HousingEstate, Jakarta - Pemerintah kota Pontianak menggandeng Swedia untuk memanfaatkan sampah yang ada menjadi energi baru.

“Masalah sampah ini merupakan salah sutu permasalahan yang cukup krusial yang terus kita seriusi penangannya. Makanya kita menggandeng berbagai pihak untuk pengelolaannya,” kata kepala Bappeda kota Pontianak, Uray Indra Mulya di Pontianak, Selasa.

Dia menjelaskan, sebelumnya Pemerintah Kota Pontianak sudah melakukan perjanjian kerja untuk program Clean Development Mechanism (CDM), yang dicanangkan Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia dan Kementerian Pemukiman, Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Belanda dan ditandatangani pada 22 Februari 2005.

“Dalam program itu, implementasi proyek pembakaran metan di TPA Batulayang dapat menghasilkan pengurangan sekitar 1,5 juta ton ekuivalen CO2 selama berlangsungnya proyek itu,� tuturnya.

Tidak hanya itu, Kota Pontianak juga sebelumnya menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki mesin pengumpul dan pembakar gas di tempat pengelolaan sampah akhir (TPA) Batulayang yang merupakan hasil kerja sama dengan PT. Gikoko Kogyo Indonesia.

Kali ini, Pemkot Pontianak menggandeng pemerintah Swedia untuk merealisasikan program Clean and Green City untuk mengelola sampah menjadi energi listrik, bahkan bahan bakar untuk mesin kendaraan.

Sebelumnya, Wakil Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, kehadiran rombongan dari Swedia itu juga dalam rangka kerja sama pengolahan sampah serta air bersih.

“Jadi bagaimana cara mengolah sampah yang baik, pengaturan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menciptakan Kota Pontianak menjadi hijau dan bersih sehingga nyaman untuk bermukim,” tuturnya.

Dijelaskan Edi, bentuk kerja sama itu nantinya berupa pemberian masukan dari Pemerintah Kota Boras Swedia terkait dengan penanganan pengolahan sampah maupun air bersih.

“Jadi kita saling bertukar pikiran dan yang kita harapkan ada bantuan-bantuan dari pemerintah pusat bersinergi dengan Pemkot dalam penerapan Clean and Green Equator City ini,” katanya. Antara