Jadi, desain rumah sebenarnya tidak layak dibuat massal?

Bisa, jika diadakan pengkajian yang lebih luas dari sisi kota, tipe-tipe dan variasi-variasi tentang bangunan serta nilai-nilai sosialnya. Ini butuh pengetahuan psikologi. Tapi, sayangnya kita hanya bicara ekonomi. Dulu (rumah sederhana) paling kecil tipe 36, lalu turun jadi tipe 21. Nanti mungkin ada tipe 15 tanpa melihat dampak psikologisnya. Sekarang kalau dijejerkan, denah rumah sama semua walaupun tampilan luarnya bisa macam-macam. Kebutuhan orang tentang fleksibilitas ruang seperti apa, pengembangannya seperti apa, tidak dipikirkan.

Apa mungkin menggarap kebutuhan personal dalam proyek rumah massal?

Mungkin, kalau orientasinya pada kebutuhan konsumen. Nilai-nilainya harus interaktif. Sekarang kan sepihak, karena memang kebutuhannya besar. Orang butuh rumah, tanah mahal, peluang kerja hanya di kota besar. Problemnya di situ. Kebutuhan rumah dari pertambahan alami tidak cukup. Ada juga kesalahan kebijakan. Di Indonesia tanah diserahkan pada swasta. Mestinya tidak seperti itu karena tanah kan pemberian Tuhan, tidak bisa diproduksi.

Tertarik menggarap perumahan untuk developer?

Pernah dicoba di Yogya tapi tidak berhasil, karena saya selalu ingin tahu siapa yang tinggal di situ satu per satu. Saya tidak bisa mendesain tapi nggak tahu siapa yang mau tinggal. Itu seperti saya mau bikin baju tapi tidak tahu orangnya gemuk atau kurus. Atau seperti orang disuruh ngobatin tapi nggak tahu sakitnya apa. Saya harus ketemu orangnya, harus ngobrol. Rumah itu ikatan emosi dengan penghuninya harus kuat, sangat personal. Orang membangun rumah hanya satu dua kali dalam hidup. Rumah juga akan dihuni paling lama, akan menjadi akumulasi nilai-nilai, eksistensi pemiliknya, akan diwariskan, simbol keberhasilan dan lain-lain. Jadi, ini soal yang sangat serius. Bisa saja suatu saat rumah menjadi produk massal seperti di negara maju. Orang tidak lagi punya ikatan emosi dengan rumahnya. Tapi, dalam tradisi kita, gen kita masih butuh rumah sebagai identitas dan lain-lain itu.

Selain orang biasa, sebagian klien Eko dari kalangan seniman seperti Butet Kertaredjasa dan Sitok Srengenge. “Enaknya, mereka bisa menerima saran-saran saya. Tapi, tidak berarti (desainnya) ekomaniak. Saya cuma melihat yang mereka tidak lihat. Saya tawarkan penghargaan pada site, keunikan dan kedekatan emosinya. Dia mau ngecat warna apa terserah,” katanya.

Tapi, salah satu karya terbaik Eko adalah membangun kembali 65 rumah pasca gempa 2006 bersama masyarakat Ngibikan, Bantul-Yogyakarta, dalam tiga bulan. Menurutnya, selain ketahanan terhadap gempa, yang tidak kalah pentingnya pembangunan rumah itu juga  memenuhi nilai-nilai sosio-kultural. Dalam konteks tahan gempa, material apapun bisa dipakai asal konstruksinya benar. Dari situ bermula ketertarikannya mengeksplorasi bambu sebagai bahan bangunan.

Apakah bambu cukup kuat untuk membangun rumah mulai dari struktur hingga atap?

Bisa. Batasnya bukan pada bambunya tapi pada kreativitas kita, wawasan kita tentang bambu. Pengalaman empirik, penggunaan bambu secara tradisional, pemilihan material bambu dengan umur yang bagus, dan pemotongan yang tepat, membuat rumah mampu bertahan 75-100 tahun. Apakah 75 tahun itu masih kurang lama?

Bambu berkualitas bagus itu sekarang masih ada?

Masih, alamnya tidak berubah. Tapi, semuanya harus dipersiapkan. Hutan bambunya harus dipersiapkan untuk skala produksi. Harus ada toko yang menjual bambu. Kalau itu ada, pasti berkembang. Jenis tanah di Indonesia vulkanik semua. Itu membuat kandungan silika pada bambu di sini tinggi dan bagus.

Kesannya bambu tidak bergengsi, tidak ada nilai investasinya?

Gengsi itu kombinasi antara psikologis dan pengetahuan. Penilaian pada sesuatu harus otentik, punya integritas karena bambu punya karakteristik sendiri. Vila-vila di Bali memakai bambu. Muncul nilai-nilai baru. Misalnya, pro green pasti menghargai itu.

Masyarakat juga tidak mendapat sosialiasi tentang bangunan yang benar?

Tradisi membangun kita terancam. Sejarah dari luar tidak dipelajari dan tidak ada dokumentasinya. Di dalam kita tidak percaya diri dengan tradisi sendiri. Terputus, lupa. Rumah tradisional asli bertahan terhadap gempa, tapi rumah tradisional yang sudah dibuat modern, hancur. Bangunan itu harus utuh. Kita tidak bisa hanya ingin bentuknya tapi sistem strukturnya tidak benar. Kita menggunakan bahan modern, tapi tidak menguasai karakteristiknya. Jadi, kita mau modern masih jauh, mau balik lagi ke belakang sudah lupa. Kita di persimpangan jalan, krisis identitas.

Mungkin juga ilmu arsitektur tidak mengalir ke masyarakat?

Sebetulnya mengalir tapi kalah kuat, tidak seimbang. Ibaratnya, yang buang sampah 10 ribu, yang nyapu cuma tiga. Pemerintahnya juga tidak punya strategi. Rakyat tidak dipikirkan. Ilmunya sebetulnya bukan arsitektur tapi ilmu kehidupan supaya semua tersentuh. Masyarakat sudah memiliki pengetahuan, hanya perlu diberi ingatan teknis. Jadi, yang diperlukan sebenarnya teman ngobrol, yang ngasi tahu risiko dan lain-lain. Sebagai komunitas arsitek kan bisa sebagai teman, tidak harus dalam hubungan profesional-transaksional.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer)
atau
Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.

Laman: 1 2