HousingEstate, Jakarta - Sebuah kawasan perkotaan mestinya memang tidak ekslusif untuk kalangan tertentu. Kota yang baik harus inklusif dan bisa menerima semua kalangan dari berbagai latar belakang. Beberapa kawasan yang pernah mengalami konflik karena perbedaan agama adalah Ambon di Provinsi Maluku awal tahun 2000-an.

Karena itu sangat tepat kalau di Kota Ambon dibuat kawasan Perkampungan Multietnis. Pengembangannya sekaligus menjadi program revitalisasi kawasan kumuh di Ambon dan untuk menunjukan kalau Ambon merupakan kota yang terbuka untuk semua kalangan dari semua agama dan etnis. Perkampungan Multietnis ini dibangun di atas lahan seluas 4,5 ha.

“Lokasinya di Laha, Kecamatan Teluk Ambon, tidak jauh dari Bandara Pattimura.  Nantinya di sini akan dibuat hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dari seluruh suku mulai Aceh hingga Papua dan semua agama,” kata Ismail Usemahu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Ambon, kepada wartawan yang mengikuti press tour Kemenpupera ke Kota Ambon, Kamis (5/10).

Perkampungan Multietnis itu, lanjutnya, salah satunya untuk menunjukan kalau Kota Ambon merupakan kota yang terbuka dan bisa menerima siapa saja dari berbagai kalangan. Di Perkampungan Multietnis ini selain perumahan, juga akan dibangun sarana ibadah untuk semua agama, balai warga, dan berbagai fasilitas sosial lainnya.

“Sekarang pembebasan lahannya sudah selesai dan sedang diusulkan ke pemerintah pusat (Kemenpupera) untuk dimasukan sebagai perumahan khusus, sehingga bisa mendapatkan fasilitas pembangunan. Perkampungan Multietnis ini akan menjadi kota tertoleran dan percontohan pertama di Indonesia,” ujarnya.