Penemu ITC

“Mereka bilang, daripada you sekolah lagi, ikut kita aja,” ceritanya. Meskipun masuk ke SMG karena hubungan kekerabatan, Yan Mogi tidak lantas berleha-leha. Justru ia bekerja sangat keras, tidak memikirkan macam-macam dan betul-betul profesional. Jangan heran karirnya cepat melejit. Awal bekerja statusnya masih karyawan biasa dengan gaji Rp250.000/bulan. Tapi, setahun kemudian sudah dipercaya memimpin dua perusahaan real estate SMG: PT Widjaja Permai dan PT Sinar Mas Wisesa, cikal bakal PT Duta Pertiwi, anak perusahaan SMG yang kemudian khusus menangani properti.

Tiga tahun berikutnya menangani divisi real estate SMG yang mencakup PT Sinar Mas Wisesa, PT Sinar Mas Griya, PT Duta Pertiwi. Terakhir, menjadi managing director seluruh divisi real estate SMG yang membawahi sembilan perusahaan. Gajinya pun langsung melesat menjadi Rp25 juta di luar bonus dan lain-lain.

“Pertimbangan Pak Eka mempercayai saya pasti bukan karena kekerabatan, tapi karena pertimbangan profesional. Mereka tidak bodoh, mereka melihat kemampuan, kejujuran, kerja keras dan konstribusi saya,” kata penyuka fitness dan golf ini.

Selama empat tahun memimpin divisi real estate SMG, Yan Mogi sukses mengembangkan berbagai proyek perumahan, apartemen, dan ruko/rukan di seantero Jabodebatek, termasuk mewakili SMG sebagai direktur di PT Bumi Serpong Damai, pengembang Kota Mandiri BSD (sekarang BSD City). “Saya mengerjakan segala macam, sehingga berbagai proyek properti Sinar Mas benar-benar hasil tangan saya,” katanya.

Proyek paling fenomenal adalah ITC Mangga Dua, disusul sentra bahan bangunan, mal, apartemen dan hotel, semuanya di Mangga Dua. Selain itu juga ITC Roxy Mas dan ITC Cempaka Mas. Pembangunan ITC Cempaka Mas bahkan tidak mengalami banyak perubahan dari konsep Yan Mogi meskipun ia sudah keluar dari SMG. “Sayalah penemu konsep ITC yang belakangan menjadi trade mark properti komersial Grup Duta Pertiwi itu,” katanya (lihat “Kisah Lahirnya ITC”).

Jadi developer

Setelah delapan tahun di SMG, putra pasangan Karel Mogi dan Marie Nayoan ini merasa sudah waktunya mandiri. Modal dari penghasilan sebagai profesional di SMG sudah terkumpul, meskipun tidak terlalu banyak, pengalaman cukup, pendidikan dan jaringan juga memadai.

Akhirnya pada 1992 ia pun keluar dari SMG dan mendirikan PT Sumbermitra Realtindo (SMR). Ia tahu bisnis properti butuh modal besar. Karena itu ia menerima ajakan Iwan Tjahjadikarta, seorang pedagang hasil bumi yang suka jual beli tanah, untuk bermitra. “Dia bilang, Yan ambil tanah saya, nggak usah bayar, nanti kalau sudah (dikembangkan dan) laku baru bayar,” kisahnya tentang partner bisnisnya itu.

Proyek pertamanya rukan Mitra Krekot (18 unit) yang dibangun di atas tanah seluas 3.692 m2 di Jl H Samanhudi, Jakarta Pusat. Disusul rukan Pintu Air (19 unit) di atas areal 2.821 m2. Modal yang dirogohnya untuk kedua proyek itu sekitar Rp500 juta, semuanya kembali. Tak ada bantuan modal dari orang tua atau Eka Tjipta Wijaya. Sepanjang 1993 – 1997 ia membangun sembilan proyek properti komersil.

Kongsi Artha Graha

Krisis membuat SMR limbung. Tapi, saat mengonsolidasikan grup usahanya, Yan Mogi mendapat tawaran dari Grup Artha Graha (GAG) untuk menggarap proyek Sentra Bisnis Kelapa Gading (45 ha) yang terdiri dari ruko, perkantoran, perumahan dan Mal Artha Gading. Disusul Permata Senayan (17 ha) di Patal Senayan, Jakarta Selatan, yang terdiri dari town house, komplek ruko dan apartemen Senayan Residence. Di kedua proyek itu ia membawa bendera SMR.

Sementara atas nama pribadi ia juga bermitra menggarap sejumlah proyek yang mengalami kesulitan keuangan di Bandung (Margahayu Group), Depok (Kota Kembang Depok milik Grup Daksa), dan Balikpapan (Balikpapan Permai milik Sjahdeni Hendarman). Di tangannya berbagai proyek itu jalan dan laku.

Proyek perumahan Margahayu di Bandung misalnya, tadinya mau dijual Rp150.000/m2 saja tidak laku. Setelah diambilnya dan diubah menjadi Metro Trade Centre, mal dikeliling ruko itu pun laku. “Nggak pakai konsultan, hanya berdasarkan pengalaman. Saya datang, saya lihat, bikin konsep, jual dan laku,” katanya.

Ia juga membangun rumah sederhana (RS). Karena latar belakangnya lebih banyak di properti komersil, khusus RS ia menggandeng Preadi Ekarto dari Grup ISPI yang berpengalaman menggarap RS. Ini pun laku. “Selama menjadi ketua umum saya berhasil membangun 3.000 unit RS di berbagai lokasi,” kata mantan Ketua DPD REI DKI itu. Samsul A Nasution, Yoenazh K Azhar

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat.
atau
Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.

Laman: 1 2 3 4