HousingEstate, Jakarta - Collaborative working atau coworking space adalah tempat kerja yang mendorong kerja sama atau kolaborasi antar individu/komunitas dengan keahlian, profesi, bidang pekerjaan atau perusahaan yang berbeda. Mengutip qubicle.id dan sumber lain, sebagai bisnis istilah itu dipopulerkan pertama kali oleh developer Brad Neuberg saat menawarkan tempat kerja berupa delapan meja di Spiral Muse, San Francisco, Amerika Serikat, awal Agustus 2005, dilengkapi fasilitas makan siang sampai meditasi dan bersepeda bersama.

Konsepnya sendiri sudah muncul melalui pembentukan sebuah organisasi nirlaba di Jerman tahun 1995, kemudian dicetuskan Bernard Brian DeKoven tahun 1999 yang menegaskan, semua pekerja di coworking space itu setara, tidak mengenal atasan-bawahan seperti di kantor konvensional. Awal 2002 pusat komunitas wirausaha (entrepreneur) bernama Schraubenfabrik dibuka di Wina, Austria, yang disebut sebagai coworking space pertama di dunia.

Di Indonesia konsep coworking yang mengandalkan teknologi informasi (TI) sebagai infrastruktur utama itu, pertama kali diterapkan anak-anak Bandung melalui Hackerspace tahun 2010. Setahun kemudian konsep serupa muncul di kota lain seperti Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta, bersamaan dengan kian pesatnya perkembangan TI dan perubahan gaya hidup yang mengiringinya termasuk dalam kerja dan pekerjaan. Sejak itu coworking space menjamur sampai membentuk asosiasi Coworking Indonesia dan mengadakan konferensi pertama di Bali awal 2016.

Salah satu yang agresif mengembangkan coworking space di Indonesia adalah East Venture melalui EV-Hive (sejak akhir Juni berubah menjadi Cocowork, singkatan community, collaboration, workspace, yang merupakan aspek utama coworking space). Cocowork masuk ke Indonesia tahun 2015 dan kini menjadi jaringan coworking space terbesar dan lokasi terbanyak di Indonesia, mengelola lebih dari 21 oulet seluas 30.000 m2 dengan 3.000-an anggota dari 260-an bidang, profesi, keahlian dan institusi. Yoenazh Khairul Azhar, Halimatussadiyah, dan fotografer Susilo Waluyo mewawancarai Carlson Lau, Chief Executive Officer (CEO) dan Co-Founder Cocowork, di kantornya di Jakarta beberapa waktu lalu mengenai ekspansi cepat itu. Berikut petikannya.

 

Apa itu coworking space dan siapa Cocowork?

Cocowork didirikan di Indonesia tahun 2015. Juni 2015 kita mulai buka cabang (outlet) di seluruh Indonesia. Sekarang ada 21 outlet Cocowork seluas total 30.000 m2, sementara fokus di Jakarta (20 cabang) dan Medan (1 cabang), dengan sekitar 3.000-an member. Kita akan buka satu lagi nanti di Medan. Target kita tahun ini bisa punya 29 outlet. Coworking bukan hanya ruang atau perkantoran tempat kerja, tapi tempat berkumpulnya komunitas. Kita mengumpulkan orang dan mengenalkannya ke semua orang (yang beraktifitas) di tempat kita untuk berkolaborasi menggarap sebuah bisnis. Biasanya orang-orang muda yang lebih open, bisa sharing ide atau bisnis. Inilah yang terpenting. Jadi, coworking space bukan bisnis perkantoran tapi sharing of culture. Kulturnya dikembangkan dulu, orangnya harus open minded, baru terjadi kolaborasi dan kerja sama di ruang coworking. Kita juga mengajak perusahaan dari luar negeri untuk masuk ke tempat kita. Misalnya, kita (saat wawancara) lagi kedatangan tamu dari Taiwan nih. Mereka ingin mencari kolaborasi dengan perusahaan di sini.

 

Kenapa Indonesia?

Indonesia sangat spesial. Ada 59 juta perusahaan dan UKM (usaha kecil dan menengah) di sini. Itu dua kali jumlah perusahaan di Amerika Serikat yang hanya 30 juta. Di Indonesia kebanyakan UKM dan start up (usaha rintisan) itu punya hambatan terhadap akses ke permodalan, kemitraan atau perusahaan lain. Saya sangat yakin coworking space bisa berkembang di Indonesia karena banyaknya usaha kecil di sini yang tidak punya akses itu. Di Asia Tenggara saya rasa Indonesia paling potensial.

 

UKM di Indonesia kebanyakan berupa perusahaan informal, berbeda dengan negara lain seperti Singapura. Coworking space pun mereka mungkin nggak paham. Itu sudah dipertimbangkan?

Sudah. Karena itu kita punya banyak pelayanan, event dan seminar bagaimana bermigrasi dari informal ke formal, membantu start up membuat PT atau mengurus perizinan. Perusahaan harus formal karena berkaitan dengan pembayaran pajak dan bisnisnya bisa lebih cepat berkembang.

 

Total luas ruang coworking yang dimiliki Cocowork sekarang?

Hampir 30.000 m2 di 21 outlet di Jakarta dan Medan. Saat ini outlet terbesar di Plaza Mandiri, Jakarta, sebanyak empat lantai seluas masing-masing 1.374 m2. Paling kecil 450 m2 di Jl Kyai Maja, Jakarta Selatan. Untuk luasan sekitar 6.000 m2, kapasitasnya sekitar 1.100 orang. Suasananya tidak terlalu ramai karena ada yang datang dan pergi. Yang jelas lebih luas akan lebih efisien. Semua harus jadi anggota dulu untuk bisa kerja di Cocowork.

 

Tidak tertarik buka cabang di Surabaya atau Bali?

Tertarik juga, tapi belum. (Kalau buka di Bali) saya ingin juga jadi community manager-nya…he-he-he. Target kita tahun ini bisa punya 29 outlet, fokus masih di Jakarta dan Medan. Kita optimis karena pasarnya sudah terwujud.

 

Cocowork memiliki sendiri propertinya atau kerja sama?

Semua bentuknya kerja sama dengan pemilik properti (gedung) atau kemitraan. Waktu masuk ke bangunan (yang pemiliknya akan diajak bermitra), lebih penting bagi kita bisa bercerita dengan mereka (tentang prospek coworking space), bukan sewa aja. Minimal kontrak kerja samanya lima tahun. Kita lebih suka ruang yang luasnya minimal di atas 500 m2. Sejauh ini kita menggunakan gedung eksisting (yang sudah lama terbangun dan beroperasi). Mudah-mudahan nanti juga bisa masuk ke gedung baru. Tapi, lokasi outlet kita tidak harus di gedung perkantoran. Biasanya kita melihat dulu di situ sudah ada komunitasnya nggak. Di sekitar outlet juga harus ada banyak gedung lain seperti mall, residensial atau kantor lain.

 

Revenue sharing atau profit sharing dengan land lord?

Dua-duanya bisa, sangat fleksibel. Itu pentingnya kita ngobrol dengan land lord. Kita bisa ramah-tamah. Bisnis ini juga perlu jodoh. Kita masuk ke suatu tempat nggak mikirin (diri) kita saja. Ketika kita buka di kantor pos (Pasar Baru, Jakarta Pusat) itu, banyak orang datang lalu lihat-lihat sekitarnya, ada external community juga memanfaatkan. Kerja sama dengan PT Pos Properti di Pasar Baru itu agak beda karena itu gedung lama, lalu ada sejarah di sekitarnya, ada Pasar Baru, GKJ, dan lain-lain. Jadi, itu bukan daerah perkantoran, tapi kita berpikir mungkin bisa menarik anak-anak muda ke tempat itu.

 

Apa beda ruang coworking dengan warnet?

Kalau di warnet orang masuk lalu nggak ngomong dengan teman sebelahnya. Fokusnya main game, bukan membuat perusahaan. Di coworking komunitasnya beda, kita serius mengajak mereka membuat perusahaan (dan berkolaborasi).

 

Bagaimana menjaga agar coworking space nggak berujung jadi warnet atau sekadar tempat ngumpul-ngumpul?

Kita harus punya dua hal. Satu membuat event atau seminar untuk kumpulin orang, jadi semua bisa saling mengenal. Kedua, fokus di komunitas-komunitas dengan membuat program-program (yang dibutuhkan setiap komunitas untuk berkolaborasi). Jadi, orang datang ke sini serius untuk membuat bisnis.

 

Bagaimana mendorong komunitas mau berkumpul di coworking space?

Paling efektif dengan bikin workshop dan program. Kita bisa melihat karakter orang dan sesuaikan programnya. Di cabang kantor pos itu agak beda komunitasnya, lebih ke arah budaya dan seni. Suasananya agak beda karena banyak unsur sejarahnya.

 

Carlson lulus summa cum laude sebagai Tau Beta Pi Fellow the Jerome Fisher Program dalam Management and Technology Program, Wharton School of University of Pennsylvania, Amerika Serikat, dengan gelar bachelor economy dan bachelor of system science engineering. Setamat kuliah anak milenial ini menjadi eksekutif di berbagai perusahaan keuangan global dan nasional Goldman Sachs dan Morgan Stanley serta Saratoga Investama, sebelum membentuk, ikut memodali, dan kemudian menakhodai Cocowork.

 

Menurut anda Coworking space itu tren sesaat atau keniscayaan?

Saya bilang akan jadi mainstream dalam jangka panjang. Kalau lihat di Amerika sudah lima persen perkantoran dimasuki coworking space. Bukan hanya start up (yang membangun coworking space), tapi ada perusahaan lama yang juga berinovasi membuat coworking space, desain dan program (kantor)-nya seperti coworking space.

 

Apa yang mendorong itu?

Sekarang banyak orang lebih suka bikin bisnis sendiri, khususnya di Indonesia, tapi banyak yang tidak tahu caranya. Perusahaan-perusahaan (rintisan itu) juga pasti lebih kecil. Coworking space bisa membantu mereka.

 

Sibuk sekali ya anda?

Ya, sibuk sekali. HP saya nggak bisa berhenti (berdering). Kadang ada anggota kirim WA, kasih tahu ada hambatan.

 

Pengelola ruang coworking harus serba tahu?

Kita punya beberapa divisi pengelolaan dan setiap bagian ada pemimpinnya. Misalnya, divisi marketing, event, dan lain-lain. (PR Cocowork yang mendampingi Carlson menambahkan, setiap cabang Cocowork memiliki satu community manager yang akan membantu para anggota. Kalau masalahnya bisa diselesaikan di setiap cabang, ya sudah. Jika tidak akan dibawa ke tim yang lebih besar di Cocowork. Biasanya anggota ada yang perlu publikasi atau ingin meluncurkan produk dan perlu mengundang orang, Cocowork akan membantu menghubungkan. Bantuan dan jasa konsultasi itu gratis).

 

Kalau jadi anggota harus punya nama perusahaan?

Ya, sebaiknya begitu. Bisa nama pribadi kalau baru memulai bisnis atau freelancer. Profesional juga bisa, atau blogger yang butuh akses internet cepat. Industrinya makin banyak dan luas sekarang.

 

Apa fasilitas wajib di coworking space dan siapa yang paling menentukan kesuksesannya?

Akses internet wajib ada di coworking space dan paling penting di setiap outlet ada facility manager yang mengecek AC, kursi, meja, dan lain-lain. Hambatan di coworking space itu mencari orang yang bagus untuk mengelola (community manager). Di Asia, coworking kan baru berkembang tahun 2015, di Eropa sudah sejak 2010. Karena itu masih susah cari orang yang bisa memahami (bisnis coworking space).

 

Apa tidak kontraproduktif kalau macam-macam orang dari berbagai latar belakang kerja di coworking space, privasi mereka tidak terganggu?

Ada orang yang menyukai tempat yang agak berisik, ada yang lebih suka suasana sepi atau kerja sambil tiduran di bantal, kadang-kadang ada anggota yang suka pindah-pindah tempat duduk saat kerja, dan lain-lain. Kita mendesain (tempat kerja di Cocowork) untuk melayani semua (karakterisitik) orang itu. (PR Cocowork menambahkan, ruangan di Cocowork dirancang bermacam-macam selain yang konvensional berupa meja panjang terbuka atau ruangan tertutup untuk meeting dan pekerjaan yang butuh privasi. Ada berupa kursi ayunan, bangku bench untuk tidur dilengkapi stop kontak, ruangan yang dilengkapi massage chair, ruangan yang isinya tanaman sebagai area hijau, sleeping pot untuk yang mau kerja sambil tiduran, dan lain-lain).

 

Jadi, desain interior juga menjadi pertimbangan di coworking space?

Ya, kita punya tim desain interior. Kita melihat tren interior seperti apa yang layak dibawa ke sebuah outlet. Setiap cabang kita buat beda-beda desainnya sesuai konsep dan karakteristik daerah atau lokasinya.

 

Bekerja di coworking space memang memberi nuansa baru, tidak kaku seperti di kantor konvensional yang bersekat-sekat, lebih santai dan inspiratif, fleksibel, bertemu banyak orang dari aneka bidang profesi dan pekerjaan, yang membuka komunikasi, pertukaran ide dan mendorong kolaborasi. Tarif sewanya pun lebih terjangkau. Karena itu cocok bagi milenial yang digital minded, pekerja kreatif, perusahaan rintisan yang masih minim sumber daya, freelancer, dan sejenisnya yang menjadi pilihan kerja kebanyakan kids zaman now. Interiornya didesain menarik, unik, dan kekinian, dengan suasana cozy dan rileks, yang diharapkan bisa memicu inspirasi dan kreatifitas serta membangkitkan spirit bisnis.

 

Berapa sewanya kalau saya kerja di Cocowork?

Sehari Rp50.000 per orang dari pukul 08.00 sampai 20.00. Kalau langsung sebulan Rp1 juta. Fasilitasnya open desk, akses internet, minum kopi. Kalau fotokopi, itu fasilitas untuk yang nyewa satu ruangan, bukan yang meja terbuka. Setiap anggota dalam sehari boleh berpindah-pindah tempat duduk dengan tarif sama.

 

Untung nggak seharian lima pulu ribu perak?

Untunglah, perusahaan perlu untung (supaya sehat). Per hari kalau outlet kita kedatangan 40-60 anggota, kurang dari lima tahun itu sudah bisa BEP (break event point atau balik modal). Masing-masing tempat berbeda BEP-nya.

 

Sekarang target itu sudah tercapai?

Sudah terlewat. Pasarnya memang besar. Peluangnya besar.

 

Mitra anda senang dong?

Ya, senang. Biasanya setelah lima tahun bisa diperpanjang kontraknya. Kita bermitra memang bukan untuk sementara, tapi lama, jangka panjang.

 

Kalau sekarang orang pilih coworking space, nasib perkantoran konvensional bagaimana?

Ada sebagian perusahaan yang masih memerlukan ruang konvensional, misalnya yang bidangnya cenderung membutuhkan security. Di luar itu sudah saatnya ke arah coworking space. Ada perusahaan lama yang membuat konsep coworking space (di kantornya). Mereka ingin melihat anak-anak muda membuat start up. Gedung-gedung kantor konvensional bisa ditinggalkan orang dan nggak laku kalau tidak berubah.

 

Paling besar saat ini komunitas apa di Cocowork?

Tahun 2017 sekitar 72 persen yang bergabung jadi anggota start up company. Bidangnya, sekitar 15 persen advertising, creative atau marketing industry, 12 persen  marketplace, sembilan persen human resource, delapan persen data management industry dan consulting agency. Ada juga fintech, industri pakan ternak, restoran, bahkan juga karyawan bank dan perusahaan TI, karena kemacetan lalu lintas, kerja di Cocowork dulu, baru setelah itu (setelah jalanan lancar) ke kantor untuk meeting.

 

Sejauh ini yang jadi anggota memang berkolaborasi?

Ya, banyak. Kolaborasi untuk servis, produk, ke komunitas lain. Berjalan fungsinya. Kita banyak program. Kita ikutkan para anggota sebagai panelis dalam diskusi atau mentor dalam program.

 

Saran agar kerja di coworking tidak hanya jadi gaya tapi benar-benar produktif?

Setiap bisnis (yang jadi member di coworking space) perlu berkembang, tidak hanya buat foto-foto lalu ditaruh di Instagram. Bisnis berkembang, pribadinya juga ikut berkembang. Jadi, harus serius dalam bisnisnya, tidak hanya ingin (wantpreneur) tapi benar-benar dilakukan dan ada hasilnya (entrepreneur).

 

Siapa pesaing Cocowork paling besar?

Bukan sesama coworking space, tapi kantor konvensional. Masih banyak yang mentalitasnya belum berubah, maunya tetap masuk kantor (konvensional) yang banyak sekatnya. Kantor konvensional akan berubah, tapi masih lama.