HousingEstate, Jakarta - Serpong di Kota Tangerang Selatan, Banten, adalah wilayah di megapolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) yang menjadi favorit pengembang men-develop proyek properti termasuk yang berskala kota (township).

Saat ini Serpong praktis sudah menjadi sebuah kota baru dengan aenak fasilitas layaknya sebuah kota serta akses dan infrastruktur yang mumpuni termasuk jalan tol dan kereta komuter serta kelak juga rencananya MRT (mass rapid transit). Jangan heran harga tanah real estate di kawasan Serpong terbilang paling tinggi di Bodetabek.

Sepanjang tahun 2010-2013 saat terjadi booming properti, harga properti di Serpong bahkan bisa meningkat hingga 100 persen dalam setahun. Sebagian besar konsumennya para investor yang membeli properti untuk dijual lagi dengan harga lebih tinggi.

Setelah pasar properti melesu sejak 2014, banyak investor menyebut harga properti di Serpong mengalami stagnasi dan sudah sulit bergerak naik karena harganya sudah over value sepanjang 2010-2013 itu.

Tapi, pendapat itu ditepis oleh Lie Min, Principal Promex, sebuah perusahaan broker properti di Banten. Lie Min yang juga Ketua DPD Asosiasi Real Estat Broker Indonesia (Arebi) Banten menyebut, secara umum properti do kawasan Serpong masih cukup baik dan masih menawarkan pertumbuhan harga kendati tidak melonjak-lonjak seperti dulu.

“Yang stagnan itu karena dia (pemilik properti) mau jual buru-buru (karena butuh uang segera). Padahal situasi lagi seperti sekarang di mana orang (calon pembeli) sangat selektif. Yang butuh uang itu akhirnya jual dengan harga dasar sehingga kesannya tidak naik. Biasanya yang seperti itu investor yang butuh uang untuk diputer lagi. Kalau dia mau tunggu sebentar lagi, harganya pasti naik kok,” katanya kepada housing-estate.com di sela-sela acara serah terima unit apartemen Parkland Avenue, Jalan Raya Serpong, Rabu (14/3/2018).

Ia menyebutkan, di Serpong banyak pembeli investor yang melakukan pembelian secara borongan atau dalam jumlah banyak (balky). Kalangan seperti ini butuh memutar uangnya dengan cepat sehingga kadang harus menjual propertinya saat harganya belum naik karena pasar sedang lesu. Kalangan itu berprinsip lebih baik segera memutar uangnya untuk hasil yang lebih besar ketimbang menahannya di properti yang dibelinya.

Menurut Lie Min, masih cukup banyak potensi yang akan membuat wilayah Serpong terus berkembang. Selain dikeroyok developer-developer besar, pengembangan Serpong hingga saat ini sudah terbukti dengan banyaknya pertumbuhan residensial, komersial, kawasan bisnis, sehingga beberapa perusahaan multinasional mau memindahkan kantor utamanya ke Serpong.

Begitu pula pengembang asing, makin banyak masuk menggarap proyek properti di Serpong. Mereka pasti telah melakukan survei mendalam terhadap potensi wilayah Serpong sebelum berinvestasi. Kehadiran perusahaan multinasional dan pengembang asing itu akan mendorong demand atau permintaan pasar.

“Semua properti yang dipasarkan di sini (Serpong) terserap. Itu bukti kalau pasar masih cukup baik. Perusahaan multinasional sekelas Unilever saja masuk ke Serpong. Itu akan mendongkrak kebutuhan tempat tinggal dan tempat singgah. Serpong itu sudah menjadi kota kedua setelah Jakarta, kualitas pengembangan proyeknya terbaik di Indonesia. Jadi, menurut saya nggak ada itu (harga properti di Serpong) stagnan,” tuturnya.