HousingEstate, Jakarta - Presiden Komisaris PT Astra International Tbk Budi Setiadharma menjelaskan perbedaan membeli rumah dengan karya seni seperti lukisan. Menurut pria kelahiran Solo, 26 Februari 1944 itu, membeli rumah dan lukisan, lalu menjualnya kembali setelah bertahun-tahun kemjudian ceritanya bisa berbeda.

“Kita membeli rumah 15 tahun lalu Rp100 juta, sekarang harganya bisa Rp1 miliar. Dengan uang Rp1 miliar ini bisa kita belikan rumah lagi walaupun lokasinya berbeda. Kalau lukisan karena barang seni, biarpun harganya meningkat berlipat-lipat tidak bisa lagi kita belikan lukisan yang sama,” katanya kepada housing-estate.com di ajang pameran lukisan internasional Artdorable yang diselenggarakan Meadows Indonesia di Jakarta pekan lalu.

Presiden Direktur Astra 2002-2005 ini mengaku menjadi penikmat lukisan dan saat ini mengoleksi 500-an lukisan karya pelukis lokal dan mancanegara. Ia misalnya, memiliki lukisan karya Srihadi Soedarsono yang dibelinya seharga Rp1 juta tahun 1983 yang sekarang bisa mencapai miliaran rupiah.

Ada juga lukisan Affandi yang dibelinya Rp30 juta tahun 1970-an dan telah menjadi koleksinya yang tak ternilai harganya. Memiliki koleksi karya lukisan yang priceless itu disadari Budi. Namun ia tetap tidak merasa koleksinya merupakan bagian dari investasi yang bisa meningkatkan kekayaannya.

Menurut ayah dua anak ini, lukisan bersifat sangat personal dan subyektif. Ia menyukai setiap karya lukis sepanjang mengena di perasaannya saat dilihat pertama kali. Karena itu Budi juga tidak memiliki tema khusus dan fanatik terhadap karya pelukis tertentu. Koleksinya beragam tanpa ada yang mayorits. Temanya juga beraneka, mulai dari surealis, naturalis, ekspresionis sampai abstrak.

“Makanya kesukaan saya ini tidak didukung sama istri, menurut dia lukisan hanya sebuah karya di atas kertas dan bukan realitas. Dia kesal karena rumah jadi seperti gudang dengan banyaknya lukisan. Sementara saya kalau mau menjual lukisan selalu terkenang saat membeli dan kesukaan itu tidak bisa dihilangkan sehingga selalu sayang untuk melepas karya ini. Makanya kalau ada yang sepaham dengan saya tolong bantu jelaskan ke istri saya kenapa saya melakukan ini,” katanya sambil tergelak.