HousingEstate, Jakarta - Tingkat keamanan pembangunan gedung tinggi di Jakarta cukup mengkahawatirkan. Hanya dalam sepekan terjadi kebakaran dua gedung apartemen yang masih dalam progres pembangunan. Pertama apartemen Casa Domaine di kompleks Kota BNI, Jakarta Pusat, yang terbakar di lantai 24 dan 25 pada Selasa (8/11). Kendati demikian keesokan harinya tetap dilakukan proses tutup atap (topping off). Kedua gedung Neo Soho di kompleks Podomoro City, Jakarta Barat, yang terbakar pada Rabu (9/11) malam. Kebakaran Neo Soho setinggi 40 lantai itu terjadi di lantai P9 kemudian menjalar hingga ke lantai tertinggi.

Belum ada penjelasan resmi penyebab kebakaran. Menurut Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Davy Sukamta, untuk memastikan kelayakan dan keamanan gedung yang terbakar harus dilakukan pemeriksaan dan investigasi teknik secara komprehensif. Pemeriksaan itu untuk mengetahui  suhu panas dari kebakarann tersebut. “Beton yang terkena panas akibat kebakaran mencapai suhu 300 derajat celcius kekuatannya akan turun,” ujar Davy kepada housing-estate.com di Jakarta, Kamis (10/11).

Sementara struktur besi beton yang mendapatkan paparan panas mencapai 600 derajat juga akan kehilangan kekuatannya. Karena itu agar keseluruhan bangunannya tetap aman beton yang terpapar panas hingga 300 derajat dengan durasi tertentu harus dikondisikan kembali. Davy menduga kebakaran pada gedung dalam tahap konstruksi kemungkinan yang terbesar karena kontraktornya lalai. Dia tidak mengindahkan program sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (K3) sesuai peraturan pemerintah (PP) No. 50 Tahun 2012. Kontraktor harus menjalankan pedoman ini sehingga proses pembangunan berjalan baik.

Dikatakan, api bisa menjalar lewat fasad karena mengunakan bahan mudah terbakar. Tapi apabila sistem deteksi kebakarannya berfungsi misalnya alatnya sensitif terhadap asap dan panas, ada sprinkle dengan air bertekanan, lokalisasi api dan pemadamannya lebih mudah.