HousingEstate, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Basuki Hadimuljono, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Wakil Gubernur Jawa Barat UU Ruzhanul Ulum, meninjau pembangunan bendungan kering (dry dam) di Sukamahi dan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/12/2018).

Pembangunan dry dam di dua lokasi itu merupakan salah satu upaya pemerintah menata kawasan Sungai Ciliwung di bagian hulu, sehingga bisa mengurangi debit air yang masuk ke wilayah Jabodetabek saat musim hujan hingga 30 persen. Kedua bendungan itu akan kering saat musim kemarau dan akan tergenang saat musim hujan dengan daya tampung mencapai 8,13 juta meter kubik (m3). Jadi, bisa menahan aliran air dari hulu Gunung Gede dan Gunung Pangrango selama kurang lebih 4 jam sebelum mengalir ke Ciliwung.

“Progres pembangunan dua bendungan ini sangat baik, sehingga target beroperasi tahun 2019 bisa tercapai. Menurut Pak Basuki, per 26 Desember progres konstruksi bendungan Sukamahi mencapai 14 persen, Ciawi 9,22 persen. Pembebasan lahannya juga lancer. Dari kebutuhan 76,6 ha, sudah dibebaskan mencapai 31,73 persen,” kata Jokowi seperti tertuang dalam siaran pers yang diterbitkan Kemenpupera di Jakarta, Kamis (27/12/2018).

Selain penataan di bagian hulu, Jokowi juga menginstruksikan untuk terus melakukan penyelesaian penanganan di bagian hilir berupa normalisasi Sungai Ciliwung dan pembangunan sodetan. Secara khusus Presiden Jokowi menyebut pembangunan sodetan ini memerlukan peran aktif Pemprov DKI Jakarta termasuk pembersihan drainase, sungai-sungai kecil, hingga pemeliharaan waduk eksisting yang ada di Jakarta.

Sementara Menpupera Basuki menyebut, pembangunan dry dam ini merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir (flood control) Jakarta. “Tentunya pengendalian banjir ini tidak bisa hanya melalui upaya struktural atau pembangunan fisik, tapi juga kegiatan non struktural seperti kampanye penyadaran masyarakat, zonasi (tata ruang), dan pembuatan sumur resapan di setiap rumah,” katanya.

Pembangunan dry dam Ciawi memiliki nilai kontrak Rp757,8 miliar yang dikerjakan PT Brantas Abipraya-Sacna (KSO) dengan daya tampung 6,45 juta m2. Sementara dry dam Sukamahi nilai kontraknya Rp436,97 miliar dengan pelaksana PT Wijaya Karya (KSO) dengan daya tampung 1,68 juta m2.