HousingEstate, Jakarta - Maraknya pengembangan proyek properti terpadu terintegrasi transportasi umum antar-moda atau transit oriented development (TOD) belum didukung dengan pemahaman yang tepat. Kepala Badan Pengatur Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono menyebut, konsep TOD bukan sekadar hunian yang dekat sarana transportasi umum tapi juga membantu mendekatkan pemukiman dengan simpul-simpul transportasi umum dan karena itu harus terbuka untuk umum, bukan eksklusif untuk penghuni kawasan.

Dosen dan pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna, mengamini konsep TOD tersebut. Menurutnya, TOD yang banyak dikembangkan saat ini harus dikelola banyak pihak terkait yang berkepentingan. Goal-nya adalah aksesibilitas dan kemudahan masyarakat berhuni dan bertransportasi.

“Jadi, pola TOD harus dibedakan dengan proyek biasa, semua harus berkontribusi antara operator (transportasi), pengelola, pengembang, hingga masyarakat. Semua harus mendapatkan manfaat maksimal dari adanya TOD termasuk masyarakat di sekitaran proyek, jadi harus ada integrasi,” katanya kepada housing-estate.com di Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Yayat merinci, misalnya pengembang membangun sepuluh tower apartemen, harus dihitung berapa kewajiban dia mensubsidi sarana transportasi di situ, misalnya kereta, termasuk untuk biaya operasional seluruh fasilitasnya. Hitungan tersebut harus dimasukan ke dalam biaya pengelolaan lingkungan ataupun service charge yang dibayarkan bulanan.

Hunian berbasis TOD juga harus ada kontribusi terhadap operator transportasi, begitupun pengelola properti lainnya di dalamnya. Dengan cara itu tercipta kawasan TOD yang merupakan struktur ruang dan pusat kegiatan yang didukung oleh sebuah sistem layanan komersial dan khususnya transportasi.

“Karena itu untuk pengembangan TOD semua wajib duduk bareng-bareng antara pengembang, operator, dan terutama pemerintah daerah dan dinas perhubungan supaya ada sinergi. Yang sekarang ini saya lihat hanya pemilik tanah ingin memaksimalkan keuntungan (lahannya dengan mengembangkan proyek property terpadu) dengan mengedepankan sisi komersialnya saja. Jadinya Jaka Sembung makan tomat, kagak nyambung masa bodo amat,” jelasnya sedikit bergurau.