HousingEstate, Jakarta - Sektor properti di sepanjang tahun 2014 ini mengalami perlambatan dikarenakan banyak faktor seperti pelemahan ekonomi global, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), pelemahan kurs rupiah, kenaikan BBM, dan sebagainya. Memasuki tahun 2015, sektor properti disebut belum akan mengalami kenaikan seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun 2015 akan menjadi tahun konsolidasi bagi properti setelah sektor ini berlari kencang selama tiga tahun terakhir. Semoga pemerintah bisa memberikan stimulus ekonomi supaya dapat mendorong pertumbuhan sektor ini,” ujar Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), kepada housing-estate.com, Jumat (26/12).

Ali juga memperkirakan dampak dari BI Rate akan mulai terasa di semester kedua tahun 2015. Dengan begitu, memasuki tahun 2016 mestinya sektor properti bisa lebih baik karena situasi market recovery yang sudah terjadi selama periode 2014-2015. Untuk itu para pengembang harus lebih jeli melihat situasi pasar sebelum meluncurkan produknya.

“Ini seleksi alam, sektor properti sendiri nggak ada istilah mati. Hanya saja para pengembang harus lebih mematangkan rencana bisnis maupun ekspansi proyek yang akan dikerjakannya. Harus benar-benar meluncurkan proyek yang sesuai dengan permintaan pasar dan bukan karena latah semata,” tandasnya.