HousingEstate, Jakarta - Perajin Indonesia sering diakui sebagai pembuat produk buatan tangan (handmade) yang kreatif. Dalam industri mebel untuk pasar internasional, perajin Indonesia terkenal sebagai tukang jahit yang andal. Ya, kebanyakan perajin kita saat ini baru sebatas mengerjakan produk  sesuai pesanan untuk memenuhi pasar ekspor, belum menciptakan desain sendiri.

Tapi, Forme, salah satu produsen furnitur lokal yang memiliki gerai di Jakarta dan pabrik di Semarang, Jawa Tengah, mencoba menembus pasar global dengan kerajinan lokal Indonesia yang didesain sendiri sejak 10 tahun silam. Forme bekerja sama dengan sekitar 100 perajin tetap dan lepasan untuk menjalankan produksi furniturnya yang kebanyakan berbahan dasar kayu.

Menjelang penghujung tahun ini, Forme meluncurkan produk terbaru yang berbahan aluminium berupa dua meja pendamping sofa bernama Log Cocktail Table dan Log Nesting Table.

Desain Log Nesting Table yang diciptakan Forme terdiri dari rangkaian tiga meja berbentuk seperti potongan bidang kayu bulat dengan tekstur yang khas. Daun meja dari bahan aluminium yang disemprot warna emas ditopang tiga kaki kurus dari besi berwarna hitam. Forme membanderolnya seharga Rp30 juta per set terdiri dari tiga unit.  

“Selain tembaga, kami mendapati bahwa aluminium termasuk kerajinan lokal yang harus dikembangkan, dan kami percaya bisa tetap eksis di dunia internasional,” kata Yani Susilowati, pemilik Forme, dalam Talkshow & Exhibition bertajuk “Your Home Your Stories” yang digelar di gerai Forme di Jakarta akhir pekan lalu.

Untuk memperkenalkan produk terbarunya, Forme berkolaborasi dengan Cita Nirvana, merek produk kain batik tulis dan tenun tradisional dalam kemasan motif modern, konsultan desain interior Havila, dan Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) untuk menyajikan ragam inspirasi interior untuk rumah tinggal di gerainya.

Desainer Civita Halim, pendiri Havila menggabungkan pemakaian batik untuk sarung bantal di atas sofa dan Log Nesting Table dalam salah satu instalasinya. “HDII sangat mendukung para desainer bertanggung jawab untuk bangsanya sendiri. Mereka mampu memproduksi dan membuat desain yang tidak kalah di kancah internasional. Sudah saatnya kita nggak cuma jadi tukang jahit. Bukan lagi bangga dengan Made in Indonesia, tapi harus Made by Indonesia. Yang bikin nanti bisa di negara mana saja, tapi desainnya oleh kita,” jelas Ketua HDII Lea Aviliani Aziz dalam talk show.