HousingEstate, Jakarta - Pemerintah melalui sinergi BUMN tengah mengembangkan banyak proyek hunian terintegrasi transportasi masal atau transit oriented development (TOD). Sudah lima proyek TOD yang mulai dibangun di stasiun kereta milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Yaitu di Tanjung Barat, Pondok Cina, Pasar Senen, Juanda, dan Tanah Abang, semuanya di jalur kereta komuter megapolitan Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Puluhan TOD lain akan menyusul.

TOD di berbagai stasiun itu akan mensuplai puluhan ribu unit apartemen komersial yang dijual seharga Rp15 juta/m2 atau mulai dari Rp330 juta/unit untuk tipe studio 22 m2. Dengan lokasi yang sangat strategis dan ditunjang dengan akses transportasi massal, apakah hunian TOD akan memengaruhi pemasaran apartemen komersial yang dikembangkan developer swasta? Sebagai contoh, TOD Stasiun Tanjung Barat di Jakarta Selatan berseberangan dengan proyek hunian terpadu Southgate yang dikembangkan Sinar Mas Land (SML). Di sini tipe terkecilnya (43 m2) ditawarkan Rp1,4 miliar atau Rp32 jutaan/m2.

Menurut Hendro Gondokusumo, pendiri sekaligus CEO PT Intiland Development Tbk, pengembang banyak apartemen di Jakarta dan Surabaya, kebutuhan hunian khususnya di kota besar seperti Jakarta masih sangat besar. Jadi, proyek hunian TOD yang digarap pemerintah itu tidak akan menganggu dan memengaruhi penjualan produk apartemen yang dikembangkan perusahaan swasta.

“Produk properti apapun yang ditawarkan tidak akan saling menganggu. Tinggal pintar-pintar kita mengembangkan konsep dan strategi lainnya. Jadi saya tidak melihat TOD pemerintah itu akan menjadi hambatan (proyek swasta). Apalagi, yang kita kembangkan berbeda terkait lokasi, segmen pasar, penyediaan fasilitas, dan lain-lain,” katanya kepada housing-estate.com di Jakarta, Jumat (13/10).

Di sisi lain pengembangan suatu kawasan yang baik, disebut Hendro memang harus memiliki keragaman untuk menjangkau segala segmen masyarakat. Karena itu strategi mendasar yang selalu menjadi landasan Intiland setiap kali meluncurkan produk, tidak pernah head to head bersaing dengan produk sejenis di kawasan yang sama.

Setiap produk yang dikembangkan harus berbeda dan menjadi pelengkap dari yang sebelumnya sudah ada di kawasan. Dengan begitu selalu ada pasar berbeda yang mencari properti sesuai dengan kebutuhannya, atau dengan kata lain setiap produk Intiland tidak ada yang direct fighting dengan produk sejenis di kawasan yang sama.

“Kalau properti menawarkan produk yang sama di satu kawasan, kalau yang satu gagal, pasti mengerek kita ikut gagal juga. Tapi kalau berbeda, itu membuat kawasan tersebut lebih lengkap. Karena itu kita selalu membuat sesuatu yang berbeda untuk memperkaya market yang sudah ada,” jelasnya.