HousingEstate, Jakarta - Produk pelapis anti bocor atau waterproofing wajib diaplikasikan di rumah.

Indonesia adalah negara tropis dengan musim hujan dan kemarau yang sama-sama panjang. Saat musim kemarau panasnya menyengat, ketika musim hujan curah airnya bisa sangat tinggi dan belakangan juga ekstrim. Perubahan cuaca yang ekstrim dari satu bandul ke bandul yang lain atau sebaliknya itu sangat berdampak terhadap bangunan rumah, tak terkecuali yang terbuat dari tembok. Misalnya, dindingnya jadi retak, lapuk, atau kerusakan lain yang membuat air hujan merembes ke dalam rumah.

Karena itu bangunan perlu dilindungi dengan pelapis kedap air atau waterproofing. Masalahnya, kadang kendati sudah dilapisi waterproofing, rembes atau bocor tetap terjadi pada rumah. Atau setelah dilapisi tidak rembes, beberapa bulan kemudian kembali air menembus bagian dalam rumah. Dalam musim yang kerap hujan seperti dan seringkali ekstrim seperti sekarang, hal itu tentu menjengkelkan.

Menurut Dadang Wira, Product Support PT Adhi Cakra Utama Mulia, produsen pelapis antibocor Aquaproof, dengan iklim panas dan hujan yang ekstrim, aplikasi pelapis antibocor pada bangunan harus benar dan sesuai aturan. Kebanyakan orang menggampangkan penggunaan waterproofing, aplikasinya asal oles di bagian bangunan yang rentan bocor.

tips atap rumah bocor semen

Campuran semen

“Kalau tetap bocor atau rembes lagi, itu pasti karena media (yang dilapisi) tidak bersih. Jadi, harus dipastikan medianya bersih dari kotoran, baru dilapisi waterproofing. Kalau tidak umurnya tidak akan lama (karena lapisan anti bocornya mengelupas). Selain itu (media) harus ditambah dengan polyester (serat fiber) dan diulang sampai dua lapis, baru bangunan aman (dari kebocoran),” katanya. Selain itu pastikan produk waterproofing yang hendak diaplikasikan tidak dicampur dengan air karena bisa mengurangi kehandalannya.

Aplikasinya, setelah media yang hendak dilapisi bersih, pulaskan waterproofing, tambahkan polyester, tutup lagi dengan waterproofing. Setelah kering, ulangi lagi proses itu hingga dua kali. Dengan cara seperti itu ia menyebut bangunan pasti aman dari bocor hingga lebih dari lima tahun.

Kalau ingin hasil yang lebih baik lagi, bisa gunakan campuran semen instan (mortar) super semen dan semen biasa dengan rasio 1:1,5. Setelah media yang akan dilapisi kering dan bersih, pulaskan terlebih dulu campuran super semen dan semen biasa itu yang berfungsi sebagai primer. Setelah itu baru aplikasikan waterproofing dengan polimer sebanyak dua lapis.

bangun rumah bata ringan

Area rentan bocor dan bata ringan

Pendapat serupa dikemukakan Nita Tesalonika, Technical Nippon Paint Indonesia, produsen waterproofing Elastex. Selain permukaan media yang hendak dilapisi bersih dari debu, minyak, dan kotoran lain, perhatikan juga kadar alkali pada dinding yang harus di atas PH9 atau kelembaban tidak lebih dari 12 persen yang bisa diukur dengan elcometer.

Aplikasi bisa terkendala oleh temperatur udara yang rendah. “Karena itu kalau diaplikasikan saat musim hujan, proses pengeringannya akan berpengaruh. Untuk hasil terbaik aplikasikan produk waterproofing siang hari dan jangan aplikasikan saat kelembaban udara di atas 85 persen atau suhu udara terlalu rendah,” katanya.

Ia menambahkan, lapisan waterproofing wajib dipulaskan di area-area rawan bocor seperti lantai dak, bagian sambungan, hingga dinding luar atau bagian bangunan lain yang terpapar panas dan hujan. Bangunan yang menggunakan bata ringan makin wajib dilapisi waterproofing karena sifat beton beraerasi itu lebih menyerap air dibanding bata merah. Bila ada plesteran dan/atau acian yang tidak sempurna pada bidang beton, air akan merembes dan mengalir ke tembok di ruang dalam.

“Untuk itu di bagian dinding atas pertemuan antara dinding dan genteng (skonengan), dibuat semacam segitiga yang menghadap ke atas. Rekayasa ini untuk membuat air tidak masuk di antara celah pertemuan bagian itu. Kemudian bagian sudut itu dipulas waterproofing dengan polyester dengan aplikasi dua lapis,” terang Dadang.

area rentan bocor

Elastomerik

Produk waterproofing, juga cat pelapis dinding luar yang tahan cuaca (weathershield) kerap disebut memiliki sifat elastomerik karena elastik seperti karet. Aquaproof yang berbahan dasar akrilik resin misalnya, saat kering diklaim bisa melar hingga enam kali tebal lapisannya, baru bisa sobek atau pecah. Artinya bila ada bagian bangunan yang rawan retak dilapisi Aquaproof, lapisan itu bisa menahan pergerakan bangunan karena perubahan cuaca dan lain-lain tanpa robek.

Sementara Elastex terbuat dari bahan dasar lateks akrilik yang diklaim sangat elastis, tahan retak, anti alkali dan jamur, kedap air, dan anti lumer dengan daya rekat kuat. Sifat material dasar seperti itu disengaja untuk memastikan lapisan waterproofing tetap melekat kuat pada bidang bangunan dan melindunginya dari rembes.

Aquaproof menyebut produknya memiliki ketebalan 200 mikron setiap lapisnya. Untuk aplikasi dua lapis ketebalannya mencapai 350-400 mikron (1.000 mikron=1 mm). Setiap kilogram Aquaproof bisa digunakan untuk bidang seluas 1 m2 untuk dua lapis aplikasi. Produk tersedia dalam kemasan 1, 4, dan 20 kg seharga Rp47 ribu/kg. Sementara Elastex disebut bisa digunakan untuk bidang seluas 6-7 m2/kg dengan ketebalan 90 mikron dengan saran aplikasi 2-3 lapis. Produk tersedia dalam kemasan kaleng, galon, hingga pail seharga Rp40 ribuan/kg.

Dinding Bisa RembesSekarang saat bata ringan beraerasi makin banyak dipakai sebagai dinding menggantikan bata merah, aplikasi waterproofing makin wajib. Pasalnya, bata ringan lebih berongga sehingga lebih rentan terhadap rembes. Karena itu aplikasi acian dan pengecatan pada dinding bata ringan harus lebih baik. Kalau tidak, air dari atas atau dari dinding bagian luar bisa merembes ke bagian dalam rumah. Untuk itu waterproof yang berfungsi juga sebagai cat dekoratif yang sekarang banyak ditawarkan dapat digunakan, atau bisa juga cat dekoratif elastomerik yang diklaim juga berfungsi waterproof.

Untuk kamar mandi, seluruh bagian dinding dari bawah hingga ketinggian 1,5 m yang terpapar air sebaiknya dipulas seluruhnya dengan waterproofing. Begitu pula dinding bagian dalam yang rentan dengan rembesan air seperti pada rumah-rumah real estat yang umumnya berbentuk deret dan dindingnya menyatu dengan rumah sebelah.

“Untuk bagian ini kami punya Hydrostop yang menjamin dinding yang menempel dengan rumah sebelah aman dari rembes atau bocor,” ujar Dadang. Ia menyebutkan, bila ingin seluruh bagian rumah aman dari bocor dan rembes, kita memang harus sedia lebih repot. Untuk itu seluruh dinding bagian dalam bisa dipulas dengan Hydrostop. Caranya, kupas seluruh catnya. Setelah bersih dinding dilukai (diketrik) setiap 10-15 cm, lalu diaci ulang dengan Hydrostop.

Produk mirip semen instan ini tinggal ditambah air sebelum diaplikasikan. Setelah merata dan mengering dalam satu hari, dinding kemudian dibasahi dengan cara disemprot atau dikuas sebanyak tiga kali dalam sehari selama dua hari. Setelah itu tunggu hingga 14 hari. Selepas itu dinding bisa langsung di-finishing dengan cat dasar berbasis air (waterbased) diikuti cat akhir seperti biasa, atau langsung dilapisi wall cover, tanpa perlu waterproofing lagi.

“Risikonya rembesan akan muncul di rumah sebelah. Tapi, kalau dia melakukan treatment yang sama pada dindingnya, air akan menguap melalui jalur masuknya. Jadi rumah  dipastikan aman dari rembes dan bocor hingga bertahun-tahun. Kalau ada dinding yang dilapisi Hydrostop terkelupas, cukup dikupas bagian yang terkelupas itu, kemudian aplikasikan proses yang sama di bagian itu,” urainya.

Fungsi, bukan Warna

Menurut Wahyu Achadi, Direktur HomeWork, sebuah perusahaan design and build di Jakarta, saat ini memang banyak waterproofing yang ditawarkan sekaligus seperti cat dekoratif dengan banyak pilihan warna. Menurutnya, langkah itu kurang tepat karena waterproofing memiliki fungsi utama mencegah rembes atau bocor, bukan cat dekoratif. “Apa segitunya mengejar persaingan sehingga waterproofing pun bisa sekaligus jadi cat dekoratif. Menurut saya ini dua hal yang berbeda. Waterproofing untuk mencegah kebocoran dan sebagai pelapis dasar. Kalau pewarnaan ya harus kita cat lagi dengan cat dekoratif waterbased,” katanya.

Namun, Nita menjelaskan, dulu produk waterproofing memang hanya sebagai sealer (cat dasar) dengan warna dominan abu-abu atau putih. “Seiring perkembangan produk waterproofing juga bisa sebagai cat akhir tanpa mengurangi fungsinya mencegah kebocoran. Elastex misalnya, punya 300 warna pilihan melalui mesin tingting (pengoplos warna) di toko-toko bahan bangunan,” katanya.

Sementara Aquaproof tersedia dalam 30 warna tanpa pilihan warna melalui pengoplosan di mesin tinting. Dadang menambahkan, dengan bahan dasar polimer, produk waterproofing sulit  mempertahankan konsistensi warnanya ketika dioplos. Saat dicampur 2-3 kali di mesin tingting, kualitas warnanya sulit dipertahankan untuk selalu sama sehingga tampilannya setelah diaplikasikan akan belang. “Kami dapat masukan dari modern outlet, untuk waterproofing itu ketika dioplos di mesin tingting sulit mempertahankan konsistensi warnanya Makanya kalau kampanye kami tetap pada fungsi produk, bukan pilihan warnanya karena pasti kalah (dengan cat dekoratif). Ini (menggabungkan waterproofing dengan cat dekoratif) hanya strategi pasar,” ujarnya.