HousingEstate, Jakarta - Kota baru atau township BSD City (6.000 ha) di Serpong, Tangerang, Provisnis Banten, yang telah berkembang menjadi sebuah kota dengan sarana dan fasilitas lengkap termasuk fasilitas bisnis, gaya hidup dan pendidikan hingga jenjang universitas, awal tahun 80-an masih berupa perkebunan karet.

Harga tanahnya waktu itu masih puluhan ribu rupiah dibanding sekarang yang sudah belasan juta rupiah per meter persegi (m2). Bagaimana hitungan harga lahan proyek real estate sejak dibeli hingga bisa dijual lagi oleh pengembang dengan harga berkali-kali lipat lebih tinggi?

Menurut Andreas Nawawi, Managing Director Paramount Land, pengembang Paramount Serpong (1.000 ha), Gading Serpong, Tangerang, yang berbatasan langsung dengan BSD City, yang sangat memakan biaya dalam pengembangan proyek real estate adalah pembangunan infrastruktur jalan karena bisa menghabiskan Rp100 juta per meter lari.

“Saya bilang meter lari karena termasuk selokan, jaringan listrik, pedestrian, pokoknya semuanya. Jadi, sangat mahal dan itu pasti berpengaruh terhadap harga jual rumah. Istilahnya, kalau kita beli lahan Rp1 juta kemudian kita jual Rp2 juta per m2, itu pengembang nggak dapet apa-apa,” katanya kepada housing-estate.com, Senin (2/4/2018).

Ia menjelaskan, karena keberadaan infrastruktur dan fasilitas itu, lahan di lokasi yang sama yang hanya dibatasi parit atau pagar beton bisa sangat jomplang perbedaan harganya. Misalnya, harga lahan di berbagai klaster hunian di Paramount Serpong saat ini mencapai Rp10-15 juta/m2, sementara di balik pagar klaster yang masih berupa perkampungan, harga tanahnya ditawarkan Rp500 ribu/m2.

“Di balik pagar klaster kita masih kampung, harga tanahnya Rp500 ribu-1 juta per m2. Satu lokasi tapi bedanya bisa jauh karena kita bangun fasilitas dan infrastrukturnya memang mahal. Di sisi lain rentang harga yang begitu jauh itu juga bagus. Artinya kawasan ini masih akan berkembang, yang tanahnya masih ratusan ribu itu akhirnya pasti akan naik juga harganya,” jelasnya.