HousingEstate, Jakarta - Sebagian besar kaum muda menurut survei beberapa institusi seperti Kompas dan situs jual beli rumah, ingin punya rumah sendiri entah apartemen atau rumah tapak (landed house). Tapi, sebagian besar mereka juga belum memprioritaskan persiapan untuk membeli rumah seperti menabung uang mukanya sejak dini karena sudah keder duluan dengan harganya yang tinggi.

Hal itu terungkap dalam diskusi Ngobrol Properti (Ngopi) bertajuk “Kapan Beli Properti untuk Milenial” yang diadakan Kadin Indonesia bidang property di kantor proyek terpadu 57 Promenade, Jakarta, akhir pekan lalu. Diskusi menghadirkan pembicara Chief Executive Officer (CEO) Strategic Development & Services Sinarmas Land Ishak Chandra, Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk Adrianto P Adhi, Komisaris fintech Gradana Freenyan Liwang, Direktur Consumer Banking Bank BTN Budi Satria, dan Country Manager Rumah.com Marine Novita.

Di tengah acara diskusi hadir juga Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani dan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Properti Hendro Gondokusumo.

Menurut Rosan, sebagian besar kaum muda saat ini juga ingin punya rumah sendiri. Tapi, harga dan uang muka menjadi kendala utama mereka mewujudkannya. Karena itu mereka yang budayanya lebih mengutamakan “pengalaman untuk mendapatkan pengakuan (esteem)” seperti jalan-jalan, hang out dan senjenisnya, makin malas menjadikan pembelian rumah sebagai prioritas dengan sejak dini menabung uang mukanya.

Hanya sekitar 17 persen dari mereka yang mampu membeli rumah seharga di atas Rp300 juta/unit. Sebagian besar lagi hanya bisa menjangkau hunian seharga di bawah Rp300 juta. “Untuk rumah seharga Rp300 juta saja bila dibeli dengan KPR/KPA (kredit pemilikan rumah/apartemen), orang harus punya penghsilan minimal Rp7–7,5 juta per bulan. Padahal, rata-rata penghasilan mereka hanya Rp3–6 juta,” katanya.

Hasil survei Bank Indonesia tahun 2017 mendukung fakta itu. Survei itu mengungkapkan faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan bisnis properti adalah bunga KPR yang masih tinggi (20,36%), persyaratan uang muka (16,5%), pajak (16,13%), perizinan (14,45%), dan kenaikan harga bahan bangunan (11,68%). “Sekitar 76 persen konsumen di Indonesia masih mengandalkan kredit bank (KPR/KPA) untuk membeli rumah,” ujarnya.

Berkaitan dengan itu ia berharap para pengembang lebih cermat menawarkan produk hunian. Yaitu, yang terjangkau harganya serta fleksibel dan bersahabat cara pembayarannya bagi kaum milenial. Sementara kepada pemerintah ia meminta menerbitkan kebijakan yang bisa mendukung kaum milenial lebih mudah membeli rumah seperti mendorong penurunan bunga, memangkas pajak rumah pertama, menyederhanakan perizinan dan lain-lain.