HousingEstate, Jakarta - Rumah adalah pengeluaran pribadi terbesar seseorang selama hidupnya. Sebab itu wajar kalau untuk mendapatkannya diperlukan upaya ekstra, bukan hanya dari sisi dana tapi juga waktu dan tenaga.

Mengutip Dolf de Roos, pakar real estate dari Amerika Serikat (AS), untuk mendapatkan rumah yang cocok, orang harus melihat 100 rumah, memilih 10 di antaranya, mengerucutkannya jadi tiga sebelum memutuskan membeli salah satu.

Dari sisi dana, membeli rumah juga harus direncanakan dengan seksama termasuk menyiapkan uang muka atau down payment (DP)-nya dengan menabung sejak dini.

Nah, gaya hidup sering menjadi kendala orang menabung. Akibat gaya hidup, orang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan orang yang bila tidak terpenuhi bisa mengganggu kelangsungan hidupnya. Sedangkan keinginan adalah hasrat atau perluasan kebutuhan yang jika tak terpenuhi tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidup seseorang. Makan adalah kebutuhan. Tapi, makan di restoran adalah keinginan.

Kendaraan, hangout dan gadget mungkin memang sudah menjadi kebutuhan orang terutama di kota-kota selain makan-minum, pakaian, kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal. Tapi, traveling atau kongkow di tempat-tempat favorit dan gadget yang harus selalu nge-tren selain kendaraan adalah keinginan, bukan kebutuhan.

“Kalau hasrat atau keinginan yang lebih didahulukan, kita tidak akan pernah bisa menabung. Bila tidak disiplin menabung, punya rumah hanya akan tinggal mimpi,” kata artis Daniel Mananta dalam sebuah acara yang diadakan bank asing di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurutnya, supaya bisa menabung, strategi perlu diubah. Kalau biasanya kita menabung sisa pendapatan setiap bulan, sekarang dibalik. Mengambil dulu misalnya 20–30 persen dari penghasilan untuk ditabung, baru menghabiskan sisanya untuk pengeluaran bulanan.

Agar disiplin melakukannya, produk tabungan rumah yang ditawarkan bank-bank layak diambil. Dengan produk itu, sekian persen dari penghasilan tiap bulan langsung didebit ke tabungan sehingga dalam beberapa tahun depe rumah pun tersedia.

DP rumah pertama lazimnya 10–15 persen dari harga jualnya. Jadi, untuk rumah seharga Rp500 juta, DP-nya Rp50–75 juta ditambah biaya kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) sekitar lima persen, menjadi Rp75–100 juta.

Itu berarti kalau anda ingin memiliki rumah itu tiga tahun kemudian, dengan asumsi DP-nya 15 persen dan kenaikan harga rumah rata-rata 10 persen per tahun, anda harus menabung DP+biaya KPR sejak sekarang minimal Rp2,7 juta/bulan.

Menurut Anton Sitorus, Kepala Riset dan Konsultasi perusahaan konsultan properti Savills Indonesia, saat ini timing yang tepat mewujudkan pembelian rumah karena pasar sedang lesu, developer dan bank banyak menawarkan insentif seperti diskon harga, bunga rendah, bebas biaya, DP ringan dan bisa dicicil, dan lain-lain.

Pemilihan rumah tinggal disesuaikan dengan preferensi masing-masing. Misalnya, yang dekat tempat kerja, yang di sekitarnya banyak fasilitas, atau yang paling mudah mencapai pusat-pusat kegiatan.

Selain itu perumahan-perumahan favorit yang selama ini hanya menawarkan rumah-rumah berukuran sedang dan besar, kini banyak melansir rumah-rumah kecil dengan harga lebih terjangkau. “Nanti kalau pasar mulai pulih, harga rumah pasti melesat dan rumah-rumah kecil itu tidak ditawarkan lagi,” katanya.

Ia menambahkan, harga rumah di perkotaan meningkat rata-rata 10–20 persen per tahun, mengalahkan kecepatan kenaikan pendapatan konsumen. “Kalau tidak disiplin menabung sejak dini, anda akan makin sulit punya rumah sendiri,” ujar Anton.

Daniel mendukung pendapat itu. “Punya rumah sendiri harus direncanakan dengan menabung sejak dini di bank atau dalam bentuk lain. Supaya bisa menabung, gaya hidup juga harus disesuaikan dengan penghasilan,” katanya.

Ia sendiri mengaku tadinya juga orang yang boros termasuk untuk hangout. Tapi calon mertuanya cawe-cawe agar dia punya rumah sendiri sebelum menikah. Ia pun mengubah gaya hidup. Setiap dapat honor dari ngemsi, langsung dibelikan reksadana atau diinvestasikan dalam properti. Sebagian kecil saja yang disisakan untuk hangout.

“Hasilnya pada umur 25 tahun gue udah punya rumah di Pluit (Jakarta Utara), kemudian beberapa unit lagi di lokasi lain,” kata pria kelahiran Jakarta, 14 Agustus 1981, itu.

Perubahan gaya hidup itu pula yang memungkinkannya membuka usaha pakaian jadi berlabel Damn! I Love Indonesia. Ia memulainya tahun 2008 saat berusia 27 tahun dengan modal dari tiga kali ngemsi.

Waktu awal dibuka, outlet-nya menumpang di kios milik orang lain di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta demi menekan biaya sewa. “Kiosnya gue sekat khusus untuk produk gue,” ungkap Daniel. Kini ia sudah punya 10 outlet di seluruh Indonesia.

Ia  mengakui, kebanyakan orang sukar untuk self discipline. Karena itu penting membuka tabungan di bank yang bisa mendebit otomatis sebagian penghasilan setiap bulan. “Dengan membuka tabungan, bank menjadi semacam personal trainer untuk mendisiplinkan kita menabung,” ujar pria yang suka merawat tubuh dengan berolah raga ini.