HousingEstate, Jakarta - Kenaikan harga besi beton selama sembilan bulan terakhir berimbas pada biaya konstruksi hunian. Yuyu Y Kasim, Business Development Director Langgeng Land, pengembangn apartemen Wismaya Residence, Jl Mayor Hasibuan, Kota Bekasi, Jawa Barat, menyebutkan, kenaikannya sejak kuartal tiga 2017 hingga saat ini mencapai 20 persen. Jika tren itu terus berlangsung, biaya produksi rumah dan apartemen bakal meningkat 15 persen.

“Agak berat karena untuk bangun apartemen butuh berton-ton besi beton,” katanya kepada housing-estate.com di Bekasi akhir pekan lalu. Material besi beton yang tidak bisa dibeli dalam kontrak jangka panjang juga memberatkan developer jika terjadi kenaikan harga. “Saat akan membangun baru beli. Tidak bisa seperti bahan bangunan lain yang bisa disimpan selama enam hingga sembilan bulan,” jelasnya.

Untuk menekan harga jual unit, Langgeng Land mengubah metode konstruksi dari teknologi precast concrete facade ke free-form fabricated formwork. “Kami tidak mengganti bahan bangunan, hanya mengubah cara kerja,” ujar Yuyu. Teknologi pracetak asal China itu memungkinkan beton basah dituangkan dan dipadatkan sehingga hasilnya sesuai desain profil cetakan.

“Sistem pracetak yang sudah ada di Indonesia baru untuk betonnya. Kalau teknologi ini lebih kepada pengerjaan strukturnya. Karena ringan, otomatis besinya juga khusus, lebih ringan, sehingga pemasangannya tidak perlu alat angkat yang berat, cost pun jauh lebih rendah,” urainya. Di China metode itu banyak dipakai untuk pembangunan rumah menengah ke bawah. Di Indonesia baru satu dua developer yang menerapkannya.

“Teknologi ini cocok untuk proyek yang sifatnya massal. Makanya proyek ratusan tower apartemen di Cikarang itu juga pakai (metode konstruksi ini). Bahkan, mereka klaim sehari bisa bangun empat lantai. Memang benar demikian,” kata Yuyu yang enggan menyebut langsung nama proyek besar tersebut.

Kendati Wismaya Residence hanya dua menara, bukan proyek massal, ia menilai metode itu tetap lebih efisien ketimbang sistem konstruksi konvensional. “Efisiensinya sekitar 15 persen. Karena itu kami bisa tekan harga jual,” ungkapnya. Februari nanti pihaknya akan berkunjung ke China untuk melihat proses kerja metode tersebut. “Maret alat dan cetakannya dikirim, April sudah bisa pakai teknologi itu untuk konstruksi up ground hingga lantai atas,” katanya.

Wismaya Residence terdiri dari 35 lantai mencakup 2.316 unit hunian. Tipe unitnya studio, studio deluxe, 1-3 kamar tidur (KT) seluas 21-65 m2 seharga Rp13 jutaan/m2. Paling laku tipe studio deluxe karena ukurannya 24 m2 yang diklaim tidak terlalu sempit untuk kaum muda. Serah terima unit ditargetkan bisa dimulai pertengahan 2019.