Taman mungil makin dibutuhkan karena rumah-rumah di perkotaan kian kecil.

HousingEstate, Jakarta - Ukuran rumah yang makin kecil di kotakota besar tidak menafikan keperluan akan taman. Taman dan ruang terbuka hijau tetap dibutuhkan bukan hanya untuk estetika tapi juga penurunan suhu mikro dan relaksasi. “Sekarang lagi tren rumah minimalis. Menyesuaikan dengan lahan yang sempit kita bisa buat taman yang minimalis juga,” kata Ferasanti, Lanscape Manager Triplus, perusahaan konsultan arsitek di Bintaro Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Landai

Menurutnya, taman mungil jangan dibuat berkontur tapi landai saja untuk memberi kesan luas. “Desainnya tidak banyak bentukan dan terlalu rimbun, nanti kesannya makin sempit. Tanamannya juga yang simpel dan praktis kendati tetap berstrata. Ada pohon, perdu, dan semak,” jelasnya.

Jenis

Untuk pohon, tanam sebatang dari jenis yang tajuknya tidak melebar tapi vertikal seperti Glodogan Tiang. Bisa juga jenis pucuk merah (oleina) dengan daun kecilkecil dan padat yang bisa kita bentuk menyerupai pohon cemara atau yang lain. Di sekitar pohon bisa ditambahi jenis bunga yang tahan sinar matahari seperti bogenvil, azalea, atau dari jenis semak.

Baik juga menanam pohon produktif seperti tanaman buah. Selain meneduhkan, buahnya bisa dinikmati. Hanya, perawatan tanaman produktif harus lebih seksama, belum risiko kerontokan buahnya. Pada rumah deret seperti terlihat pada rumah real estate, keberadaan tanaman tinggi di batas rumah berfungsi juga sebagai buffer antar rumah. Sebagai dasar taman bisa dipakai rumput atau ditambah sebaran batu-batu kecil.

Harga tanaman sangat bervariasi, tinggal pintar-pintar memilih dan menyesuaikan dengan budget. “Harga tanaman sangat relatif karena suka musiman. Kalau sebuah tanaman lagi musim, harganya mahal karena banyak yang nyari. Untuk rumput banyak jenisnya. Yang mudah dan murah cukup pakai rumput gajah,” kata Fera.

Perawatan

Taman kecil dengan jenis tanaman seperti tersebut di atas adalah taman minim perawatan. Yang utama penyiraman setiap hari “Dari pengalaman kami, sebaiknya menyiram sore hari karena air masih akan tersimpan sampai besok. Kalau disiram pagi, air cenderung menguap terkena cahaya matahari sehingga penyiraman kurang maksimal,” jelasnya. Agar rumput tetap bagus perlu sesering mungkin mencabuti rumput liar. Cabut sampai ke akar. Kalau digunting saja, rumput peliharaan yang akan kalah.

Pemupukan cukup sebulan sekali. Saat ini sudah banyak pupuk tabur yang praktis dan memudahkan. Disiram, disiangi, diberi pupuk berkala, akan membuat taman mungil menjadi oase di rumah. Kita bisa menambahkan tanaman dalam pot yang diletakkan di ruang keluarga atau ruang tamu. Menjelang sore keluarkan tanaman. Kalau dibiarkan akan menyerap oksigen di dalam rumah.

Kolam

Taman bisa ditambahi unsur air berupa kolam kecil. Cara paling gampang dengan membuat air terjun pada dinding dan menyediakan kolam penampung berdiameter 30 – 50 cm atau lebih kecil sesuai ukuran ruang. “Unsur air bagus untuk menurunkan suhu ruang, suara gemericiknya juga menenangkan,” kata Fera. Di kolam itu bisa dimasukkan ikan-ikan kecil dan tanaman air seperti melati air, tifa, lotus, dan papayungan. “Selain air terjun juga bisa dibuatkan green wall berupa tanaman rambat supaya dinding nggak (terkesan) terlalu masif,” ujarnya.

Jangan Dihabiskan

Lahan sisa di belakang rumah yang umumnya lebih kecil dibanding taman di depan jangan dihabiskan untuk perluasan bangunan. Sisakan untuk taman sehingga sirkulasi udara rumah lebih bagus karena di depan dan belakang ada taman dan ruang terbuka. Selain itu biasanya area taman yang menempel dengan teras depan diberi perkerasan demi meluaskan terasnya. “Sebisanya tetap difungsikan sebagai taman. Kalau harus diberi perkerasan, gunakan grassblock yang tengahnya bolong-bolong supaya tetap ada resapan dan bisa ditumbuhi rumput,” katanya.

Bila memiliki area samping untuk dibuat taman, sebaiknya tidak ditanami pohon karena umumnya area samping untuk akses keluar masuk. Patokan menanam pohon, di luasan 3–4 m kita bisa menanam pohon dengan diameter batang 15–20 cm. Perhitungkan pertumbuhan pohon. Jangan sampai begitu besar dianggap mengganggu, kemudian ditebang. “Pohon butuh waktu untuk tumbuh. Begitu jadi kemudian ditebang, kan sayang. Jadi perhitungkan sejak awal jenis pohonnya,” katanya.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.