HousingEstate, Jakarta - Pematangan lahan untuk pengembangan perumahan dengan melakukan cut and fill (pemangkasan dan pengisian) dapat membahayakan kondisi lingkungan. Cara yang sudah lazim dilakukan pengembang sebelum membangun perumahan ini dimaksudkan untuk mmendapatkan area datar sehingga pembangunannya lebih mudah dan rumah yang dihasilkan lebih banyak.

“Tapi proses cut and fill itu kerap kali merusak lahan yang imbasnya bukan hanya pada lokasi proyek bersangkutan melainkan bisa berkembang hingga ke lokasi di sekitarnya. Dampaknya bisa menyebabkan banjir, longsor, dan tanah amblas,” kata ujar Sapto Handoyo Sakti, Director of External Affairs The Nature Conservancy (TNC) Indonesia, sebuah LSM lingkungan, kepada housing-estate.com, pada acara Manajemen Risiko Bencana dan Perubahan Iklim di Jakarta, Kamis (19/6).

Menurut Sapto, area berkontur atau terasering kalau dimanfaatkan optimal justru menjadi nilai lebih perumahan. Selain nilai jualnya tinggi kondisi lingkungannya juga lebih natural dan terjaga. Kendati belum banyak, ujar Sapto, sudah ada beberapa perumahan skala besar di Tangerang Selatan yang mengembangkan kawasannya sesuai kontur lahannya.  “Mulai banyak pengembang yang aware, mereka menjual properti dengan mengikuti daya dukung alamnya. Ini saya lihat mulai diterapkan antara lain di Serpong dan Bintaro,” katanya.

Pengembangan perumahan di area terasering atau berkontur punya nilai jual tinggi

Pengembangan perumahan di area terasering atau berkontur punya nilai jual tinggi

Sapto mengajak kalangan pengembang untuk lebih bijaksana dan memikirkan dampak yang ditimbulkan dari pengembangan perumahannya. Tidak perlu menghentikan pembangunan, tetapi dengan rancangan yang matang dan tidak asal membangun, ditambah konsep ramah lingkungan, pengembangan perumahan justru bisa memperkuat ketahanan lingkungan.

Gondan Puti Renosari, Direktur Program Kelautan TNC Indonesia, mengingatkan pengembang agar dalam pengembangan proyek tidak berpikir jangka pendek. Masalah lingkungan muncul dalam jangka panjang, selain ada juga yang jangka pendek. “Jadi kalau dibilang bebas banjir bukan hanya saat ini, tapi bagaimana 10-20 tahun yang akan datang. Karena itu pembangunan tidak boleh merusak,” tandasnya. Yudis