HousingEstate, Jakarta - Saat ini pasar properti sangat berpihak pada konsumen (buyers market). Harga properti sudah cukup lama tidak bergerak alias stagnan, sehingga developer  banyak menawarkan insentif seperti diskon harga, DP 0 persen, bebas biaya KPR, free PPN dan BPHTB, dan lain-lain. Sementara bank penyalur KPR gencar menurunkan bunga KPR promo hingga di bawah 7-8 persen. Maka, sekarang saat yang tepat membeli rumah dengan fasilitas KPR.

Bagaimana supaya pengajuan KPR Anda disetujui bank? Ada baiknya anda menyimak tips berikut yang disarikan dari pengalaman Elya Ratna Sari, seorang marketing perumahan Pratama Residence, Jl Pedurenan III, Cidokom, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor (Jawa Barat), melayani konsumen yang membeli rumah dengan fasilitas KPR dalam beberapa tahun terakhir.

Pertama, pastikan Anda jujur dalam menyampaikan data penghasilan per bulan, surat keterangan kerja, alamat kantor, copy rekening tabungan tiga bulan terakhir dan lain-lain.

Kedua, pastikan penghasilan Anda seluruhnya dimasukkan dalam rekening tabungan pribadi setiap bulan, termasuk penghasilan tambahan seperti lembur atau dari side job (kalau ada), sebelum dipakai untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Dengan cara itu bank lebih mudah menganalisis kemampuan mencicil anda.

Ketiga, pastikan gaji yang ditransfer ke rekening tabungan Anda berasal dari rekening perusahaan, bukan rekening pribadi pemilik perusahaan. Pernah seorang  apoteker di Tangerang Selatan (Banten) bergaji Rp10 juta per bulan, tapi karena gajinya ditransfer dari rekening pemilik apotik, pengajuan KPR-nya tidak disetujui meskipun sepertiga penghasilannya cukup untuk mengangsur kredit rumah yang akan dibelinya.

Keempat, bila memiliki kartu kredit, kredit tanpa agunan (KTA) atau kredit lainnya, pastikan cicilan bulanannya selalu lancar (kolektibilitas kredit kategori 1). Di sebuah perumahan baru-baru ini, seorang Ibu yang ingin membelikan rumah untuk anaknya ditolak pengajuan KPR-nya hanya karena suaminya tidak membayar sisa kredit yang tinggal Rp3 juta tiga bulan lebih atau sudah tergolong kolektibilitas kredit kategori 3 yang dalam kamus bank sangat tidak bisa diterima.

Kelima, saat pengajuan KPR hingga  disetujui, bahkan sampai akad kredit, usahakan saldo utang di kartu kredit Rp0. Sering bank meminta utang di kartu kredit calon debitur dilunasi sebelum mengabulkan pengajuan KPR. Ada kejadian seorang konsumen yang KPR-nya sudah disetujui bank, sebelum meneken akad kredit sekian hari kemudian, dengan bersemangat mengambil KTA Rp20 juta. Ternyata beberapa saat sebelum meneken akad, bank kembali melakukan BI checking dan tahu calon debitur baru mengambil KTA. Akibatnya plafon KPR-nya yang sudah disetujui Rp180 juta dikurangi menjadi Rp120 juta. Itu artinya konsumen harus menambah uang muka Rp60 juta. Karena tidak mampu memenuhi tambahan uang muka itu, akhirnya dia urung membeli rumah.

Keenam, kalau pernah punya angsuran kredit lain dan saat mengajukan KPR sudah lunas, minta surat keterangan lunas dari krediturnya. Seringkali pihak bank menanyakan surat keterangan lunas itu setelah melakukan BI checking. Sama dengan kartu kredit dan kredit lain seperti kredit kendaraan bermotor, KTA pun sebaiknya sudah lunas saat mengajukan KPR kecuali sepertiga penghasilan setiap bulan masih mencukupi baik untuk membayar angsuran KPR maupun kredit lain yang sudah berjalan itu.