HousingEstate, Jakarta - Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta kembali menyelenggarakan ajang tiga tahunan Jakarta Architecture Triennale (JAT) 2018. Beberapa kegiatannya adalah TALK yang diisi berbagai seminar dan focus group discussion sepanjang 12-13 Desember, ditutup dengan Penghargaan IAI Jakarta pada 14 Desember 2018.

Salah satu isu yang diangkat di ajang JAT 2018 adalah kenyataan pada tahun 2030 mendatang 70 persen penduduk akan memenuhi ruang-ruang perkotaan. Ini menjadi tantangan yang harus dijawab dari sisi sumber daya, desain, maupun penataan kota. Sumber daya air hingga pengelolaan sampah menjadi isu penting yang harus dijawab.

Kurihara Wataru dari Shimizu Corporation (Jepang), menawarkan solusi Sky City, sebuah perkotaan yang dikembangkan di atas permukaan laut atau air untuk menciptakan visi float innovation+green innovation. Konsep besarnya, mega floating city green float yang akan menjawab berbagai tantangan kebutuhan perkotaan masa depan.

Float innovation bisa meng-create lahan baru dengan konsep skyscraper city di atas lautan yang dibuat perkotaan dengan ketahanan terhadap bencana atau resistant city. Penerapan konsep green dilakukan untuk membuat kota menjadi zero carbon city dan zero emission city,” katanya saat memaparkan konsep Sky City itu, Rabu (12/12/2018).

Sebelumnya Federico Gobbato dari Department of Archtecture Delft University of Technology (Belanda), memaparkan mengenai “Floating Urbanism, City Conception of Holland Colonies”. Bagaimana kisah negeri Belanda dan kota-kota lain di dunia yang sukses mengembangkan perkotaan di atas air.

“Kenyataan kalau bumi kita itu 70 persennya tertutup oleh permukaan air, pembahasan mengenai sky city dan floating urbanism menjadi tepat. Di Indonesia sangat cocok dikembangkan dengan berbagai karakteristiknya. Pulau Jawa misalnya, merupakan jalur sesar gempa yang sangat aktif. Makanya perlu dikembangkan juga float risk minimized,” jelas Wataru.