HousingEstate, Jakarta - Penerapan green building butuh keseriusan dan komitmen kuat dari pemerintah. Merealisasikannya tidak bisa dengan jargon dan semangat musiman. Singapura, misalnya, berhasil merealisasikan green building melalui jalan cukup panjang. Negara ini membentuk Building and Construction Authority (BCA), sebuah lembaga di bawah Kementerian Pembangunan Nasional Singapura. BCA bertugas mengatur dan mengembangkan konstruksi bangunan  dengan misi membuat bangunan aman, berkualitas tinggi, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

“Sejak tahun 1980-2005 kita sudah mulai konservasi energi, tahun 2006 kita buat master plan pertama green building dan pemerintah menawarkan insentif 20 juta dollar AS selain 50 juta dollar AS dana untuk R&D, serta training intensif untuk industri,” ujar Jeffery Neng Kwei Sung, Centre Director BCA, Singapura, kepada housing-estate.com di Jakarta, awal pekan ini.

Tidak berhenti sampai di situ, tahun 2009 BCA menerbitkan master plan green building kedua.  Pemerintah Singapura juga menawarkan dana hingga 100 juta dollar AS untuk bonus bagi pemilik green building, selain insentif bagi gedung yang menerapkan standar energi sangat tinggi. Green Building Rating System yang diterbitkan BCA saat ini sudah diikuti oleh 15 negara dengan lebih dari 70 kota terdaftar.

“Di Singapura sendiri ada lebih dari 2.100 gedung yang sudah bersertifikat Green Mark Building, setara dengan 62 juta m2. Kelihatannya besar, tapi ini baru 25 persen dari seluruh gedung di Singapura. Targetnya, hingga tahun 2030 sebanyak 80 persen gedung di Singapura sudah green,” imbuhnya.

Gedung EDITT (Ecological Design in The Tropics) adalah salah satu gedung ramah lingkungan di negara kota itu. Gedung rancangan TR Hamzah & Yeang setinggi 26 lantai dibuat dengan material yang bisa di daur ulang. Selain itu di lokasi gedung ini akan dipasang panel surya yang dapat memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan listrik di gedung itu.

Konsep green building ini akan menjadi isu krusial masa depan mengingat tahun 2050  mendatang sebanyak 70 persen populasi dunia diproyeksikan akan tinggal di perkotaan. Gedung-gedung di perkotaan itu menggunakan 40 persen energi dan air secara global selain menghabiskan sepertiga sumber daya bumi. “Penerapan green building menaikkan biaya mulai 0-5 persen, tapi kita akan memeroleh efisiensi biaya setelah 3-6 tahun,” terang Jeffrey. Yudis