HousingEstate, Jakarta - Salah satu penyebab malasnya kaum muda merealisasikan pembelian rumah kendati sebagian besar menurut survei beberapa institusi seperti Kompas dan situs jual beli rumah ingin punya rumah sendiri, adalah uang muka. Sebagian besar kaum yang lebih mengutamakan “pengalaman untuk mendapatkan pengakuan (esteem)” seperti jalan-jalan, hang out dan senjenisnya itu makin malas memprioritaskan persiapan membeli rumah dengan menabung uang mukanya sejak dini, karena sudah keder duluan dengan harga rumah yang tinggi.

Hal itu terungkap dalam diskusi Ngobrol Properti (Ngopi) bertajuk “Kapan Beli Properti untuk Milenial” yang diadakan Kadin Indonesia bidang properti di kantor proyek terpadu 57 Promenade, Jakarta, akhir pekan lalu. Diskusi menghadirkan pembicara Chief Executive Officer (CEO) Strategic Development & Services Sinarmas Land Ishak Chandra, Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk Adrianto P Adhi, Komisaris fintech Gradana Freenyan Liwang, Direktur Consumer Banking Bank BTN Budi Satria dan Country Manager Rumah.com Marine Novita.

Di tengah acara diskusi hadir juga Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani dan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Properti Hendro Gondokusumo.

Menurut Budi dan Marine, uang muka memang menjadi salah satu kendala kaum muda membeli rumah selain bunga kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA). Tapi, persoalan itu bisa disiasati karena sekarang banyak pengembang menawarkan persyaratan uang muka yang sangat ringan. Apalagi, untuk rumah tipe 70 ke bawah yang umumnya menjadi rumah pertama untuk dihuni sendiri.

“Dulu uang muka rumah rata-rata 20–30 persen, sekarang bisa 5–15 persen. Banyak sekali pengembang yang menawarkan promo beli rumah dengan cara bayar yang meringankan seperti uang muka kecil dan bisa dicicil. Jadi, beli rumah sekarang jauh lebih mudah,” kata Marine.

Dengan persyaratan uang muka yang lebih ringan, kaum milenial cukup menyisihkan sebagian kecil dari penghasilannya untuk menabung depe rumah, sehingga rencana beli rumah tidak harus mengganggu gaya hidup mereka. “Tetap harus nabung (untuk bisa beli rumah), itu pasti. Tapi, cukup 10–20 persen dari penghasilan setiap bulan. Tidak berat dan mengganggu gaya hidup kaum milenial,” ujar Ishak.

Semua pembicara menyarankan kaum muda merealisasikan pembelian rumah sekarang. “Lebih cepat lebih baik karena harga rumah di perkotaan memiliki tren kenaikan yang konsisten dan selalu lebih cepat dibanding kenaikan penghasilan seseorang,” ujar Budi.

Alasan lain, tambah Ishak, pasar properti sedang mencari titik keseimbangan baru setelah melesu sejak tahun 2014. Proses itu diperkirakan berlangsung sampai pemilu dan pilpres akhir 2019. Setelah itu pasar akan mulai pulih (recovery). Jadi selama dua tahun ke depan harga properti masih akan relatif stagnan. “Kalau belinya setelah tahun 2019 saat pasar mulai pulih, harganya sangat mungkin sudah tinggi,” katanya.

Karena situasi pasar itu juga, kata Freenyan, membeli rumah sebagai investasi pun sekarang lebih tepat karena potensi keuntungannya akan lebih besar saat pasar mulai recovery dua tahun mendatang.

“Beli rumah untuk investasi sebaiknya memang di awal karena potensi kenaikan harganya lebih besar. Tentu saja beli di proyek pengembang yang sudah dikenal bagus reputasinya,” ujar Budi.

Membeli rumah sekarang makin tepat karena bunga KPR/KPA juga cenderung turun. Bahkan, banyak bank, sendiri atau bekerja sama dengan pengembang properti, menawarkan bunga promo yang sangat rendah (di bawah 8-9 persen per tahun) selama 2–5 tahun pertama sehingga angsuran kreditnya lebih ringan. “Bunga bank sekarang sedang bagus-bagusnya untuk konsumen,” kata Adrianto.

Tenor atau jangka waktu kredit rumah pun sekarang jauh lebih lama. Kalau dulu rata-rata 10 – 15 tahun, sekarang 20–30 tahun.  “Ambil tenor kredit yang lebih panjang supaya angsurannya lebih ringan lagi,” kata Ishak.

Bila belum punya tabungan untuk uang muka rumah, kaum muda tetap bisa segera mewujudkan pembelian rumah dengan memanfaatkan kredit uang muka rumah seperti yang ditawarkan perusahaan financial technology (fintech) Gradana. “Yang penting mampu mencicil. Untuk itu kamu harus paham betul kondisi keuangan kamu,” kata Freenyan. Standarnya, cicilan kredit tidak boleh lebih dari sepertiga penghasilan bersih setiap bulan.

Kredit uang muka rumah fintech itu praktis “tanpa bunga”, karena rumah sudah dibeli tunai pemilik dana (borrower atau investor) dari pengembang lewat perusahaan fintech. Karena dibeli tunai, fintech mendapat diskon harga yang besar dari pengembang. Fintech kemudian menjual rumah itu secara kredit kepada konsumen dengan harga price list. Konsumen mencicil kredit uang mukanya ke fintech menurut harga price list tersebut.

Dengan dibeli melalui kredit uang muka, harga rumah pun bisa dikunci sejak awal dan tidak akan naik saat kredit uang muka lunas. Setelah kredit uang muka lunas, fintech akan membantu konsumen mendapatkan KPR dari bank sampai dapat. Biasanya supaya mudah mendapat KPR bank setelah kredit uang muka lunas, cicilan kredit uang muka sudah distel sejak awal sama dengan cicilan KPR kelak.

Marine mengakui, masalahnya memang pada gap informasi antara pengembang yang menawarkan rumah dan konsumen muda. “Supaya tidak takut merealisasikan pembelian rumah, mereka perlu diberikan advokasi dan edukasi yang benar mengenai langkah-langkah dan proses membeli rumah serta cara menemukan hunian yang tepat menurut preferensi masing-masing,” katanya yang disetujui Ishak Chandra.