HousingEstate, Jakarta - Secara umum pilihan utama masyarakat untuk tempat tinggal masih rumah tapak ketimbang apartemen. Karena itu rumah-rumah tapak di kawasan suburban Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) masih lebih dipilih orang ketimbang apartemen di dalam kota Jakarta yang lima tahun terakhir sangat pesat dibangun para developer.

“Ini yang membuat rasio apartemen kita masih sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk, karena secara umum apartemen masih belum menjadi pilihan utama. Di sisi lain ini menciptakan opportunity karena seiring peningkatan harga lahan, aksesibilitas, lifestyle, dan lain sebagainya, pada saatnya apartemen mau tidak mau harus dipilih pekerja di perkotaan,” kata Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia (CII), perusahaan riset, konsultan, dan manajemen properti asing di Jakarta, kepada housing-estate.com di Jakarta, Senin (8/10/2018).

Untuk itu Ferry menyarankan akses pembiayaan dari lembaga keuangan untuk pembelian unit apartemen bisa diperluas. Kalau generasi muda pekerja bisa lebih mudah membeli apartemen, hal itu bisa menjadi katalis pertumbuhan bisnis properti yang saat ini masih lemah.

Sejak bisnis properti mulai melemah tahun 2014, cara bayar pembelian apartemen juga berubah. Kalau sebelumnya pembelian apartemen mayoritas secara tunai bertahap (installment) atau tunai keras (hard cash) langsung ke pengembang, tahun 2016 cara bayar hard cash mencapai 22 persen, installment 63 persen, dengan kredit pemilikan apartemen (KPA) 16 persen.

Tahun 2017 porsinya berubah menjadi hard cash 19 persen, installment 52 persen dan KPA 29 persen. Tahun ini cara bayar hard cash tetap 19 persen, installment turun menjadi 48 persen, sedangkan KPA naik lagi menjadi 33 persen. Ferry menyebut relaksasi ketentuan uang muka yang lebih ringan atau loan to value (LTV) yang dilansir Bank Indonesia (BI) juga berdampak terhadap peningkatan cara bayar KPA itu.

“Makanya menurut saya pola pembayaran perbankan ini perlu digali lagi, misalnya dengan memperpanjang tenor kredit sehingga cicilannya lebih rendah. Sudah terbukti sentimen ekonomi dan situasi politik hanya berpengaruh pada segmen menengah ke atas yang membeli properti untuk investasi. Untuk masyarakat banyak yang mencari properti untuk hunian, ini tidak terpengaruh. Makanya harus dibuat skema yang menarik sesuai kemampuan kalangan ini,” jelasnya.