HousingEstate, Jakarta - Setelah sempat menjadi investor di Australia yang cukup menghebohkan karena nilainya yang terus bertumbuh, tahun lalu investasi Tiongkok di sektor properti Negeri Kanguru itu merosot tajam. Menurut konsultan properti CBRE, pada semester pertama tahun ini investasi langsung dari Negeri Naga itu terjun bebas 81 persen (year on year), menjadi hanya Aus$250 juta.

“Ini nilai terendah sejak 2012 sebagai akibat masih berlanjutnya pembatasan investasi ke negeri asing dari  negara tersebut,” kata   Ben Martin-Henry, Associate Director of Capital Markets and Forecasting CBRE.  Meski pembatasan itu bersifat lokal, imbuh Martin-Henry, terbukti dampaknya mengglobal.

Kebijakan pembatasan itu dikeluarkan pemerintah Tiongkok dengan harapan para pemodal lokal lebih menanamkan uangnya di dalam negeri demi menggairahkan perekonomian domestik. Sayangnya, khususnya sektor propertinya, walaupun sudah ditambah aneka stimulus, pasar masih belum terdongkrak signifikan.

Kebijakan yang keras itu sangat mengekang para investor besar seperti Dalian Wanda Group Co, Anbang Insurance Group Co, Fosun International Ltd and HNA Group Co yang punya banyak aset di luar negeri. Sampai-sampai para investor besar itu terpaksa melego aset-aset globalnya demi kelangsungan proyek dan perusahaan. Seperti yang dilakukan HNA pada Januari lalu dengan melepas sebuah gedung perkantoran miliknya di Sydney.

Menurut data riset CBRE, investasi warga Tiongkok di properti komersial Australia mencapai puncaknya pada tahun 2015 dengan nilai setara dengan 43 persen dari total investasi asing di Australia.

Meski demikian Tiongkok belum masuk tiga teratas investor terbesar di properti komersial Australia. Posisi teratas masih belum bergeser dari Amerika Serikat (Aus$994 juta), disusul Singapura (Aus$626 juta) dan Hong Kong (Aus$560 juta). Nilai ini baru dari properti yang sudah terbangun, di luar properti yang masih dalam tahap pembangunan.

Sumber: Bloomberg