HousingEstate, Jakarta - Bicara tentang cat kayu, tidak mungkin tidak menyebut Propan. Ini perusahaan cat kayu lokal pertama di Indonesia sekaligus yang terbesar, bahkan di Asia Tenggara. Propan juga memiliki rangkaian cat kayu paling lengkap untuk berbagai peruntukan di dalam dan luar ruangan.

PT Propan Raya ICC (Industrial Coatings & Chemicals) didirikan Hendra Adidarma tahun 1979 dengan nama PD Propan Chemicals. Sampai kini ia menjadi direktur utamanya. Dimulai dengan pabrik sederhana di Jalan Kyai Tapa, Grogol (Jakarta Barat), dengan 10 karyawan dan produksi 10 ton/bulan, kini produksi Propan mencapai 45.000 ton/tahun.

Pria kelahiran Pemangkat, Pontianak- Kalimantan Barat, 1 September 1939, ini adalah doktor kimia lulusan Jerman (dulu Jerman Barat). Ia kuliah di Jerman setelah lulus dari jurusan kimia FMIPA Universitas Padjajaran (Bandung) tahun 1966. “Biayanya 400 deutschmark setahun. Orang tua membiayai 200 deutschmark, sisanya harus cari sendiri. Jadi, hari libur saya kerja untuk nutupin biaya kuliah,” katanya.

Begitu pulang ke Indonesia tahun 1973 ia bekerja dulu di sebuah perusahaan kimia. Semula tawaran kerja datang dari sebuah perusahaan Jerman. Tapi, karena hanya digaji Rp750 ribu ia menolaknya. “Masak orang Jerman dibayar tiga kali lipatnya, saya cuma segitu,” kata anak bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Akhirnya ia bekerja di divisi kimia sebuah perusahaan cat lokal yang mau menggajinya Rp1 juta. Satu setengah tahun di situ, berbekal penguasaan dan kecintaan terhadap bidang kimia, ia mendirikan perusahaan fiberglass dan kemudian cat.

Berikut petikan wawancara Yoenazh K Azhar, Yudiasis Iskandar, Hadi Prasojo, dan fotografer Susilo Waluyo dengan ayah dua anak itu di Karawaci, Tangerang-Banten, bulan lalu. Adi didampingi anak tertuanya Kris Rianto Adidarma, sarjana teknik kimia dan magister teknik managemen dari sebuah universitas di AS, yang sekarang menjadi Direktur Propan. Anak keduanya perempuan mengikuti suaminya di Shanghai, Cina.

Biodata:

Nama : DR Hendra Adidarma Dipl Chemiker

Tempat & Tanggal Lahir : Pemangkat, 1 September 1939

Pendidikan :

  1. Sarjana kimia FMIPA Universitas Padjajaran (Bandung) 1960 – 1966
  2. Dipl Chemiker, Faculty of Chemistry, Technical Hochscule Braunschweig, Wets Germany 1967 – 1970
  3. Doctor der Naturwissenschaf, Technical University of Stuttgart, Institute fur Textile Chemie, West Germany 1970 – 1973

Pengalaman kerja :

  1. Direktur PT Krypton Central Laboratories 1974 – 1976
  2. Pendiri dan Managing Director PT Induro Fibreglass 1975 – sekarang
  3. Pendiri dan Presiden Direktur PT Propan Raya ICC 1975 – sekarang

Bahasa yang dikuasai : Indonesia, Cina, Jerman, Inggris

Bagaimana Anda mendirikan Propan?

Setelah bekerja 1,5 tahun di sebuah perusahaan kimia sepulang dari Jerman tahun 1973, saya bikin perusahaan fiberglass, kerja sama dengan seorang teman. Fiberglass itu dipakai untuk bikin tangki air dan lain-lain. Setelah itu baru bikin perusahaan cat. Saya menguasai teknologinya. Pabrik pertamanya di atas tanah sewa 2.000 m2 di Grogol. Sederhana, pakai papan, karena seng mahal. Kita juga belum punya mesin, nggak sanggup beli dan lama (mendatangkannya dari Jerman). Saya pake gilingan tahu. Ternyata jalan dan catnya bisa diaplikasikan. Untuk mengaduk saya juga nggak punya mixer. Saya gunakan pengayuh sampan. Eh, jadi juga tuh. Saya tawarkan sendiri cat itu ke pabrikpabrik, kontraktor, dan toko-toko.

Waktu itu cat kayu dari melamin banyak digunakan untuk kabinet televisi. Kebanyakan pakai Nippon Paint (Jepang). Televisi saat itu masih pakai kabinet kayu kayak lemari. Saya dikenalin dengan salah satu agen televisi buatan Jepang itu. Saya bilang, saya (juga) bisa bikin (cat kayu untuk kabinet TV). Saya buatkan contoh. Bahan bakunya dari Jerman, kualitasnya bagus. Mereka sangat tertarik. Dari situ saya mulai suplai mereka. Dari kabinet televisi pasar saya meluas ke meja mesin jahit dan furniture. Awal tahun 1980- an keluar peraturan pemerintah yang melarang ekspor rotan mentah. Banyak berdiri pabrik mebel rotan, sampai-sampai Astra saja waktu itu punya pabrik rotan. Kita pun makin berkembang, karena paling siap dengan cat kayu. Nippon Paint, ICI Paint, Pacific Paint dan lain-lain lebih fokus ke cat tembok.

Waktu itu cat kayu dari melamin banyak digunakan untuk kabinet televisi. Kebanyakan pakai Nippon Paint (Jepang). Televisi saat itu masih pakai kabinet kayu kayak lemari. Saya dikenalin dengan salah satu agen televisi buatan Jepang itu. Saya bilang, saya (juga) bisa bikin (cat kayu untuk kabinet TV). Saya buatkan contoh. Bahan bakunya dari Jerman, kualitasnya bagus. Mereka sangat tertarik. Dari situ saya mulai suplai mereka. Dari kabinet televisi pasar saya meluas ke meja mesin jahit dan furniture. Awal tahun 1980- an keluar peraturan pemerintah yang melarang ekspor rotan mentah. Banyak berdiri pabrik mebel rotan, sampai-sampai Astra saja waktu itu punya pabrik rotan. Kita pun makin berkembang, karena paling siap dengan cat kayu. Nippon Paint, ICI Paint, Pacific Paint dan lain-lain lebih fokus ke cat tembok.

Bagaimana Anda membuat Propan dikenal lebih luas?

Waktu itu ada pameran industri kecil di Ancol. Saya sewa satu stand untuk mempromosikan cat kita dengan warna macammacam. Mereknya Impra. Kemasannya kaleng polos yang saya beri label hasil cetakan sendiri. Wah, orang sangat tertarik dengan cat kita, karena terbilang baru di Indonesia. Sebelumnya belum ada (cat kayu dengan aneka warna). Dari situ cat saya makin dikenal dan banyak dicari.

Saya sendiri sudah siap dengan respon pasar itu dengan membuka outlet penjualan dekat pabrik di Grogol. Sekarang sudah tidak ada. Gantinya saya buka Propan Service Center (PSC) di sebelahnya. Sehabis pameran banyak yang beli cat di situ. Banyak juga yang cari di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Dulu jalan itu pusat penjualan cat. Tapi, di situ cat kita belum ada. Sebelumnya saya sudah datang ke sebuah toko bangunan besar di Gajah Mada (sekarang pemilik supermarket bahan bangunan ternama di Indonesia, Red), menawarkan dia jadi agen karena kita belum mampu buka outlet di sana.

Tapi, si pedagang agak ngenyek produk kita. Dia bilang, kalengnya nggak menarik, mereknya nggak terkenal, bagaimana mau ngejual. Saya bilang, ya udah, titip juallah. Dia juga nggak mau. Alasannya, nggak ada tempat, tempat di sini mahal. Ya sudah, terima kasih. Tapi, setelah pameran di Ancol dia telepon. Eh, you punya cat, di sini banyak yang cari. Dia mau jadi agen, mendistribusikan produk kita ke toko-toko.

Jadi, sejak awal Anda juga sudah memikirkan pemasaran Propan?

Saya pakai intuisi saja. Kalau ada produk, kita pasti sudah tahu dibuat untuk apa dan siapa dan bagaimana menjualnya. Jadi, saya promosi, pameran, dan buka outlet. Masalahnya, waktu itu saya hanya mampu buka outlet di Grogol. Karena itu saya perlu bantuan toko-toko. Makanya saya datangi Jalan Gajah Mada. Setelah toko-toko mau menjualkan, saya bikinkan visualisasi berupa color card (kartu warna) dari kayu. Beda dengan Nippon Paint yang dicetak. Kartu warna itu saya bagikan ke toko-toko, juga ke kontraktor dan pabrik mebel. Dengan melihat kartu warna itu orang bisa lihat aplikasinya. Wah bagus, langsung beli. Kita cepat berkembang karena kualitas cat kita bagus dan waktu itu nggak ada saingan, paling Nippon Paint. Dia punya cat melamik, saya muncul dengan cat melamin. Tapi, saya punya kelebihan, warna cat saya lebih menarik. Jadi, waktu itu kita punya key success factor yang membuat kita cepat berkembang: produk, keahlian, situasi lingkungan, dan jaringan pemasaran. Kalau awalnya pemasaran masih terbatas di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, beberapa tahun kemudian sudah meluas ke kota-kota lain.

Hendra Adidarma 2

Kenapa memilih nama Impra?

Waktu itu agak susah cari nama. Saya ingat ada nama Impra di Jerman. Saya pikir nama itu cukup bagus. Jadi, saya pake dan daftarkan. Artinya tidak penting. Saya pikir nama bisa beken karena produknya. Buktinya, sekarang orang kalau mau cat kayu, bilangnya Impra. Berarti nama itu sudah masuk ke mind set mereka. Ultran (merek cat kayu Propan berikutnya, Red) juga begitu. Cat ini saya bikin waktu saya mau bangun rumah. Kayunya pakai kamper tapi saya mau kelihatan seperti jati. Akhirnya saya bikin Ultran Politur. Dengan cat itu kamper jadi kelihatan seperti jati. Kalau Impra saya bikin tahun 1974 (secara individual, Red), Ultran tahun 1975. Impra untuk furniture, rotan, dan kayu, Ultran untuk wood care. Jadi, positioning-nya jelas, satu untuk cat furnitur, satu untuk melindungi kayu. Belakangan setelah ikut kursus marketing Pak Hermawan (pakar marketing Hermawan Kertajaya, Red), saya tahu nama sebaiknya berkaitan dengan produknya, baru strong. Karena itu untuk produk yang dilansir belakangan kita pakai nama Propan.

Ada yang membantu Anda membesarkan Propan?

Biarpun doktor, apapun saya kerjakan sendiri. Saya juga belajar keuangan perusahaan. Saya kursus malam di UI tentang finance for non finance manager. Di situ saya belajar bagaimana bikin neraca, bikin cash flow, menghitung break even, dan lain-lain. Kalau ingat sekarang, kenapa saya memilih bikin perusahaan cat, jawabannya kayak main rolet. You jatuhnya di mana, ya di situlah (nasib Anda). Saya tidak bisa melupakan Lipo Mulia, pabrik yang bikin (rumah) mesin jahit. Mesinnya dari England. Saya dikenalin dan bikinkan cat kayu untuk mereka. Startnya dari situ. Jadi, sudah begitu nasibnya. Mungkin kalau tidak ketemu mereka, jatuh roletnya lain lagi sehingga nasib saya juga akan berbeda.

Sejak kapan Propan mulai pakai mesin?

Awal 1980. Ada bengkel di Palmerah, saya suruh mereka bikin mixer. Tapi, baru satu minggu mesinnya jebol. Akhirnya saya bikin sendiri, karena kalau nunggu (beli) dari Jerman, lama. Saya beli motor untuk mesinnya. Sampai hari ini semua mixer bikinan kita sendiri. Sekarang kita punya pabrik yang bikin mixer. Pabrik cat kita ada tiga di Tangerang, cabang 18 di kota-kota besar di seluruh Indonesia, ditambah di Malaysia dan Vietnam, PSC sekitar 20, dengan total karyawan 2.000 lebih. Hampir semua toko bangunan sudah menjual produk Propan.

Apa kiat Anda membesarkan Propan?

Inovasi. Dengan inovasi kita melahirkan produk berkualitas dan variatif sesuai kebutuhan. Contoh, dulu di Bali untuk politur orang hanya pakai cat politur biasa dari melamin. Itu nggak tahan. Dari situ saya ciptakan formulasi cat yang melindungi kayu, yang penampilannya natural, warnanya tahan lama. Sekarang di Bali semua orang pakai cat kita. Inovasi itu keunggulan kita. Karena itu produk sejenis dari luar negeri sulit masuk ke sini, tidak mampu bersaing dengan kita.

Inovasi itu didukung keahlian dan infrastruktur. Propan punya tiga laboratorium di Tangerang dan Surabaya. Dengan modal itu kita bisa bikin cat apa saja, tidak hanya cat kayu. Sekarang kita punya semua jenis cat, termasuk untuk lantai parket dari bambu dan batang kelapa. Ini inovasi. Perkembangan baru seperti munculnya bahan bangunan selain kayu membuat kita langsung berpikir, bagaimana menghadirkan cat yang bisa mendukungnya.

Inovasi Propan selalu didasarkan atas perkembangan kebutuhan dan situasi pasar. Karena itu Adi aktif mencermati perubahan pasar. “Kalau tidak aktif, perusahaan bisa mati,” katanya. Salah satu perubahan itu adalah makin berkurangnya penggunaan kayu dalam pembuatan rumah dan furniture, digantikan material lain seperti logam, fiber semen, gipsum, kayu laminasi, rotan sintetis, dan lain-lain. Perubahan itu berdampak terhadap konsumsi cat kayu.

Perkembangan lain adalah fluktuasi harga minyak bumi sebagai bahan asal bahan baku cat. “Tahun 1990-an harganya 28 dollar AS per barel, sekarang sudah mendekati 100 dollar, bahkan pernah mencapai 140 dollar. Bayangkan, bagaimana kita bisa jual cat kalau fluktuasi harga bahan bakunya seperti itu. Apa mungkin saat harga minyak bumi meningkat, harga cat juga kita naikkan?” tanyanya.

Karena itu sejak 5–6 tahun terakhir Propan memproduksi juga cat dekoratif, cat logam, cat keramik, cat batu alam, dan lain-lain. Sebutlah Decorflex, Decorlotus, Decorsafe, Decorshield, Syinthetic 2000 dan 3000, Primtop, Cerakote, Propane Stone Care, Ultraproof, cat alumunium, genteng, dan lain-lain. Jadi, sekarang propan punya semua jenis cat kendati yang dominan (70 persen) masih cat kayu.

“Cat tembok itu water based (berbasis air). Penggunaan bahan baku (dari turunan minyak bumi)-nya lebih kecil, pangsa pasarnya lebih besar. Pemakaian cat tembok 10 kali lebih banyak daripada cat kayu. Dengan perkembangan situasi saat ini, kalau hanya bermain di cat kayu, pasar kita akan mengecil,” katanya.

Menyusul berkembangnya isu lingkungan hidup, Propan juga menggunakan bahan baku yang lebih ramah lingkungan atau rendah penguapan kandungan senyawa organik (volatile organic compound/VOC)-nya. Bahkan, Propan sudah memiliki cat kayu dan genteng berbasis air. Salah satu produk cat itu mendapat sertifikasi Green Label dari Singapura.

Tidak takut bersaing dengan cat tembok dari merek lain yang sudah eksis?

Tidak, karena kita punya keahlian, pengalaman, dan infrastruktur yang kuat. Logo Propan berbentuk segitiga itu melambangkan ikatan karbon methanol, karbon ethanol, dan karbon prophanol yang membentuk struktur produk yang kuat. Jadi, kita bisa bikin cat apa saja dengan kualitas lebih bagus untuk berbagai segmen. Saat ini pangsa pasar cat dekoratif kita masih kecil. Tapi, sambutan pasar bagus yang membuat produsen cat lain takut.

Bagaimana persaingan cat saat ini?

Untuk cat kayu kita yang terbesar dan market leader. Cat kayu merek lain biasanya kuat pada produk-produk tertentu atau di daerah-daerah tertentu. Kalau cat logam, baik untuk segmen proyek maupun retail, leader-nya Nippon Paint dan Kansai. Produk lokal yang terkenal dari Pacific Paint, juga Kuda Terbang dengan cat logam sintetiknya.

Pangsa pasar Propan lebih banyak dimana?

Sekitar 60 persen di retail, sejak awal sudah fokus ke situ. Proyek lebih susah. Beda harga Rp50 saja orang sudah lari ke yang lain. Tapi, kita juga banyak memasarkan ke proyek-proyek gede seperti BSD City, Serpong-Tangerang. Bisnis cat masih sangat menjanjikan. Indonesia masih terus membangun. Semua butuh cat. Kita sangat siap melayani kebutuhan itu baik secara produk, suplai, maupun distribusi.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer)
atau
Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie