HousingEstate, Jakarta - Daerah di London Timur ini disukai penyelundup, pencopet, pencuri dan tunawisma. Itu dulu, kini Wapping  diburu bankir dan pengacara sebagai tempat tinggal. Peremajaan besar-besaran adalah yang membuat daerah di tepi utara Sungai Thames itu tidak lagi kumuh.

Wapping adalah satu sudut kota lawas di London yang sudah tumbuh sejak 1520. Tidak beda dengan kota tua, Wapping juga punya dermaga kecil dan dipenuhi dengan gudang-gudang tua. Bangunan kuno  yang usang diperbaiki dan beberapa dialihkan peruntukannya, menjadi lebih fungsional, seperti restoran dan apartemen. Yang menarik peremajaan kawasan ini juga melibatkan pihak swasta, sehingga tidak membebani keuangan daerah.

Makin diburu, bahkan kini termasuk hot property di London, sebab lokasi Wapping juga terhitung dekat dengan pusat bisnis ibukota Inggris itu. Tidak heran kalau harga properti di sini terus meningkat. Sejak 2005 hingga kini sudah meningkat 90 persen. Dari rata-rata seharga 325.801 Pound sterling (Rp 6,7 miliar) jadi 611.017 Pound atau Rp 12,6 miliar. Menurut data Savills, kenaikan harga itu lebih tinggi dari kenaikan harga rata-rata di seluruh London,  yang sebesar 81 persen, dari  525.223 Pound (Rp 10,8 miliar) jadi 818.000 Pound (Rp 16,83 miliar). Untuk properti yang berlokasi di area utama, dalam periode Juni 2010-Juni 2015, kenaikannya sebesar 46,3 persen. Sementara di London pada periode yang sama “cuma” naik 30,7 persen.

Karena itu pula, Wapping dilirik investor mancanegara. Menurut Scott West, sales manager Foxtons estate agents, sepertiga konsumen tersebut berasal dari luar negeri, baik London maupun Asia. “Terutama dari Tiongkok dan Singapura, yang seringkali hanya melihat sekilas atau tidak berkunjung sama sekali dan langsung beli,” terang West.

Diburu kelas atas

Sejatinya alih fungsi di Wapping jadi kawasan hunian sudah sejak 1970-an.  Beberapa pengembang saat itu terinspirasi dengan alih fungsi gudang jadi apartemen yang marak di New York. Salah satu gedung yang diubah adalah gudang the Oliver’s Wharf dan salah satu penghuninya adalah aktor Sir Alec Guinness yang bermain di film seri Star Wars. Apartemennya kini sedang dipasarkan seharga 3,89 juta dolar (Rp 51,77 miliar).

Stok rumah di Wapping didominasi oleh apartemen hasil alih fungsi. Hanya punya sedikit ruang terbuka hijau dan sekolah berstandar tinggi. Tidak heran, kalau kebanyakan pembelinya adalah para lajang atau pasangan muda yang bekerja di City (sebutan pusat kota London), Canary Wharf.

Banyak penduduk Wapping menilai kalau suasana lingkungannya serupa pedesaan, dengan beberapa kelompok toko dan kafe.  Beberapa sudut kini juga diisi oleh beberapa fasilitas kenyamanan khas kelas menengah atas. Seperti yang baru saja dibuka, Viajante, restoran milik chef Nuno Mendes dan sudah mendapat sertifikat Michelin, sertifikat untuk restoran yang direkomendasikan oleh chef dunia. Restoran ini mengambil beberapa ruang di Metropolitan Wharf, sebuah bangunan kuno bekas gedung teh.

Nick Capstick-Dale, pemilik pengembang Metropolitan Wharf, juga telah membeli Wapping Hydraulic Power Station. Bekas pembangkit listrik kawasan ini dibeli seharga 4,98 juta Pound (Rp 102 miliar) dan akan diubah jadi hotel butik. Gedung bergaya Victorian ini adalah salah satu gedung yang dibangun tahun 1815 dan masih baik kondisinya, meski sudah tidak beroperasi sejak 1960.

Gedung lain yang juga sudah dibeli pengembang adalah 21 Wapping Lane. Gedung tua ini diubah oleh Ballymore dan sekarang sudah siap huni. Penthouse-nya yang punya balkon dijual seharga 5,15 juta dolar AS (Rp 81,85 miliar).

Meski mereka ikut mengubah Wapping, tapi ada satu pengembang yang disebut-sebut telah mengubah wajak Wapping. Yaitu St George, anak usaha Berkeley Group yang akan membangun 1.800 unit rumah modern di lahan seluas 6 ha dan dilengkapi dengan aneka fasilitas, seperti  virtual golf suite, private screening room dan concierge service. Proyek yang diberi nama London Dock ini sudah dimulai sejak 2012 dan dibangun secara bertahap. Pada tahap awal sudah terbangun 200 unit dan 80 persen di antaranya sudah terjual dengan harga 1,39-3,58 juta dollar AS (Rp 18,5- 47,65 miliar). Proyek ini akan mulai dihuni tahun depan.

(Sumber: Wall Street Journal)