HousingEstate, Jakarta - Dulu wilayah Karawang, Jawa Barat, merupakan kawasan lumbung padi nasional dengan hamparan sawahnya yang sangat luas. Seiring waktu, Karawang bertransformasi menjadi kawasan industri dengan ditunjang berbagai proyek properti, seperti perumahan, area komersial,  hotel, dll.

Salah satu pengembang besar yang ikut menggarap proyek properti di Karawang adalah Agung Podomoro Land (APL) dengan proyek Grand Taruma Karawang (48 ha). Menurut Assistant Vice President Strategic APL Agung Wiradjaya, wilayah Karawang akan menjadi salah satu unggulan proyek residensial yang dikembangkan APL.

“Perekonomian di Karawang terus bertumbuh dan ini menjadi potensi yang sangat baik untuk bisnis properti. Karena itu kami selaku pengembang pada tahun 2017 ini menempatkan Karawang sebagai salah satu unggulan proyek residensial APL selain Medan, Balikpapan, dan Batam,” ujarnya di Jakarta, Rabu (1/3).

Saat ini, lebih dari 90 persen rumah dan ruko di kompleks Grand Taruma Karawang sudah terjual dan sudah mulai dihuni. Pada tahun ini APL juga mulai menawarkan rumah kebun (garden house) selain akan mengembangkan lagi satu kawasan di dekat perumahan ini yang dinamakan Taruma City.

Berdeda dengan rumah cluster yang berbentuk deret dengan ukuran terbatas, rumah kebun memiliki ukuran tanah 300 m2 dengan bangunan terkecil mulai 38 m2. Konsumen bisa merancang sendiri  kebutuhan rumahnya sesuai kebutuhan maupun selera dan bisa mengembangkannya seiring dengan dana yang tersedia.

Agung juga mengklaim keberadaan Grand Taruma telah membuat harga tanah di sekitarnya merangkak naik. Saat proyek ini dikembangkan tahun 2011 harga tanah di sekitarnya naik dari Rp700 ribu/m2 menjadi Rp1,7 juta/m2. Saat ini setelah perumahannya kian mapan harga tanahnya makin tinggi.

Grand Taruma Karawang terdiri 9 cluster dan saat ini 8 cluster telah diserahterimakan mencakup 1.134 unit rumah 2 lantai seharga Rp1,2 -3,7 miliar (tipe 62/126-235/300). Cluster ke-9 ini dialokasikan untuk rumah kebun sebanyak 31 unit seharga Rp8 juta/m2 dengan berada paling depan.

“Saat ini Grand Taruma hanya menyisakan 99 unit rumah termasuk rumah kebun dan 8 unit ruko dari 320 unit ruko seharga Rp2-Rp5 miliar. Di sini ada sekitar 13 ribu perusahaan manufaktur dengan 900 ribu karyawan, ekspatriat Jepang juga banyak yang mengontrak di Grand Taruma dengan sewa Rp70-Rp80 juta/tahun. Kalau Jepang sudah masuk biasanya ekspatriat dari Eropa maupun Korea juga mengikuti,” imbuhnya.