HousingEstate, Jakarta - Pada artikel sebelumnya kita telah membahas penggunaan GDP (Gross Domestic Product) sebagai ukuran kinerja perekonomian. Ketika GDP suatu negara pada tahun tertentu meningkat di banding tahun sebelumnya, maka perekonomian negara tersebut dikatakan mengalami pertumbuhan positif. Oleh karena itu ketika disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2008 mencapai 6,2%, maka yang dimaksudkan di sini adalah angka GDP kita tahun 2008 meningkat 6,2% dibandingkan tahun 2007. Semakin besar GDP suatu negara, mencerminkan semakin baiknya perekonomian negara tersebut.

GDP per kapita kita tahun 2008 adalah US$ 1.590. Sekarang kita telusur berapa GDP per kapita kita beberapa puluh tahun lalu. Tahun 1967 GDP per kapita kita sekitar US$ 190, tahun 1990 US$ 570, tahun 1993 US$ 740. Ini artinya, secara rata-rata penduduk Indonesia saat ini 8,4 kali lebih kaya dibanding tahun 1967 dulu. Dan dibanding tahun 1993, rata-rata penduduk Indonesia saat ini dua kali lebih kaya. Kenapa bisa demikian? Menggunakan konsep GDP, maka jawabannya adalah karena kita saat ini lebih produktif dibanding dahulu. Jumlah jam per hari di tahun 1967 sama saja dengan tahun 2008, akan tetapi apa yang mampu kita hasilkan dalam 24 jam saat ini telah meningkat pesat dibanding tahun 1967 lalu.

Untuk memberi gambaran riil kepada Anda, saya mewawancara mertua di Yogyakarta agar Beliau mengingat kembali harga-harga barang tahun 1970-an. Harga sepiring nasi dengan lauk ayam pada tahun 1970- an sekitar Rp5, sementara upah buruh rata-rata waktu itu sekitar Rp15 per hari. Artinya penghasilan per hari seorang pekerja buruh dapat dibelikan tiga piring nasi lauk ayam. Sekarang bandingkan dengan kondisi saat ini. Harga sepiring nasi ayam di Yogyakarta sekitar Rp5.000, sementara upah buruh per hari sekitar Rp40.000. Artinya, saat ini seorang buruh dapat membeli delapan piring nasi ayam. Pada contoh ini, selama kurun waktu 41 tahun (1967-2008) harga sepiring nasi plus lauk memang meningkat, seribu kali, tetapi upah buruh juga meningkat, lebih banyak, sekitar dua ribu enam ratus kali.

Hal yang sama juga berlaku untuk sebagian besar barang lainnya. Harga-harga barang dan jasa memang mengalami peningkatan, tetapi gaji atau penghasilan penduduk juga mengalami peningkatan dengan lebih cepat. Terlebih untuk penduduk yang bekerja dengan keahlian dan spesialisasi tertentu. Perkembangan teknologi informasi telah memungkinkan kita jauh lebih produktif dibanding masa lalu. Jumlah jam kerja yang kita habiskan untuk mendapatkan sesuatu barang, menurun drastis.

Atau, tidak usah kita terlalu jauh membandingkan saat ini dengan tahun 1970an. Pada awal tahun 1990- an yang lalu, Anda pasti terheran-heran jika berjumpa dengan orang yang sedang ber-hand phone di bus kota. Itu pasti akan jadi pemandangan aneh, karena pada masa itu hanya orang-orang yang sangat kaya saja yang mampu ber- hand phone-ria. Sekarang, sekitar lima belas tahun dari masa itu, ber-hand phone di dalam bus kota adalah hal yang lumrah. Bahkan boleh jadi seluruh penumpang bus kota termasuk sopir dan kenek mengantongi hand phone di sakunya.

Kita sudah lumayan panjang membahas tentang pertumbuhan ekonomi yang di-angka-kan dalam bentuk pertumbuhan GDP. Semoga ini bermanfaat bagi Anda sebagai penyanding pemahaman ketika sedang mengikuti perkembangan berbagai keadaan di dunia maupun di negeri ini, yang tentunya akan terkait dengan masalah perekonomian. Dan, bicara masalah perekonomian suatu negeri, maka angka pertumbuhan ekonomi kemungkinan besar akan menjadi salah satu indikator utama. Penggunaan angka GDP sebagai representasi tingkat kemajuan perekonomian suatu negara telah mendunia, di manapun negara di planet ini.

Sebagai penutup, saya ajak Anda untuk berpikir kritis, apakah iya seberapa majunya perekonomian kita benar-benar dapat diukur dengan GDP?

Jawabannya ‘ya’ dan ‘tidak’. Maksudnya, walaupun telah digunakan secara meluas, akan tetapi sebenarnya tidak semua pemikir setuju dengan penggunaan angka GDP ini. Apa yang sudah saya sampaikan adalah eksplanasi dari jawaban ‘ya’. Heru Narwanto

Sumber bacaan:

  1. N. Gregory Mankiw, 2003, Macroeconomics, 5th Ed., Worth Publishers
  2. Bill McKibben, 2007, Deep Economy- the Wealth of Communities and Durable Future, Holt Paperback
  3. Angka GDP Per Kapita tahun 1967, 1990, 1993 dikutip dari artikel Amy Hafid, dkk (WAHLI), 2000, “Addicted to Loan: World Bank Foot Prints in Indonesia”.