HousingEstate, Jakarta - Semua bankir, konsultan, developer properti, dan pengamat menganjurkan kaum muda untuk langsung merencanakan pemilikan rumah begitu mulai bekerja. Alasannya, mereka tidak mungkin terus tinggal bersama orang tua atau ngekos. Selain itu di negara berkembang seperti Indonesia, harga rumah juga selalu meningkat lebih cepat dibanding kenaikan penghasilan seseorang. Terakhir, punya rumah sendiri juga penting bagi seseorang dalam hidupnya sebagai kebanggaan dan legasi bagi keluarga selain investasi jangka panjang.

Punya rumah sendiri membuat kamu punya nilai jual yang lebih baik di mata calon mertua sekaligus lebih percaya diri menjalani rumah tangga.

Cara paling mudah dan murah mendapatkan rumah itu adalah dengan fasilitas kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) dari lembaga keuangan. Konsumen cukup menyediakan sebagian kecil dari harga rumah dalam bentuk uang muka atau down payment (DP). Karena nilai uang muka itu bisa minimal, sejak awal bekerja konsumen bisa langsung menyisihkan sebagian penghasilannya untuk mengumpulkannya. Apalagi, sekarang untuk rumah tipe 70 ke bawah yang diasumsikan sebagai rumah pertama untuk dihuni sendiri, persyaratan depe-nya juga ringan, bisa 5-10 persen saja dibanding dulu yang harus 15–20 persen. Itu juga di banyak perumahan dan apartemen bisa dicicil 3-12 bulan, bahkan 36 bulan.

Masalahnya, menurut seorang bankir senior yang 20 tahun lebih bekerja di berbagai bank, umumnya kaum muda tidak menjadikan rumah atau hunian sebagai prioritas saat mulai bekerja. Mereka baru memikirkannya setelah menikah. ”Hampir seluruh nasabah KPR itu anak muda yang sudah menikah. Anak muda bujangan yang ambil KPR itu sangat sedikit,” katanya. Pertanyaannya sekarang, apakah memang lebih baik membeli rumah setelah berumah tangga atau saat masih sorangan?

 

Makin tak terjangkau

Semua bankir berpendapat, sebaiknya membeli rumah secara kredit saat belum berumah tangga. Alasannya, pertama, saat masih bujangan, pengeluaran belum banyak atau bisa dibatasi tidak terlalu banyak sehingga memungkinkan anak muda menabung uang muka rumah. “Memang tetap berat bagi anak muda yang baru mulai bekerja menyisihkan gaji untuk uang muka rumah. Tapi, beli rumah pertama (untuk ditinggali sendiri) memang harus sedikit dipaksa. Bahkan, untuk investasi pun lebih baik beli properti sejak dini karena kenaikan harganya pasti lebih tinggi,” kata Budi Satria, Direktur Consumer Banking Bank BTN, kepada housingestate.id, dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kedua, makin cepat membeli rumah makin bagus, karena di Indonesia harga rumah selalu naik lebih cepat dibanding peningkatan penghasilan seseorang. Jadi, kalau saat bujangan sudah punya dana untuk membayar depe, sangat baik segera merealisasikan pembelian rumah. “Kalau menunggu setelah menikah baru beli rumah, harganya mungkin sudah tidak terjangkau lagi oleh penghasilan anda saat itu. Apalagi, ketika itu pengeluaran pasti juga sudah makin banyak,” kata Heintje Mogi, Mortgage Product & Business Development Head Bank CIMB Niaga.

Ia tidak menampik, kebanyakan pekerja bujangan dengan penghasilan masih terbatas atau first jobber hanya mampu mengumpulkan uang muka yang terbatas pula. Jadi, yang mampu mereka beli juga rumah kecil kelas menengah bawah. Namun, itu tetap lebih baik karena harga rumah yang selalu cepat naik itu. Nanti pada tahun kesekian dan penghasilan makin baik, rumah murah itu bisa dijual dengan harga lebih tinggi. Uangnya dipakai untuk uang muka pembelian rumah yang lebih bagus. “Keuntungan dari kenaikan harga itu tidak akan kita nikmati kalau beli rumahnya baru setelah menikah,” tuturnya.

Bila rumah dibeli pada usia 26–27 tahun dengan KPR bertenor 15 tahun, kredit rumah itu akan lunas saat debitur berusia 41-42 tahun ketika karirnya masih panjang. “Jadi, rumahnya tidak harus dijual dan uangnya dijadikan depe pembelian rumah yang lebih besar. Bisa juga disewakan saja (untuk sumber penghasilan tambahan),” kata Ignatius Susatyo Wijoyo, Executive Vice President Consumers Loans Group Bank Mandiri. Untuk tempat tinggal sendiri, anda bisa mengambil KPR baru dengan uang muka lebih besar dan tenor lebih pendek.

Lebih pede menikah 

Supaya tidak memberatkan dan mengganggu gaya hidup mereka, kaum muda bisa membeli rumah pertama dengan KPR dari bank yang menawarkan bunga promo panjang, periode atau tenor kredit lebih lama, dan persyaratan uang muka ringan. Banyak sekali bank yang menawarkan KPR yang memenuhi kriteria itu saat ini. Majalah HousingEstate kerap mengulasnya di rubrik Homeloan selain di portal ini. Contohnya, KPR Milenial dari Bank Mandiri dengan cicilan berjenjang mengikuti peningkatan penghasilan debitur (peminjam), tenor hingga 30 tahun, dan bunga promo rendah fixed (tetap) hingga lima tahun. Kemudian KPR Gaeess dari Bank BTN, dan KPR Gue dari Bank BNI dengan fitur kurang lebih serupa.

Ketiga, membeli rumah saat bujangan juga memungkinkan kita mengambil keputusan cepat menyangkut jenis hunian, lokasi, harga, cara bayar dan lain-lain sesuai preferensi masing-masing. Preferensi itu memang belum tentu cocok dengan pasangan saat nanti sudah menikah. Rasa memiliki pasangan terhadap rumah juga mungkin tidak besar karena merasa tidak berkontribusi terhadap pemilikannya. Namun, menurut Heintje, hal itu bisa diatasi dengan menjual rumah setelah kreditnya lunas atau berjalan sekian tahun. “Harganya pasti sudah naik tinggi. Uang hasil penjualannya bisa digabung dengan pasangan untuk beli rumah yang disepakati bersama,” ujarnya.

Keeempat, membeli rumah saat masih bujangan juga akan membuat anak muda punya nilai jual yang lebih baik di mata calon mertua saat menikah, sekaligus lebih percaya diri menjalani rumah tangganya, karena saat itu sudah punya aset lumayan berupa rumah yang terus meningkat nilainya.

Memang bagi yang belum memiliki tabungan yang cukup untuk melunasi uang muka, membeli rumah setelah menikah mungkin justru menjadi pilihan yang lebih bagus. Anda berdua bisa menggabungkan penghasilan (joint income) untuk mendapatkan rumah yang layak. Bebannya jadi lebih ringan. Dengan membelinya secara urunan, anda berdua juga punya rasa memiliki yang kuat terhadap rumah yang dibeli yang ikut menopang ikatan perkawinan. Sekarang terpulang pada kamu, mau membeli rumah setelah menikah atau saat masih sorangan?