HousingEstate, Jakarta - Laporan utama majalah HousingEstate selama sekian bulan terakhir termasuk edisi teranyar Desember 2018 dan beberapa edisi tahun lalu, mengulas tentang hunian untuk kaum muda yang lahir menjelang milenium kedua (tahun 2000) yang kerap disebut kaum langgas atau milenial.

Dalam berbagai liputan utama itu diuraikan tentang bagaimana pengembang dan bank rajin melansir aneka promo dan program yang memberikan insentif yang memudahkan Gen Y itu membeli hunian pertamanya. Mulai dari penawaran hunian mungil di jalur transportasi massal yang terjangkau harganya, persyaratan depe yang ringan bisa dicicil, bunga kredit murah fixed (tetap) selama sekian tahun, bea dan biaya kredit free, diskon harga, sampai bonus jalan-jalan dan hangout.

“Mudah dan praktis” memang kata-kata yang penting untuk memikat generasi yang makin mendominasi pasar ini. Mengutip majalah Time, kaum milenial adalah kaum yang hanya peduli pada diri sendiri atau apapun yang berhubungan dengan dirinya. Di pikiran kebanyakan mereka hanya ada me, me, and me.

Laman medsosnya penuh pembicaraan dan foto-foto dirinya serta foto lain yang terkait langsung. Tak ada diskusi dan gambar tentang hal-hal yang bersifat masa depan dan tanggung jawab baik secara individual maupun sosial. Karena itu majalah tersohor itu menyebut kaum milenial sebagai “Me Me Me Generation” yang lazy, entitled narcissists who still live with their parents. Mereka nggak mau ribet.

Jadi, pengembang (developer) dan bank harus memanjakan mereka dengan aneka insentif itu agar tetap bisa berjualan. Apalagi, saat pasar properti kempes seperti sekarang. Siapa lagi yang mau beli properti kini? Kalangan mapan (kolektor dan investor yang sudah memiliki sejumlah properti) sedang ogah berinvestasi dalam properti karena return-nya dinilai minimal. Mereka lebih suka menaruh uangnya di pasar uang.

Salah satu pengembang yang juga ikutan memanjakan kaum langgas itu adalah PT Agung Podomoro Land Tbk (APL), dengan melansir program “Home for Millennials” di Jakarta, Kamis (6/12/2018). Untuk sementara program berlaku sampai 31 Desember 2018 untuk pembelian properti di delapan proyeknya di seluruh Indonesia. Yaitu, Podomoro Golf View (Gunung Putri, Bogor, di jalur tol Jagorawi/kereta ringan atau LRT Cibubur-Bogor), Taruma City Karawang (di jalur tol Jakarta-Cikampek di Karawang), Orchad View Batam (di pesisir Pulau Batam, Kepulauan Riau), Borneo Bay Balikpapan (di pesisir pantai Balikpapan, Kalimantan Timur), Podomoro City Deli (Medan, Sumatera Utara), Grand Madison (Jakarta Barat), Vimala Hills Villa & Resort (Ciawi, Bogor), serta Soho Pancoran (Jakarta Selatan).

“Rumah dan unit-unit apartemennya sudah jadi dan siap dihuni,” kata Zaldy Wihardja, Assistant Vice President, Residential Marketing APL. Melalui program itu kaum milenial bisa membeli hunian di berbagai proyek itu dengan bunga 9,99 persen per tahun fixed (tetap) selama 10 tahun, dan persyaratan depe 5 persen saja (untuk hunian pertama).

Tenor atau jangka waktu kreditnya pun sangat lama, bisa sampai 30 tahun. Untuk itu APL sudah menjalin kerja sama dengan Maybank dan Bank BTN. Bank lain boleh menyusul ikutan mendukung program ini.

Menurut Agung Wirajaya, Assistant Vice President, Head of Strategic Residential Marketing Division APL, program itu dilansir karena kaum milenial kurang giat menabung dan berinvestasi. Mereka lebih suka menghabiskan uang untuk jalan-jalan dan hangout mencari pengalaman baru. Ia pun mengutip riset Badan Pusat Statistik yang menyebutkan adanya peralihan konsumsi di kalangan usia produktif. Mereka kini lebih suka membelanjakan uang untuk mencari pengalaman ketimbang memiliki barang termasuk rumah.

“Kaum milenial harus menggunakan sebagian penghasilannya untuk investasi seperti membeli properti,” katanya. Data Bappenas mengungkapkan, saat ini populasi Indonesia mencapai 250 juta jiwa. Sebanyak 60 persen merupakan penduduk usia produktif (15-64 tahun). Sekitar 35 persen di antaranya atau 90 juta jiwa adalah kaum milenial (usia 22 – 37 tahun).

“Kaum milenial mencakup 40 persen pembeli properti potensial di Indonesia. Angka itu diperkirakan meningkat menjadi 70 persen tahun 2030,” katanya. Karena itu pengembang merasa perlu merancang promo khusus yang mendorong dan sangat memudahkan kaum langgas itu membeli properti.

Zaldy menambahkan, seiring pertambahan usia, apalagi setelah sudah menikah dan punya anak, mau tidak mau kaum milenial harus memikirkan masa depannya, antara lain dengan memiliki hunian sendiri. Apalagi, harga rumah selalu naik lebih tinggi dibanding inflasi dan peningkatan penghasilan mereka. Penundaan demi kesenangan hari ini bisa sangat menyulitkan mereka mendapatkan rumah sendiri nanti.

“Mereka (kaum milenial) harus memaksakan diri menabung (sebagian penghasilannya) untuk membeli rumah sejak dini. Soalnya, kenaikan harga rumah selalu lebih tinggi daripada inflasi. Selain investasi yang aman dan menguntungkan (serta bisa dihuni sendiri), properti juga sekaligus bisa jadi sumber penghasilan pasif (bila laku disewakan) dan portofolio income dari kenaikan harganya setiap tahun,” tuturnya.