HousingEstate, Jakarta - PT Agung Podomoro Land Tbk (APL) melansir program “Home for Millennials” selama 4-31 Desember 2018 dengan memberikan banyak insentif. Salah satunya bunga tetap (fixed) 9,99 persen per tahun selama 10 tahun. Tenor atau jangka waktu kreditnya juga bisa sampai 30 tahun. Program berlaku untuk delapan proyek apartemen dan rumah tapak (landed house) besutan APL di seluruh Indonesia.

Yaitu, Podomoro Golf View (Gunung Putri, Bogor, di jalur tol Jagorawi/kereta ringan atau LRT Cibubur-Bogor), Taruma City Karawang (di jalur tol Jakarta-Cikampek di Karawang), Orchad View Batam (di pesisir Pulau Batam, Kepulauan Riau), Borneo Bay Balikpapan (di pesisir pantai Balikpapan, Kalimantan Timur), Podomoro City Deli (Medan, Sumatera Utara), Grand Madison (Jakarta Barat), Vimala Hills Villa & Resort (Ciawi, Bogor), serta Soho Pancoran (Jakarta Selatan).

“Semua rumah atau unit apartemennya sudah jadi dan siap huni. Jadi, kamu tinggal bawa koper,” kata Zaldy Wihardja, Assistant Vice President, Residential Marketing, APL kepada pers di Jakarta, Kamis (6/12/2018). Untuk memudahkan kaum milenial membeli rumah atau apartemen di berbagai proyek itu, APL menawarkan banyak insentif, sendiri atau bekerja sama dengan bank penyalur KPR/KPA (kredit rumah/apartemen). Saat ini dua bank, Maybank Indonesia dan Bank BTN, sudah bekerja sama. Bank lain bisa menyusul ikutan.

Selain bunga rendah dan tenor KPR yang sangat lama itu, bentuk insentif lain adalah persyaratan depe atau uang muka yang ringan, hanya 5 persen untuk hunian pertama. Ada juga insentif cuti mencicil pokok utang dan bunganya pada 1-2 tahun pertama, bonus traveling tahunan, dan lain-lain. “Jadi, milenial hanya perlu sedikit dana awal untuk beli rumah. Dengan bunga kredit yang rendah, angsurannya juga ringan, mulai dari Rp2 jutaan per bulan fixed selama 10 tahun,” tuturnya.

Untuk sementara program dijalankan sampai 31 Desember 2018. “Kita lihat dulu respon pasar dan perkembangan bunga acuan BI. Kalau bagus, program bisa kita lanjutkan,” ujarnya. APL menargetkan pendapatan Rp70 miliar dari program ini.

Zaldy menjelaskan, kaum milenial atau Gen Y mencakup sekitar 40 persen kelompok pembeli potensial properti di Indonesia. Jumlah itu diperkirakan meningkat menjadi 70 persen tahun 2030. Ia mengutip riset Badan Pusat Statistik (BPS) tentang adanya peralihan (shifting) konsumsi di masyarakat.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, kalangan usia produktif kini lebih senang membelanjakan uangnya untuk mencari pengalaman baru (experience) melalui traveling, leisure, hangout, dan lain-lain, ketimbang memiliki barang termasuk hunian. Padahal, harga hunian makin lama kian tinggi, melampaui inflasi.

Kalau milenial tidak mengalihkan sebagian penghasilannya dari sekarang untuk berinvestasi bagi masa depannya, antara lain dengan membeli rumah, mereka akan kesulitan punya rumah sendiri.

“Pada suatu hari setelah menikah dan punya anak, kaum milenial kan tetap harus punya rumah. Jadi, mereka sangat perlu berinvestasi dari sekarang. Karena itu program ini kita lansir untuk membantu mereka,” jelasnya.