harus berarti tanpa sekat sama sekali, tapi bisa semiterbuka. Kesan terbuka dapat dihadirkan lewat bukaan yang lebar. Misalnya, membuat jendela dari kaca atau menempatkan skylight, bukaan dari atas. Bisa juga sisakan sedikit ruang di kamar mandi tanpa dilindungi atap, atau dinding solid dibuat pendek sebatas privasi yang diinginkan.

“Kita butuh udara dan matahari tetap tembus ke dalam, tapi privasi tetap terjaga. Bisa dengan kaca buram atau diarahkan agar tidak mudah terlihat,” kata perempuan mungil yang aktif mengurusi bidang Sistem Informasi Arsitektur di Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) itu. 

Skylight di kamar mandi semiterbuka juga menciptakan efek lighting menarik

Skylight di kamar mandi semiterbuka juga menciptakan efek lighting menarik

Lansekap

Karena langsung berhubungan dengan ruang terbuka, konsep kamar mandi ini biasanya erat dengan kesan alami. Untuk menguatkannya pilihan material bisa diarahkan pada penggunaan batu-batu alam atau kayu.

Jika ingin bernostalgia mandi dengan gayung, Wendy menyarankan menghindari membuat bak mandi. Alasannya, jika lapisan waterproof pada area bak kurang baik, kemungkinan air merembes ke belakang dinding. Akibatnya bisa berjamur dan menjadi sumber penyakit. Sebaiknya tetap memakai air dari shower yang ditampung dalam ember atau wadah keramik agar lebih mudah dibersihkan dan dikeringkan kembali.

Untuk lahan yang cukup lapang, desain kamar mandi lebih cantik bila dilengkapi penataan lansekap. Misalnya, dikelilingi kelompok tanaman perdu, bunga-bungaan, atau pohon yang memiliki bentuk artistik. Tapi, Anda perlu hati-hati terhadap kemungkinan serangga hinggap atau bersarang di tanaman. “Sebaiknya dilihat dulu kondisi lingkungannya, karena bisa berbahaya dan mengganggu kenyamanan saat mandi,” lanjutnya. 

Paling Mahal

Meski ukurannya relatif kecil kamar mandi adalah bagian paling mahal dalam proses pembangunan rumah. Banyak biaya ekstra yang harus dikeluarkan. Di antaranya, perlakuan khusus yang diberikan pada area dinding dan lantai berupa lapisan antiair (waterproofing). Selain itu ada tambahan keramik untuk melapisi area dinding yang sering terkena air agar tidak lembab.

Sirkulasi udara di dalam kamar mandi tertutup juga perlu dibantu perangkat seperti exhaust fan. Biaya untuk perlengkapan sanitari seperti kloset, westafel, shower hingga bathtub juga termasuk mahal.

Sebagian orang kadang terlalu menghias kamar mandi, padahal yang lebih penting kepraktisannya. Pilih produk sanitari lokal yang tidak terlalu mahal dan mudah mencari suku cadangnya jika rusak. Pemakaian keramik untuk dinding bisa dikurangi hanya pada area basah seperti tempat shower, sementara dinding di area kering cukup diplester.

Agar lebih efisien dari segi biaya dan pengaturan pemipaan, untuk rumah kecil sebetulnya cukup dibuat satu kamar mandi untuk bersama. Desainnya dibuat dengan area shower, kloset, westafel terpisah-pisah dan memiliki pintu masing-masing. Dengan begitu setiap orang bisa mengakses secara bergantian. ”Dari segi biaya lebih efisien, mengatur pemipaannya juga tidak pusing,” terang Wendy. Halimatussadiyah