HousingEstate, Jakarta - Banyak cara membuat rumah tampil alami. Salah satunya dengan membiarkan dinding bangunannya dilapisi batu bata yang terekspos apa adanya tanpa ditutupi plesteran, acian, atau cat. Biasanya selain dinding, bata ekspos banyak diterapkan pada pagar. Untuk menampilkan aksen bata ekspos kita bisa menggunakan bata merah, bata press, atau bata yang memang dihadirkan untuk diekspos. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan berkaitan dengan kesan estetis yang dicuatkannya.

Berikut beberapa contohnya.

Bata Merah Konvensional

Bata dari tanah liat yang diproduksi dengan cara dibakar dan dicetak secara manual ini biasa digunakan sebagai konstruksi dinding. Lazimnya setelah terpasang bata dilapisi lagi dengan plesteran dan acian semen sebelum dicat. Karena diproduksi secara manual, kualitasnya sering tidak seragam dan mudah patah (getas). Selain itu bentuknya kurang rapi, kasar, dengan ukuran (panjang, lebar, tebal)-nya tidak konsisten.

Bila ingin menggunakan bata merah sebagai bata ekspos, pastikan Anda memilih bata berkualitas: padat, berat, presisi, keras dan halus, tidak mudah retak atau melendut. Ukuran yang mudah ditemui di pasaran 24 x 11,5 x 5,2 cm dan 23 x 11 x 5 cm (panjang x lebar x tebal). Harganya Rp425–450/buah. Untuk penampilan dinding yang betulbetul natural, bata konvensional bisa dipilih terutama untuk dinding interior. Untuk dinding eksterior kurang disarankan karena bata menyerap air.

Bata Press

bata press

Permukaan bata ini lebih halus dan rata dibanding bata merah konvensional karena diproduksi dengan mesin. Ukurannya lebih presisi dan konsisten dengan tingkat kepadatan dan kekerasan lebih baik. Jadi, ketika terpasang tampilannya benarbenar rapi. Kualitas tanah liat yang menjadi bahan bakunya juga sangat menentukan kualitas bata. Dengan berbagai kelebihan itu, bata press tahan lama untuk aplikasi bata ekspos. Tapi, karena bentuknya seragam (tipikal), saat terpasang susunan bata ekspos dari bata press terkesan lebih kaku dan kurang alami. Menurut Zul, pemilik toko Bata Tempel di Jl Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, yang menjual aneka jenis bata, untuk menyiasatinya pasang bata dengan kombinasi pola tertentu. “Misalnya, beberapa bata disusun horizontal, sebagian lagi vertikal, agar tampilan dinding tidak monoton,” katanya. Ukuran bata press antara lain 20 x 10 x 5 cm dengan harga sekitar Rp700/buah. Salah satu produk bata press adalah Bata Khosin.

Bata Bertekstur dan Berongga

bata berongga

Bagi yang menginginkan tampilan dinding atau pagar bata ekspos lebih cantik, bata bertekstur dan berongga layak dilirik. Jenis bata ini memang dirancang sebagai bata ekspos, seperti bata ekspos Star produksi PT Relife Realty Indonesia, developer sejumlah perumahan menengah di sekitar Jakarta (Bodetabek). Bata berukuran 20 x 10 x 5 cm ini memiliki tekstur seperti tali air di permukaannya, sedangkan di bagian tengah dibuatkan tiga rongga untuk sirkulasi udara. Ketika dipasang bata menghasilkan susunan yang unik. Bata bisa ditempel pada dinding yang sudah jadi (eksisting). Pemasangan bisa dalam posisi tidur, misalnya sebagai cover sekaligus pemanis tiang rumah. Bata Star hanya untuk aksen, bukan struktur dinding.

Bata Tempel

Bata Tempel Konvensional

Bata Tempel Konvensional

Bila tidak mau repot, gunakan bata tempel ekspos yang ketebalannya seperti keramik. Sekarang banyak diproduksi dengan warna terakota (cokelat), mulai dari bata tempel biasa sampai yang artifisial. Permukaan bata tempel tradisional (23 x 7 x 1 cm) cenderung kurang mulus dengan sisi-sisi kurang rata, sedangkan bata tempel mesin lebih licin, halus, rata, dengan ukuran dan tampilan presisi dan rapi. Harganya Rp60.000–70.000/ m2 (50 keping).

Bata Tempel Artifisial

Bata Tempel Artifisial

Bata tempel olahan mesin (24 x 5,2 x 1 cm) juga memiliki varian dengan permukaan kasar yang disebut bata sesek alias bata parut. Bata tempel dapat dipasang dengan nat (kurang lebih 6 mm) atau susun rapat (tanpa nat). Sementara bata tempel artifisial adalah bata hasil campuran tanah liat, semen, dan pigmen pewarna. Bata ini lebih tebal dan berat (20 x 6 x 3 cm). Ada juga bata siku untuk pojok bangunan atau tiang. Warna bata alam ini bervariasi, sekitar tujuh warna, yang memberi keleluasan untuk mengeksplorasi tampilan dinding. Harganya Rp115 ribu–125 ribu (permukaan kasar) dan Rp135 ribu–Rp150 ribu (permukaan poles halus) per m2.

 

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie