HousingEstate, Jakarta - Selalu seru mewawancarai Lilia Sukotjo, Marketing Director PT Alam Sutera Realty Tbk. Tak terkecuali saat ia menceritakan pengalamannya menyeleksi calon bintang iklan Lloyd apartment, produk terbaru berupa lowrise apartment yang dipasarkan di distrik Sutera Sitara, kota baru Alam Sutera (800 ha) Serpong, Tangerang Selatan (Banten) di barat Jakarta.

Karena apartemennya didesain bergaya New York industry yang didominasi lapisan bata merah kotak-kotak yang kuat citra maskulinnya, ia pun mencari talent yang cowok banget. “Dari sekian banyak model yang disodorkan, saya hanya kecantol sama Hamish Daud. Ternyata setelah diajak diskusi, dia dan manajemennya juga klop sama kita, makanya langsung jalan,” katanya. Pilihan arsitek lulusan ITS Surabaya ini tidak meleset.

“Saat shooting saja ibu-ibu yang mengantar anaknya sekolah di St Lorensia heboh banget melihat Hamish lari di jalan utama Alam Sutera. Cit, cit, cit… langsung pada menghentikan mobilnya,” gurau ibu tiga anak ini.

Menurut Lia, setelah iklannya tayang di sejumlah TV swasta nasional, responnya juga luar biasa. Ibu-ibu banyak yang senang melihat iklannya dan memuji ketampanan suami penyanyi Raisa Andriana itu. Sedangkan kaum pria setelah melihat iklan yang sama, menilai apartemen Lloyd sebagai hunian yang “dia banget”. Alhasil hanya dalam beberapa bulan saja dari 22 tower (465 unit)  yang dipasarkan, sudah terjual 70 persen. Masing-masing tower setinggi enam lantai dengan lantai terbawah dijadikan area servis termasuk area parkir untuk 20 unit hunian di atasnya.

Tapi kunci sukses Lloyd tidak hanya iklan. Lokasi Alam Sutera yang tersambung tol Jakarta-Merak sehingga mudah mencapai Jakarta, juga jadi faktor penentu selain konsep yang ditawarkan. Lloyd, kata Lia, diambil dari bahasa Inggris. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa  Indonesia itu berarti abu-abu atau peralihan.

“Jadi, apartemen Lloyd merupakan peralihan dari landed house ke high rise. Makanya bangunannya kami rancang tidak tinggi dan ukuran unitnya juga sama dengan landed house. Yaitu, 99,3 m2 (tipe dua kamar tidur/KT) dan 128,4 m2 (tipe 3KT). Masing-masing unit juga memiliki jatah parkir mobil dan memiliki taman publik yang luas. Lahan yang dibangun hanya sekitar 20 persen dari empat hektar yang dialokasikan. Jadi, 3,2 hektar dijadikan area terbuka hijau dan fasilitas pendukung,” tuturnya.

Karena laris, harganya pun telah dinaikkan. Jika pertama dipasarkan Februari 2018 masih Rp16,4 juta per meter (m2), sekarang sudah Rp18,5 juta. Jadi, hanya dalam dua atau tiga bulan harga setiap unitnya naik minimal Rp200 juta.