HousingEstate, Jakarta - Hingga akhir September 2018 Bank BTN mencatat pertumbuhan penyaluran kredit 19,28 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini didorong kenaikan penyaluran KPR bersubsidi dengan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP), dari tahun lalu sampai semester pertama tahun ini hanya menyalurkan KPR subsidi dengan skeme selisih bunga (SSB).

Menurut Direktur Utama Bank BTN Maryono, penyaluran KPR FLPP memberikan angin segar bagi laju pertumbuhan penyaluran kredit Bank BTN dengan pertumbuhan di atas rata-rata perbankan nasional yang 12,12 persen.

“Kami berhasil menyalurkan kredit senilai Rp220,07 triliun sampai triwulan III 2018, naik dari periode yang sama tahun 2017 yang hanya Rp184,5 triliun,” katanya saat memaparkan kinerja Bank BTN triwulan III 2018 di Jakarta, Kamis (25/10/2018).

Maryono merinci, penyaluran KPR FLPP mengambil porsi 54,35 persen dari total penyaluran kredit, sehingga tumbuh 21,81 persen (yoy) sebesar Rp163,61 triliun dibandingkan dua tahun lalu yang Rp134,31 triliun. Untuk KPR non subsidi (komersial) penyalurannya mencapai Rp74,69 triliun atau tumbuh 13,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang Rp65,97 triliun.

Sementara untuk kredit konsturksi kenaikannya 17,41 persen menjadi Rp28,45 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp24,23 triliun. Kredit konsturksi ini seluruhnya disalurkan untuk perusahaan pengembang yang membangun perumahan. Untuk program sejuta rumah yang dicanangkan pemerintah, total Bank BTN telah menyalurkan kredit konstruksi untuk 574.444 rumah dengan perincian 408.350 unit merupakan rumah subsidi, sisanya non subsidi.

“Kami juga terus melakukan inovasi produk untuk makin meningkatkan akses masyarakat terhadap perumahan. Baru-baru ini kami merilis KPR Gaeesss yang menyasar kalangan milenial dengan pilot project KPR Mikro dengan skema academy-business-community-government (ABCG). Untuk kredit macet atau non performing loan (NPL), kami juga berhasil menekannya menjadi 2,65 persen, lebih baik dari tahun lalu yang masih 3,07 persen,” tutur Maryono.