HousingEstate, Jakarta - Kakek itu tertawa mengherankan . Kemudian menonjok muka Larasati, mengejek, “Lihat itu, sekarang dia diam. Dia diam. Dia Nica!”.

Larasati berjuang keras untuk mendapatkan akal. Tak mendapatkan sesuatu jalan pun. Akhirnya berkata menghiba dengan nada menyerah kalah, “Kalau mau bunuh aku, bunuhlah. Tapi aku bukan Nica”.

“Nek! Bongkar itu kopor.”

Kopor yang tak terkunci itu dibuka oleh nenek. Dua lembar kain batik, empat lembar kebaya, dua lembar house-coat, beberapa lembar gaun, beberapa pakaian dalam yang setengah dekil kuning.

“Dalam tasnya itu!”.

Nenek mengeluarkan setengan merah dekil, sebatang sisir, gincu dan sekotak bedak murah. Kemudian empat lembar Ori dari limaratusan.

“Uang apa itu? Uang Merah? Jepang?” gertak kakek.

“Ori,” Larasati menyusulkan suaranya dengan hatihati.

Mata tua melotot kini pindah dari Larasati pada lembaran Ori. Tiba-tiba ia bertanya sambil menggedorkan tongkatnya. “Uang apa itu-Ori?”

Sekaligus Larasati dapat menangkap arti pertanyaan itu. Ori belum lagi banyak dikenal di daerah pendudukan. Memang baru dua hari dikeluarkan oleh Pemerintah Agung di Yogya. Dan keadaan ini yang dipergunakannya untuk menyelamatkan diri.

“Ori-Oeang Repoeblik Indonesia. Baru beberapa hari keluar. Pengganti uang Jepang. Uang Jepang tak laku lagi. Seratus Jepang untuk satu Ori.”

Tongkat itu jatuh ke lantai tanah, lengan kakek gemetar merampas lembaran-lembaran itu dari tangan nenek. Dibelainya lembaran-lembaran uang itu dengan gugup. Mata tuanya kehilangan pelototannya. Kini berkaca-kaca sayu. Ia ciumi uang itu, tenggelam dalam gelombang perasaan berlebih-lebihan. Selapisan ingus keluar dari hidungnya yang juga telah tua dan beberapa selaputan merekat lembaran uang itu. Ia lupa pada Larasati, pada nenek, pada segalanya.

Dengan suara menggigil ia bergumam seperti berdoa pada Tuhan: “Uang jaya! Jaya! Seratus Jepang, satu Republik, uang jaya.”

Itu adalah penggalan roman Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Larasati”. Sebuah Roman yang merekam golak revolusi pasca Proklamasi. Perhatikan reaksi kakek ketika menggenggam empat lembar uang Ori yang masing-masing bernilai limaratus itu. Reaksi dramatis seperti itu mungkin tidak akan pernah kita temui lagi di masa kini. Perasaan berkecamuk, gembira tak terkatakan, hanya demi melihat bangsanya telah resmi memiliki uang sendiri. Bukan “Uang Merah” atau “Uang Nica”, uang yang dikeluarkan kekuasaan Hindia- Belanda untuk menghadapi ORI – Oeang Repoeblik Indonesia. “Uang Jaya!” begitu almarhum Pramoedya menggambarkan kakek itu menyebut ORI yang ada digenggamannya. Kita tentu dapat menangkap, kakek itu memang gembira luar biasa karena suatu alasan, tetapi bukan karena alasan ingin memiliki.

Lebaran 2009. Sekitar 27,25 juta jiwa dari berbagai titik Indonesia Raya diperkirakan mudik ke kampung halaman masing-masing. Dari jumlah itu sekitar 16,25 juta menggunakan angkutan umum, sedangkan sekitar 11 juta menggunakan mobil atau motor pribadi.

Ingat kembali ORI kita tadi, “Uang Jaya”, kini telah beranak cucu menjadi uang yang sehari-hari kita pegang dan manfaatkan. Bayangkan ‘perjalanannya’ selama periode musim lebaran ini saja. Keluar dari brankas atau ATM bank, masuk ke dompet Anda. Sebagian beralih ke dompet istri Anda. Beralih ke dompet karyawati rumah tangga Anda. Beralih ke kasir supermarket. Beralih ke kasir toko pakaian. Beralih ke bengkel mobil. Dan sebagainya. Uang yang tadinya kaku dan wangi ketika keluar dari bank, kini mulai agak lemes dan apek menandakan jauhnya perjalanannya, beralih dari tempat satu ke tempat yang lain.

Kalau rata-rata setiap pemudik memiliki uang Rp1 juta, maka selama musim lebaran 2009 ini saja ada sekitar Rp27,25 triliun rupiah uang yang beredar ke seluruh penjuru nusantara mendampingi aktifitas para pemudik, beralih dari satu orang ke orang lain.

Kita patut berterimakasih pada orang-orang seperti kakek dalam roman Larasati tadi. Yang teramat amat sangat bangga bangsanya memiliki ORI-Oeang Repoeblik Indonesia. Bermodal kepercayaan dari masyarakatnya seperti itulah mata uang suatu negara bisa eksis dan mempunyai nilai. Dan syukurlah itu yang terjadi.

Kepercayaan masyarakat terhadap uang, yang menjadi syarat mutlak bagi perkembangan ekonomi yang sehat, menurut hemat saya, hanya dapat dipelihara sebaik-baiknya, apabila tugas itu diserahkan kepada suatu badan otonom, yakni bank sirkulasi. Ini adalah kalimat yang ditulis oleh Sjarifuddin Prawiranegara pada tahun 1951 menanggapi rencana pemerintah menasionalisasi De Javasche Bank. Dan memang mulai 1 Juli 1953 De Javache Bank dijadikan ‘Bank Indonesia’, bank sentral di dalam wilayah Republik Indonesia.

Bank inilah yang mengatur terjaminnya uang sekitar Rp27,25 triliun untuk keperluan pemudik pada masa lebaran kemarin beredar mencukupi di seluruh wilayah tanah air. Bank ini pula pada masa-masa tertentu dengan daya magnetnya akan menyedot uang yang beredar di masyarakat untuk sembunyi kembali di brankas bank. Itu jika uang beredar di masyarakat dirasa terlalu banyak sehingga berpotensi kenaikan harga barang jasa. Daya magnet tadi adalah suku bunga. Dan di saat lain ketika perekonomian lesu, konsumsi terlalu rendah, bank ini pula yang akan mengkondisikan agar uang kembali meningkat peredarannya di masyarakat.

Sekali lagi, kita patut berterimakasih pada orangorang seperti kakek dalam roman Larasati tadi. Karena tidak jauh dari kakek itu tinggal, dalam Roman Larasati itu, juga ada tokoh lain: tuan kolonel Surjo Sentono dan juga Mardjohan, kedua orang ini kaki tangan Hindia- Belanda, kedua orang ini tidak peduli “uang Merah” atau ORI, baginya mana yang menguntungkan untuk dirinya sendiri.

Seandainya kakek dalam roman itu hidup di masa sekarang, kemudian melihat saya memegang banyak dollar Amerika sebagai simpanan (karena takut rugi kalau rupiah melorot), maka mungkin dia akan meneriaki saya: “Uang apa itu? Kamu Nica!!!”. Diam-diam saya menilai diri saya sendiri: apa beda saya dengan Surjo Sentono!!…. Dengan Mardjohan!!. Heru Narwanto

Sumber bacaan:

  1. Pramudya Ananta Toer, 2009, Larasati (novel), Cetakan ke 4, Lentera Dipantara, Jakarta
  2. Sjarifuddin Prawiranegara, Nasionalisasi De Javasche Bank, pada Hadi Soesastro et al, 2005, Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir Buku I (1945-1959), Penerbit Kanisius, Yogyakarta