HousingEstate, Jakarta - Ada satu kegiatan rutin Baskoro Tedjo (56) di tengah kesibukannya menjadi dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan arsitek praktisi, yakni mengkliping berita. Almarhum ayahnya yang wartawan mengajarkan kebiasaan itu sejak kecil. “Le (sapaan anak dalam bahasa Jawa), kalau selesai baca koran jangan langsung dibuang, coba dikliping yang penting, itu kerjaan bapak selama 24 jam,” begitu ia menirukan pesan ayahnya.

Setelah sukses jadi arsitek, Bas tak meninggalkan kebiasaan menggunting lembaran berita dari koran dan majalah itu. Tanggal 27 Agustus–1 September lalu ia menggelar pameran “Clippings: My Works in Media” di Galeri Arsitektur ITB, menampilkan 40 artikel yang memuat hasil wawancara dan karyanya sejak tahun 2000 sepulang studi dari Jepang. “Karena saya sedikit narsis, jadi hanya menyimpan beritaberita yang memuat karya dan wawancara saya,” kata pria yang gemar menyanyi ini.

Puncak pameran adalah peluncuran buku monograf karya arsitektur Baskoro 1997–2012 berjudul Extending Sensibilities Through Design. Ia menulis sendiri buku setebal 126 halaman itu, mengulas proses mendesain dan ilustrasi metode perancangan dari 11 proyek rumah tinggal, 11 monumen publik, dan 10 sayembara desain. Di antara karyanya yang banyak diapresiasi adalah Selasar Sunaryo (Bandung), Soekarno Memorial Park (Blitar), Kalla Tower (Ujung Pandang), dan Campus Center ITB. Dalam perjalanan profesinya Bas mengaku banyak belajar dari seniornya, seperti arsitek Mohammad Danisworo yang mengenalkannya pada lembaga pemerintahan dan dunia internasional. Juniornya di ITB, arsitek Ridwan Kamil, memuji karya Bas yang selalu puitis dan mengajarkan tropikalitas.

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer)

atau

Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.