HousingEstate, Jakarta - Kelesuan bisnis properti yang cukup panjang kali ini salah satunya karena para pengembang salah menyasar segmen pasar. Menurut Asmat Amin, Managing Director SPS Group, perusahaan pengembang yang banyak mengembangkan rumah murah di Cikarang, Bekasi, Karawang, hingga Subang, kalau dilihat dari produk domestik bruto (PDB), rata-rata penghasilan penduduk Indonesia sebesar Rp4 jutaan per bulan.

“Itu artinya kalau menggunakan ukuran bank, kemampuan mencicil rumahnya hanya sekitar Rp1,3 jutaan per bulan. Tapi, coba kita lihat sangat sedikit pengembang yang mau masuk ke segmen itu. Rata-rata selalu menyasar segmen di atas dari kemampuan mencicil itu. Karena itu saat pasar lesu seperti sekarang, yang masih berjalan hanya produk rumah subsidi dan rumah murah nonsubsidi seharga di bawah Rp300 jutaan,” katanya kepada housing-estate.com di sela-sela ajang Indonesia Property and Bank Award (IPBA) 2018 di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Rumah subsidi yang harganya dipatok oleh pemerintah, menurut Asmat sampai kapanpun akan terus ada pasarnya. “Makanya kami masih bergerak di segmen rumah subsidi dan nonsubsidi yang sedikit di atas segmen subsidi. Kami juga punya produk yang menyasar pasar menengah atas seperti Chadstone Cikarang, tapi itu konsepnya harus kuat. Porsi kami saat ini 70 persen mengembangkan rumah murah, tapi secara pendapatan 50:50 antara subsidi dan komersial,” jelasnya.

Sementara pengembang lain tidak serius bukan hanya menggarap rumah subsidi tapi juga rumah non subsidi di atas rumah subsidi. Padahal, pasarnya besar. Ia memngakui, pasar rumah menengah ke bawah itu sangat sensitif terhadap harga. Sedikit saja salah perhitungan, akan berdampak ke harga yang selanjutnya mempengaruhi penjualan. Berkaitan dengan itu ia berharap untuk program rumah subsidi, regulasi terkait perizinan dan kemudahan konsumen mengakses dan pengembang membangun, harus terus dievaluasi untuk kepentingan semua pihak.