HousingEstate, Jakarta - Konsep hunian terintegrasi transportasi massal atau transit oriented development (TOD) tengah menjadi primadona baru yang ditawarkan banyak pengembang. TOD disebut sebagai solusi perkotaan karena jaminan akses transportasi untuk para penghuni properti di areal proyek dan masyarakat sekitarnya sehingga tidak perlu lagi menggunakan kendaraan pribadi.

Namun menurut Kepala Badan Pengatur Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono, proyek TOD yang ditawarkan pengembang belum mengacu pada konsep yang benar. Yang ditawarkan itu hanya hunian yang dekat dengan terminal atau terintegrasi dengan stasiun, kemudian diklaim sebagai TOD.

“Padahal, inti dari TOD itu mendekatkan pemukiman dengan simpul-simpul transportasi, entah itu terminal atau stasiun yang merupakan milik umum dan karena itu harus terbuka. Konsep lainnya, transit. Orang datang ke (area TOD) itu langsung bisa menemukan moda transportasinya dengan berjalan kaki maksimal tujuh menit. Itulah dia TOD,” jelasnya kepada housing-estate.com di Jakarta pekan lalu.

Selama ini TOD yang ditawarkan pengembang masih menganut sistem single activity sehingga mengandalkan hanya satu moda transportasi dan tidak memikirkan bagaimana angkutan lanjutannya. Hal ini membuat terminal atau stasiun menjadi semrawut dan kumuh karena sulitnya orang berpindah moda kendaraan.

Sebaliknya TOD dengan konsep transitnya membuat orang bisa langsung beralih ke moda transportasi lain untuk mencapai tujuan akhirnya. Setiap peralihan moda tersebut juga tidak boleh lebih dari tujuh menit dengan berjalan kaki.

Karena berbasis transportasi umum, area TOD juga harus terbuka untuk kawasan sekitar atau hunian eksisting dalam radius beberapa kilometer (km). Untuk itu pemerintah daerah bisa berperan menyediakan sarana dan fasilitas yang mempermudah masyarakat mencapai kawasan TOD terdekat.

Sementara area TOD sendiri juga menyediakan fasilitas parkir untuk pengendara yang hendak melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi massal, selain area transit untuk angkutan umum lain. Dengan kata lain, selain mendekatkan, TOD dimaksudkan untuk mendorong sebanyak mungkin orang menggunakan angkutan umum.

Ia menyebutkan, saat ini di megapolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) terdapat 47,5 juta perjalanan setiap hari. Dari jumlah itu, yang menggunakan transportasi umum hanya dua persenan, 75 persen mengandalkan sepeda motor dan 23 persen mobil pribadi. Jangan heran lalu lintas di Jabodetabek menjadi makin macet dan masuk kondisi gawat darurat dan konsep TOD menjadi salah satu solusinya.

“Kondisi itu sedang kita luruskan (antara lain melalui inisiasi konsep TOD). Kita juga menyediakan semacam klinik untuk memberikan edukasi kepada para pengembang bagaimana konsep TOD yang benar. Dengan TOD ini kita ingin atur bagaimana pergerakan orang itu diubah, pola pergerakannya harus sehat supaya lalu lintas lebih lancar,” urai Bambang.