HousingEstate, Jakarta - Sepanjang tahun ini sektor diperkirakan masih akan tertekan. Kendati demikian kondisinya akan berangsur membaik dipicu gencarnya pembangunan infrastruktur. Selain itu properti berada dalam siklus menanjak karena saat ini posisinya sudah di dasar selama lebih dua tahun. Kalangan konsultan properti memprediksi kebangkitan properti akan dipicu sektor ritel terutama pusat perbelanjaan. Setelah itu perumahan dan perkantoran akan mengikuti di belakangnya.

“Berdasarkan riset kami yang akan rebound duluan sektor ritel khususnya pusat perbelanjaan dan lebih khusus lagi ditopang oleh food and beverage (F&B) dan fashion. Ritel tahun ini dan ke depan masih akan bergairah dan ini bisa mendorong sektor properti yang lain,” ujar Anton Sitorus, Head of Research & Consultancy PT Savills Consultants Indonesia, sebuah perusahaan riset dan konsultan properti, di Jakarta, Rabu (11/5).

Salah satu faktor yang dapat mendorong perkembangan properti adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Selain itu Indonesia berada di peringkat empat sebagai negara yang warganya paling doyan berbelanja setelah Cina, Rusia, dan Jepang. Nilai nominal yang dibelanjakan orang Indonesia berada di urutan ketiga setelah Cina dan Amerika Serikat.

Paling potensial Jakarta di mana 40 persen warganya  merupakan kelas menengah dan 20 persen kelas atas. Mereka  umumnya menjadikan kegemaran berbelanja sebagai lifestyle. Tapi pertumbuhan pusat belanja di Jakarta untuk sementara terhenti karena Pemprov DKI melakukan moratorium pembangunan mal. Fasilitas untuk kalangan menengah dan menengah atas ini direm pertumbuhannya karena jumlahnya terlalu banyak dan memicu kemacetan. Untuk menyiasati  keadaan ini kalangan pengembang memilih membangun superblok dilengkapi pusat lifestyle berkonsep mini mall dan R&B.

Moratorium pembangunan mal ini berdampak positif terhadap mal yang sudah beroperasi. Menurut Rosaline Lie, Direktur Departemen Ritel Savills, seluruh sektor ritel manjadi lebih stabil, tingkat hunian dan kunjungan konsumen bagus. Karena itu sektor ritel di Jakarta diprediksi akan bangkit paling awal.  “Kompetisi ritel di Jakarta tidak seketat sektor lainnya. Selain itu daya beli masyarakatnya cukup tinggi dan ada tren gaya hidup berbelanja di kalangan orang berduit,” ujarnya.