HousingEstate, Jakarta - Punya rumah, usaha sendiri, dan masa depan anak terjamin, merupakan tiga mimpi (aspirasi) utama kaum menengah ke atas di Indonesia. Setidaknya begitulah hasil survei sebuah bank asing di Indonesia terhadap sejumlah responden berusia 22–49 tahun dengan penghasilan Rp100–350 juta/tahun di Jakarta (60 persen) dan Surabaya (40 persen) beberapa tahun lalu.

“Sembilan dari 10 responden bermimpi meningkatkan kemapanan hidup mereka. Indikator kemapanan itu adalah punya rumah sendiri (disebut oleh 9 dari 10 responden), memiliki usaha sendiri (7 dari 10 responden), dan masa depan anak terjamin (6 dari 10 responden),” kata seorang eksekutif bank tersebut pada waktu itu (sekarang sudah pindah ke bank lain).

Untuk mewujudkan ketiga mimpi itu tentu saja diperlukan modal finansial berupa uang muka rumah, modal awal usaha, dan tabungan pendidikan anak.

Anehnya, banyak dari kalangan emerging affluent itu (sekitar 44 persen) mengaku belum siap mewujudkannya dengan berbagai alasan, yang pada intinya bermuara pada ketidakmampuan merumuskan prioritas kebutuhan.

“Mereka tidak pandai membedakan keinginan dengan kebutuhan dan tidak disiplin menabung. Life style seperti keinginan memiliki gadget atau kendaraan baru dan hangout sering lebih didahulukan,” ujarnya dalam diskusi yang juga menghadirkan artis Daniel Mananta dan Kepala Riset dan Konsultasi Savills Indonesia Anton Sitorus itu.

Dan, itu bukan bualan. Kita bisa melihatnya dalam pertumbuhan kepemilikan ponsel dan kendaraan bermotor yang jauh melampaui pertumbuhan penyaluran kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA).

Kepemilikan ponsel misalnya, mencapai 300 jutaan unit, jauh melampaui jumlah penduduk. Sementara penjualan mobil mencapai satu juta lebih per tahun, sedangkan sepeda motor 6–7 juta unit.

Bandingkan dengan penjualan rumah (subsidi dan komersial) yang hanya 300–400 ribuan unit per tahun. Jangan heran akumulasi kekurangan pembangunan (backlog) rumah sulit bergeser dari angka 11–13 jutaan unit, dan rasio penyaluran KPR/KPA terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia relatif tetap di angka 3–3,5 persen dibanding di negara lain yang sudah di atas 10–20 persenan.

Mendisiplinkan

Karena itu bank-bank pun menawarkan tabungan perumahan untuk membantu nasabah agar bisa segera punya rumah sendiri. HSBC Indonesia misalnya, merilis HSBC Home Ownership Plan (HHOP) untuk membantu nasabah memulai persiapan memiliki rumah. Dengan HHOP, nasabah menabung sedikitnya Rp3,5 juta/bulan di HSBC selama dua tahun untuk mengumpulkan DP rumah.

Berbekal tabungan itu kelak nasabah bisa mendapatkan KPR senilai maksimal 100 kali dari nilai tabungan bulanan plus kredit renovasi hingga Rp250 juta, serta benefit lain yang memungkinkan mereka tetap bisa memenuhi gaya hidupnya seperti kartu kredit, voucher belanja dan tiket nonton bioskop gratis setiap bulan. Dengan menabung di bank, nasabah dipaksa disiplin menyisihkan sebagian penghasilannya untuk persiapan membeli rumah.

Sementara untuk membantu nasabah membuka usaha sendiri dan memberikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya, HSBC menawarkan HSBC Advance Children Education Plan dan HSBC Advance Business Start Up, yang masing-masing menyediakan pinjaman hingga Rp250 juta, ditambah dukungan dana siap pakai hingga 90 persen dari nilai deposito (untuk HSBC Advance Business Start Up).

Lebih aman

Tentu saja HSBC bukan yang pertama. Awal 2015 Bank BTN sudah memperkenalkan Tabungan BTN Perumahan (TBP) dengan setoran awal Rp2 juta dan setoran selanjutnya minimal Rp100 ribu/bulan. Setoran bulanan akan dipotong langsung dari tabungan lain nasabah di Bank BTN. Tabungan hanya bisa ditarik secara manual dan dibatasi nilainya. Sebagai imbalannya, nasabah menerima bunga tabungan yang lebih tinggi dan kemudahan mendapatkan KPR BTN.

Menurut Direktur Utama Bank BTN Maryono, dengan TBP dilanjutkan dengan mengambil KPR/KPA, pembelian rumah menjadi lebih aman. “Membeli rumah secara tunai atau tunai bertahap itu berisiko. Kalau pengembang wanprestasi, uang yang sudah disetor bisa tidak kembali,” katanya.

Produk serupa (bundling tabungan dengan KPR/KPA) dilansir Bank Hana dengan nama Future Mortgage Saving (FMS). Periode FMS dipatok minimal tiga tahun (36 bulan) dengan setoran awal paling sedikit Rp100 ribu. Setoran bulanan terserah nasabah, tapi harus disepakati sejak awal, misalnya Rp1 juta.

Bank akan mendebit otomatis setoran bulanan itu dari tabungan lain nasabah di Bank Hana. Kalau setoran gagal didebet atau nilainya kurang dari yang disepakati di awal sebanyak maksimal tiga kali, rekening langsung ditutup dan dananya dialihkan ke rekening tabungan lain milik nasabah di Bank Hana itu.

Kompensasi tabungan FMS, nasabah mendapat bunga tabungan yang lebih tinggi dan peluang mendapat KPR Bank Hana dengan bunga lebih rendah senilai maksimal 250 kali setoran bulanan tabungan.

Ada juga Permata Proteksi Masa Depan (PPMD) dari PermataBank yang konsepnya juga sama, tapi skema dan periodenya bisa dipilih sesuai kemampuan. Misalnya, lima tahun dengan setoran awal Rp16 juta, setoran bulanan Rp300 ribu yang didebet langsung dari tabungan lain nasabah di Bank Permata. Atau, sebaliknya setoran awal kecil, setoran bulanan besar.

“Orang beli rumah harus disiplin saving, minimal untuk depe. PPMD membantu disiplin itu. Produk semacam deposito tapi dengan dana disetor bertahap ini bisa dipakai untuk menyiapkan depe rumah,” kata Dewi Damajanti Widjaja, Senior Vice President, Head Mortgage VC PermataBank. Masih ada beberapa bank lain yang juga menawarkan produk tabungan uang muka rumah seperti Bank Artha Graha.