HousingEstate, Jakarta - Ke depan menyusul perkembangan teknologi informasi yang kian masif dan menuntut semua menjadi praktis dan efisien, bisa jadi perusahaan pengembang tidak memiliki divisi marketing in house lagi dan akan menyerahkan kepada perusahaan agen properti untuk menjual produknya.

In house marketing itu fixed cost bagi perusahaan. Akan lebih mudah kalau mereka menyerahkan kepada perusahaan broker properti pemasaran proyeknya sehingga divisi marketing perusahaan menjadi variable cost, baru dibayar kalau ada penjualan. Makanya ke depan pengembang dan broker properti akan seiring dan menjadi mitra strategis. Jadi, broker juga harus makin profesional,” kata Lukas Bong , Ketua Umum DPP Asosiasi Real Estat Broker Indonesia (AREBI) di acara “Rumah.com Agent Summit 2018” di Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Ia memberikan gambaran, saat ini ada 1.000 perusahaan broker properti di seluruh Indonesia. Bila satu kantor sedikitnya memiliki 10 orang broker, maka ada 10.000 ribu broker properti profesional yang bisa menjadi corong pengembang untuk memasarkan proyeknya sehingga lebih efisien.

Andaikata perusahaan developer mengembangkan proyek di luar kota, tidak perlu membentuk divisi marketing baru dan cukup menghubungi kantor broker properti di kota bersangkutan sehingga lebih murah dan efektif. AREBI sebagai asosiasi juga terus berbenah untuk menghasilkan tenaga-tenaga broker properti yang profesional.

“Dari perusahaan broker waralaba itu ada pelatihan rutin. Semnentara kami sendiri dari AREBI melakukan juga training rutin untuk setiap broker anggota kami. Sekarang bisa dilihat, ibu-ibu sudah confident menjadi broker dan konsultan property. Sudah banyak yang menjadikan broker properti sebagai profesi utama,” urainya.