HousingEstate, Jakarta - Media massa baik cetak maupun daring (online) makin terpinggirkan oleh perkembangan teknologi informasi terutama media sosial (medsos). Setiap orang bisa memproduksi informasi dan langsung membagikannya saat itu juga secara instan kepada khalayak. Sejak 10 tahun terakhir banyak media konvensional yang goyah dan bahkan tutup.

Namun, menurut Tomi Aryanto, Wakil Direktur PT Tempo Inti Media Tbk, penerbit majalah TEMPO, Koran Tempo, dan Tempo.co, situasi banjir informasi seperti ini justru membuat fungsi media konvensional menjadi lebih relevan.

“Kita bisa lihat, yang beredar di medsos itu 80 persen sumbernya dari media konvensional. Era saat ini membuat banjir informasi yang nggak jelas dan media konvensional seperti HousingEstate dibutuhkan untuk verifikasi. Banyaknya hoax membuat setiap orang mencari klarifikasi dari media konvensional mengenai apa yang beredar di medsos,” katanya saat memberikan paparan pentingnya media di ajang pemberian penghargaan properti hijau Green Property Awards dan pengembang dengan penjualan paling bagus Housing Estate Awards 2018 oleh majalah HousingEstate dan housing-estate.com di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Karena itu, lanjutnya, media dan orang-orang profesional yang mengelolanya, menjadi pihak penting untuk dijadikan tempat klarifikasi dan verifikasi dan karena itu sangat dibutuhkan. Karena itu media massa konvensional tidak akan pupus oleh perkembangan medsos, hanya perlu adaptif dan menyesuaikan dengan situasi pasar. Saat ini yang dibutuhkan rasa percaya (trust) dan itu bisa disediakan media konvensional yang tidak bisa dibangun hanya dalam waktu semalam.

Gambarannya, saat TV muncul tahun 1950-an dianggap akan menggantikan radio karena fungsi lebihnya yang bukan hanya audio tapi juga visual. Kenyataannya, hampir semua masyarakat urban yang terjebak kemacetan di jalan mendengarkan radio di mobilnya. Bisnis media berubah namun itu hanya merubah lansekap bisnisnya.

Sama juga orang tetap naik sepeda kendati sudah ada sepeda motor atau kereta kuda di London (Inggris). Hanya fungsi dan penekanannya yang berubah, makanya orang harus adaptif dengan perkembangan. Media yang mati tentu ada, tapi itu karena tidak bisa adaptif dengan situasi dan lansekap bisnis yang berubah.

Bagaimana perkembangan media massa seperti HousingEstate bila dikaitkan dengan bisnis properti yang melemah panjang? Mengaku bukan pakar properti, Tomi menyebut sektor properti juga kurang tanggap dengan perubahan pasar saat ini, karena nyatanya ekonomi tetap tumbuh tapi kenapa sektor properti melemah? Untuk itu dibutuhkan koreksi dan telaah ke dalam terkait apa yang paling dibutuhkan konsumen.

Cari produk yang paling tepat di antara lansekap bisnis yang tengah berubah. “Logikanya properti tidak mungkin lesu karena kebutuhannya masih sangat besar. Di sinilah bisnis properti dan media seperti HousingEstate ketemu, karena media itu medium untuk menyampaikan aspirasi. Selama ini mungkin ada yang nggak cocok. Daya beli berapa, developer jualannya tetap yang miliaran, jadi nggak ketemu. Harus terus serap aspirasi dan media itu mediumnya, apapun formatnya, mau cetak atau online. Yang penting content-nya tepat. Sekarang yang bertahan yang responsif, adaptif, dan mau berkolaborasi, bukan yang paling kuat,” jelasnya.