HousingEstate, Jakarta - Selama ini umumnya bank menawarkan jangka waktu atau tenor kredit pemilikan rumah (KPR) antara 15 – 20 tahun. Tapi, menyusul makin tingginya harga rumah dan apartemen di perkotaan dan makin sulitnya kaum muda memiliki rumah sendiri, tenor KPR itu pun diulur hingga 25 – 30 tahun supaya cicilannya tetap terjangkau konsumen yang membeli rumah (debitur) dengan fasilitas KPR.

Salah satu yang memasarkan KPR bertenor hingga 30 tahun itu adalah Bank UOB Indonesia. Sebelumnya sejumlah bank sudah melakukannya seperti Maybank Indonesia, OCBC NISP, CIMB Niaga, Bank BTN dan Bank MNC,  dengan tenor kredit hingga 25–30 tahun.

Menurut Michael Kelly Mangundap, First Vice President Primary Business Head Mortgage & Secured Loan Bank UOB, KPR bertenor panjang ini disiapkan untuk kalangan milenial yang baru bekerja (new jobber) setelah lulus kuliah.

“Rata-rata usianya sekitar 25 tahun sehingga dengan tenor hingga 30 tahun, kredit lunas di usia 55 tahun (bersamaan dengan pensiun atau menjelang pensiun debitur dari dunia kerja). Dengan produk ini kita mau dorong milenial yang baru bekerja mau langsung (beli rumah dan) ambil KPR,” katanya kepada housing-estate.com dalam acara peluncuran program “Easy Deal” oleh Sinar Mas Land (SML) di Jakarta akhir pekan lalu.

Ia menambahkan, dengan menawarkan tenor KPR yang sangat lama itu ia berharap Bank UOB bisamemperbesar portofolio KPR pada kelompok usia yang lebih muda. Namun, bila debitur baru mengambail KPR pada usia 30 tahun, tenor KPR maksimalnya hanya 25 tahun. Usia 55 tahun masih menjadi patokan maksimal usia pensiun di perusahaan swasta sampai saat ini kendati di pemerintahan usia pensiun sudah diulur sampai 58–60 tahun tergantung pangkat.

“Kami juga memberikan bunga promo yang menarik selain tenor panjang. Saat ini debitur dikenai bunga promo 6,25 persen per tahun selama tiga tahun pertama atau 6,5 persen per tahun selama lima tahun. Kami juga punya produk bunga tetap (fix) 9,25 persen dengan tenor 10 tahun. Sedangkan bunga floating (mengambang) kami saat ini 10,5-14 persen per tahun dengan rata-rata pembiayaan Rp600 juta per rekening,” jelasnya.