HousingEstate, Jakarta - Ada banyak faktor yang membuat properti diburu orang. Selain untuk hunian, juga sangat baik untuk investasi karena ada kepastian kenaikan harganya kendati tidak likuid. Untuk segmen kelas atas atau orang kaya, properti yang dibeli biasanya di beberapa tempat untuk memudahkan aktivitas bisnis dan pemenuhan kebutuhan lainnya, dan umumnya orang kaya di berbagai kota besar dunia biasanya membeli properti di luar negeri.

Menurut Doddy Tjahjadi, CEO Crown Group Indonesia, sebuah perusahaan pengembang asal Australia yang dimiliki orang asal Indonesia Iwan Sunito, secara umum Amerika merupakan negara yang banyak diburu propertinya oleh orang-orang kaya dari berbagai negara. Seiring perkembangan kota-kota dunia, saat ini makin biasa orang membeli properti di berbagai kota di luar negaranya.

“Bahkan, di Australia itu pandangannya terhadap luar negeri sudah sangat biasa. Dia menganggap Indonesia dan New Zealand itu seperti halaman depan-belakang. Orang Australia menganggap Bali seperti negaranya sendiri, karena saking akrabnya dengan Bali dan setiap liburan pasti ke Bali,” katanya saat bicara di acara diskusi “Potensi Investor Asing Bagi Pertumbuhan Industri Properti Indonesia” yang diadakan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Real Estat Indonesia (REI), dan Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera) di Jakarta, Rabu (19/9/2018).

Situasi saat ini dengan perkembangan berbagai kota-kota dunia dan aktivitas bisnis yang makin melebar, pembelian properti di luar negeri tidak lagi berpusat di Amerika. Umumnya setiap orang kaya memiliki properti di negara yang secara kultur mirip. Misalnya, orang Indonesia banyak membeli properti di Singapura, atau orang Malaysia, Filipina, Thailand, membeli di Laos, Vietnam, dan negara yang secara kultur tidak terlalu berbeda.

“Intinya orang pasti membeli yang comfort bagi dia dan sesuai kebutuhannya, biasanya untuk bisnis dan pendidikan anak-anaknya. Jadi, properti asing ini sudah menjadi keniscayaan. Saya waktu sekolah di Australia tahun 1990,  pelajar Indonesia ada 1.100 orang, sekarang sudah lebih dari 11 ribu. Setiap negara pasti ada pasar yang besar untuk asing membeli,” ungkapnya.