HousingEstate, Jakarta - Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jumlah tabungan masyarakat Indonesia di bank terus menunjukan nilai yang meningkat. Hingga akhir Mei 2018 total simpanan yang tercatat di 115 perbankan mencapai Rp5.414.857 miliar. Rata-rata secara tahunan nilai kenaikan simpanan di perbankan mencapai lebih dari enam persen.

Dari sisi jenis simpanannya pun hampir seluruhnya meningkat. Baik dari jumlah pembukaan rekening baru yang rata-rata naik 1,3 persen per bulan, jumlah simpanan yang ditabung, simpanan deposito, hingga simpanan dalam bentuk valuta asing yang rata-rata seluruhnya meningkat. Hal ini berbanding terbalik dengan sektor properti yang masih lesu hingga saat ini. Pemilik duit masih malas berinvestasi dalam properti.

Menurut Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia, perusahan manajemen, konsultan, dan riset property asing di Jakarta, kalangan pemilik kapital besar di Indonesia masih menahan dananya untuk dibelikan properti.

“Segmen orang kaya itu membeli properti pasti bukan yang pertama. Artinya dia beli karena faktor investasi. Ini yang belum terjadi, makanya penjualan produk properti masih seret,” ujarnya kepada housing-estate.com di Jakarta, Rabu (4/7/2018).

Ferry menjelaskan, masih segannya orang kaya membeli produk properti karena peningkatan nilainya yang cenderung sangat kecil. Untuk tipe apartemen yang dibeli guna mendapatkan keuntungan sewa (yield), nilainya juga tidak berkembang alias stagnan sejak periode pelemahan bisnis properti tahun 2014.

Di sisi lain, membeli produk properti juga tidak bisa dijadikan aset yang bisa dicairkan dengan cepat (non likuid). Karena itu perbankan lebih dipilih karena kendati imbal hasilnya kecil, produk perbankan dianggap free risk (bebas risiko) dan likuid.

Selanjutnya hal itu juga berimbas pada investasi dan ekspansi korporasi hingga modal asing yang ingin masuk ke Indonesia. Terkait politik dengan adanya pemilihan kepala daerah hingga presiden nanti pada tahun 2019, beberapa kegiatan ekspansi maupun investasi selalu menunggu situasi yang lebih stabil.

“Pemegang duit malas investasi karena gain maupun yield dianggap nggak menarik. Sementara ekspansi maupun investasi asing yang mau masuk selalu menunggu kepastian politik. Di negara maju, investasi asing tidak mempertimbangkan situasi politik karena regulasinya sudah pasti mau pemerintahannya berganti. Tapi di Indonesia orang cenderung menunggu pemerintahan baru untuk memastikan regulasi yang dikeluarkan tidak berubah minimal untuk periode lima tahun. Makanya bisnis properti belum juga bergairah,” jelas Ferry.